Selasa, 03 November 2015

Sehalus sutra…..
Pernah kah kau menyentuh  kain sutra ?
halus dan lembut bukan ? ya,  halus dan lembut.
Dapat dipastikan hampir  bahkan semua orang menyukai kelembutan yang kain sutra miliki.
Jika kelembutan kain sutra saja bisa begitu mempesona, bagaimana jika  sikap kelembutan itu dimiliki oleh seorang manusia bahkan menjadi karakter utamanya.  Kemungkinan besar ia akan selalu dikelilingi oleh orang-orang karena tak ada manusia yang tak menyukai kelembutan.
Karakter lemah lembut yang ada dalam segala hal serta hal apapun secara tidak langsung akan menjadi perhiasan diri yang tak tersadari. Ketika  sikap itu sirna, maka yang mendominasi hanyalah keburukan yang gelap. Senyuman yang selalu mengembang, kata sopan yang tertutur dengan baik dan tak bermaksud melukai. Merupakan cerminan pribadi yang baik dan menyenangkan. Itulah seharusnya sifat seorang muslim, laksana seekor lebah .
ya, seperti seekor lebah yang selalu mengkonsumsi yang baik dan menghasilkan yang baik pula. Dan jika seekor lebah hinggap pada sekuntum bunga, ia tak akan pernah mematahkan tangkainya. Keren bukan ? harusnya begitulah sifat seorang muslim. Tak  pernah ingin meninggalkan luka untuk saudaranya, baik dalam tutur kata, perbuataan, bahkan sangkaan. Hal ini di lakukannya atas dasar keyakinan bahwa Allah Maha Lembut dan Maha Mengetahui.
Untuk orang yang  selalu berlemah lembut, Allah menganugrahkan kelebihan yang tidak di berikan kepada orang yang bersifat keras dan kasar.  Diantara banyaknya mereka, ia yang selalu dinanti kedatangannya, di rindu kehadirannya, dan di harapkan keberadaannya, karena perkataannya sejuk bila di dengar dan mampu menghapus gundah gulana serta lara. Itulah ia pemilik kelembutan.
Orang yang lemah lembut tentulah memiliki banyak teman yang setia. Dalam sebuah buku disebutkan bahwa banyaknya teman yang setia adalah seni yang bisa dipelajari dari mereka yang beriman, baik, dan pandai. Mereka selalu menjadi buah bibir karena kebaikan-kebaikannya. Dan mereka mampu menyerap kebencian dalam diam  dengan seribu doa kebaikan.  right ?
Hasil gambar untuk dunia kritikHey….hey…hey
apa kabar ? selalu kabar baik yang diharapkan namun sayang, apa yang diharapkan tak selalu jadi kenyataan. Upsss saya mulai melancholic. Hehe
okey, saya akui mulai kemaren saya melancholic. Rasanya gak nyaman,sungguh.
Dan dari rasa gak nyaman ini, saya mulai melirik laptop acer biru yang tersimpan rapi didalam tas.
Saya rasa, saya harus menulis. Rencananya sih tulisan ini untuk memotivasi diri sendiri, tapi jika bisa memotivasi orang lain kenapa engga gitu kan ya ? hehe
Saya mulai.
Didalam hidup ini kita akan selalu menemukan masalah, baik masalah skala kecil maupun masalah skala besar  karena skalanya saja berbeda tentulah penanganannya juga berbeda. Dan potensi munculnya masalah itu bisa dari mana saja, termaksud dari kata-kata yang terucap.
Pernah dengar “mulut mu,harimau mu” ? itu tuh kata-kata yang ada di iklan dulu.
Saya pikir benar juga tuh iklan, harimau itu kan bisa menerkam kan ya ? begitu juga dengan mulut yang mengeluarkan kata-kata, bisa jadi kata-kata itu menerkam kepercayaan diri seseorang. Yang awalnya kepercayaan dirinya fine eehhh tiba-tiba jlook. Jatuh.
Hal ini merupakan masalah.
Masalahnya  yaa  apa yang harus kita lakukan saat berada diposisi seperti itu dan bagaimana kita untuk berdiri lagi saat berada di posisi itu kan ya ? karena jatuh pasti terasa tak enak.
Mungkin yang pertama dilakukan adalah Perbaiki niat. Apakah kita membangun kepercayaan diri untuk mendapatkan pujian manusia , ingin dilihat manusia? apakah kita membangun kepercayaan diri karena asas manfaat ? jika karena itu lekas perbaiki niat, karena landasan niat seperti itu sungguh lemah. Kenapa ? jika hanya ingin mendapat pujian manusia, sedangkan tipe manusia itu bermacam-macam dari sudut pandangnya, tentulah sering kali kita mendengar kata-kata yg bertentangan dengan ide yang kita ajukan. Nah lo, jika sikon ini kerap kita temui ,lama kelamaan kepercayaan diri kita terkikis tanpa ampun. Lalu, karena asas manfaat ? idih, ini mah juga landasannya sangat lemah.  Kalau didalamnya tak ada manfaat lalu gak membangun kepercayaan diri gitu ? lama kelamaan juga terkikis sampai habis. Ngeri ya ? hehe
makanya, cari landasan membangun kepercayaan diri itu yang kuat sehingga walau badai datang menghadang, walau angin bertiup kencang, walau ombak di lautan meradang, walau walau walau apapun itu, kepercayaan diri kita akan selalu kuat. Kuat karena landasannya kuat. ALLAH. Dengan Allah, dalam kondisi apapun semuanya baik, dalam kondisi apapun semua ada hikmahnya.
Selanjutnya perbaiki kualitas pemahaman. Belajar dan terus belajar. Apapun itu, baik pengetahuan umum maupun khususnya pemahaman Islam. Dengan kualitas pemahaman yang rendah, semua terasa sulit, bagaimana gak sulit coba, jika masalah terus berkembang  sedangkan pemahaman kita itu-itu saja, yaaa K.O. lah kita di buat. Hehe
Selanjutnya berani menerima kritik. Ini nih yang bisa bikin ekspresi wajah memerah, meungu,membiru bahkan memutih.hehe just kidding.
  Tidak semua orang bisa menyampaikan kritik dengan baik, bahkan saya sendiri. Kadang kata-kata yang mungkin bisa meyakiti hati terucap tanpa atau dengan sengaja. Tapi inilah dunia kritik. Rentan salah kata, rentan salah ekspresi.  Kita yang berada didalamlah yang harus pinter-pinter memilih dan memilah kata, kita yang berada didalamlah yang harus pinter-pinter bentuk ekspresi wajah. Saat memberi kritik upayakan kita tak meyalahkannya, hanya memperbaikinya saja. Mungki bisa kalimat awal ucapkan kata “maaf” terlebih dahulu. Serta  Jaga intonasi, karena intonasi yang tinggi rentan memercikan api emosi yang dapat membakar baik yang memberi kritik maupun yang menerima kritik. Rumit yaaa ? namun tenanglah hal ini tak sesulit yang kita pikirkan kok walau juga tak semudah yang kita bayangkan. insyaAllah. Tetap lakukan perbaikan dalam dunia kritik dan yakini firman Allah “ maka sesungguhnya bersama kesulitan itu akan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu akan ada kemudahan”. Cukup.
Okey, semoga bermanfaat  sis and bro
 

twitter

https://twitter.com/tina_mareta