Selasa, 05 Mei 2020


Rindu Mihrimah

Tumbuh karena sesuatu yang patah, rindu yang hantarkan aku padaNYA

Ternyata pohon beringin tak selalu bercerita tentang suasana horror nan mistis dengan istilah penunggu beserta bayang-bayang perempuan panjang berbalut busana putih dengan kaki tak sampai menyentuh bumi. Tidak selalu horror, setidaknya bagi dua wanita yang berusia sama-sama 23 tahun ini. Mihrimah dan Gita. Kedua perempuan ini memiliki tinggi yang hampir sama, Mihrimah 158 cm dan Gita 8 cm lebih rendah daripada Mihrimah, kedua perempuan ini sama-sama menggunakan kerudung, Mihrimah berwarna merah maron dan Gita berwarna cream. Dan kedua perempuan ini sama-sama pernah bersekolah di tempat yang sama, yakni disini, disebuah sekolah yang ditengah-tengah area lingkungan sekolahnya terkenal dengan sebuah pohon nan rindang berdedaunan hijau ,SMPN2 Tanah Grogot.
“ Ta, mungkin gerembulan anak-anak SMP itu akan bingung melihat kita disini” Mihrimah berucap sembari memandang lurus kedepan,tempat dimana anak-anak SMP itu berkumpul, mereka pun berteduh di sebuah pohon ketapang, duduk-duduk di akar pohon sembari melakukan perbincangan ala-ala anak SMP, sekali-kali mereka tertawa dengan gelak dan juga sekali-kali dua diantara mereka saling mengejar, oh…rupa-rupanya,dalam perbincangan tersebut mereka menyelipkan olokkan juga candaan.
“mungkin, tapi kitakan yang lebih dulu disini, 11 tahun yang lalu” Jawab Gita sekena nya lalu ia tertawa kecil kepada Mihrimah, pun juga begitu Mihrimah.
“Apa kau masih mengingat tentangnya dan ini semua, Mihrimah ?” Tanya Gita
Kata ‘nya’, yang dimaksud Gita, Mihrimah tahu sekali. Merujuk kepada seseorang, yang dulu ikut berotasi didalam kehidupannya, membuat ukiran senyum di wajahnya dan meninggalkan sebuah pembelajaran karena kepergiannya. Secara tidak langsung menghantarkan Mihrimah kesebuah jalan yang tidak seperti biasanya. Jalan-jalan terang, di tengah kalapnya pemahamannya. Intinya, jalan yang sangat disyukurinya kelak.
Dan lagi,bukan malah menjawab pertanyaan Gita, Mihrimah justru  tersenyum mengingat masa-masa SMP nya. Setitik lubang lesung pipit di dagunya terlihat dengan tambahan bola mata yang mulai berkaca.
“masih Ta, aku masih ingat semua”

***
Juli 2006. 11 Tahun yang lalu.

Selasa, 14 Januari 2020


UNTUK MU 180
Rindu MihrimaH
Salam untuk mu, assalamualaykum
Aku ingin kau tahu, aku rindu….

Sebuah janji membuat tangan ku terulur dan niat yang menggembung. Tentang apa yang dikatanya, tentang sebuah pesan terusan yang akan di teruskannya, hanya itu, tak menjanjikan apa pun lagi, bahkan katanya jika tak berhasil, tak usah sedih lagi, namun tugas mu coba lagi. Hmm… menarik nafas, tentu, karena kurasa pun ia tahu tentang bagaimana mengawali. Tertantang, namun apa salah nya jika ku coba, toh dalam takdir yang sedang ku jalani ini aku sedang mendapat tugas menunggu, menunggu seorang asing yang aku tak tahu. Aku ingin mmembawa dia kepikiran ku, dan kau tahu ? banyak hal yang sudah aku pikirkan, Alhamdulillah, bukan hanya tentang diri ku, tapi tentang beberapa orang yang di wajibkan kepada ku. Di amanahkan kepada ku lalu kau ? ikut hadir pula ? yaa Allah… ku mohon, sembunyikan ia dari pikiran ku, setidaknya seratus dua puluh hari ke depan. Jika itu telah tiba atas izin Mu, duhaai Raahmaan, biarkan aku membuka kado.Hehe.
.
.
Day 1 : Kisah Negeri Ajaib

Membuka laptop dengan pembuka kata, kedip-kedip mata, cap-cap kan mata, tak mdah memang menatap layar di ujung senja, setelah beraktivitas sepanjang hari, membawa tumpukan buku dengan jumlah dua puluh lima an , setiap buku berisi banyak point, secara garis besar terbagi menjadi tiga terlebih dahulu, tentang Akhlak di pagi hari, tentang aktivitas di tengah hari, dan tentang akhlak di sisa hari. Setiap garis besar berisi delapan sampai tujuh aktivitas. Angka satu untuk melaksanakannya dan angka nol untuk tidak melaksankannya. Oh ya, aku pernah mengisahkan tentang hal ini kepada mereka.
Begini kisahnya “ pada zaman dahulu kala, di negeri serba ajaib, semua serba ajaib, setiap benda ajaib, setiap orang bisa melakukan hal-hal yang di luar kemampuan mereka intinya mereka ajaib, karena mereka memiliki sihir yang wah yang membuat mereka semua serba mudah. Jika mereka ingin madu, mereka ucapakan kata dan taraaa madu itu ada. Jika mereka ingin pergi tanpa melangkahkan kaki dan taraaa mereka sampai dengan tujuan tanpa tapi. Menyenangkan sekali bukan dunia ajaib ini ? pasti. Namun hal ini tidak berlaku dengan seseorang ini. Karena apa ? Ia tak memiliki kemampuan ajaib seperti kebanyakan orang di negeri ajaib ini. Dan yang lebih menyakitkan lagi, dia adalah seorang pangeran di negeri ajaib tersebut. Tentu saja, ia menjadi sorotan tiap masyarakat di negeri ajaib itu. “kasihan sekali,padahal ia adalah anak raja dan ratu yang hebat di negeri ajaib ini” begitu bisik-bisik tiap orang dalam memandangnya. Dan dengan tertunduk lesu, sang pangeran selalu mendengarkan hal ini. Hal ini membuatnya sedih, mengapa ? karena ia berbeda dari orang lainnya. Sampai pada suatu hari, di bangunnya pagi , ia katakana pada diri, bahwa diri ku adalah yang terbaik dalam diri ku. Secerah cahaya pagi seperti itu pula warna semangatnya, sehangat terik pagi seperti itu pula hangat senyumnya. Ia memuutuskan akan merubah dirinya. Jika ia tidak terlahir seperti orang ajaib maka biarkan dia yang mmemberikan keajaiban. Begitu katanya dengan senyum tekulum di wajahnya.
Maka, pergilah ia membuat sebuah buku, buku yang berisi ragam aktivitas dalam dirinya, buku yang berisi prilaku-prilaku terpuji untuk manusia pada umumnya, misalnya, berbicara sopan kepada sesama, antri saat berada dalam banyak ragam manusia, atau tersenyum dan berkata pujian serta nasehat kepada kawan, lalu membersihkan diri tepat pada waktunya dan banyak lagi banyak hal-hal positif yang di tulis sang pangeran dalam bukunya. Ia terus menggunakna bukunya, angka satu untuk aktivitas yang ia lakoni dan angka nol untuk aktivitas yang ia tidak lakoni.
Beberapa hari berlalu, sang pangeran masih dengan rutinitas aktivisat kebaikan-kebaikan yang telah ia tuliskan di dalam buku itu. Hingga bulan terlalu berlari jauh, sampai pada tahun, tahun pun ikut serta melompat jauh, kini pangeran telah berusia  dua belas tahun. Enam tahun telah berlalu. Buku masih dan akan tetap terisi angka satu. Pangeran tumbuh dengan sosok penuh kebaikan dan kedisplinan yang luar biasa tinggi. Kemampuannya di akui karena bisa tanpa sebuah sihir. Jika orang ajaib bisa bertemu dalam sekejab dengan sihir untuk menemukan informasi, maka si pangeran membuat hp untuk mempermudah informasi. Jika orang ajaib  bisa langsung makan tanpa membuat makanan dengan sihir, maka si pangeran membuat makanan instan tanpa membuat makanan dengan lebih ribet.
Berkat kedispilinannya, pemikiran dan ide kreatif pangeran berjalan dengan sangat maksimal, pangeran juga memiliki tubuh yang sehat karena melakukan semua- mua nya dengan menggunakan anggota tubuh, berbeda dengan para masyarakat ajaib pada umumnya, mereka terlihat lemes karena jarang menggunakna anggota tubuhnya bergerak, bahkan ada yang kaku saat menggerakkan kaki untuk berjalan, apalagi berlari, ciih boro-boro. Ternyata sihir membuat mereka menjadi orang yang pemalas.
Hingga suatu hari, bencana dan wabah menyerang negeri ajaib, wabah yang membuat semua kemampuan ajaib di negeri ajaib hilang, sihir mereka lenyap di sedot wabah hitam, di  tenggelamkan di tempat semua planet terkubur dan terbuang. Negeri ini terguncang namun dengan bijak raja dan ratu memberi penguatan dan nasihat untuk menjalani hidup tanpa sihir.
Raja dan ratu serta segenap masyarakat negeri ajaib meminta dan memohon kepada pangeran agar sekiranya meminjamkan bukunya untuk di gunakan oleh mereka. Agar mereka ingin belajar menjalani hidup tanpa sihir dan mereka telah melihat seseorang bisa hidup tanpa sihir bahkan menjadi luar biasa disiplin sama seperti sang pangeran nan sehat dan cerdas.

Anak-anak murid ku bertepuk tangan saat mendengar kisah ku, yupz, tentang ini, tentang buku mutabaah yang salalu aku isi setiap hari. Sangat lucu bukan ? sekarang anak-anak sangat menyukai buku mutabaah tersebut, kata mereka “ in adalah buku pangeran”. Hehe. Agar kalian tahu saja ya, bahwa buku ini, buku mutabaah merupakan buku penghubung antara guru dan orang tua. Guru mengisi aktivitas anak-anak saat di sekolah dan orang tua mengisi aktivitas anak-anak saat di rumah. Bekerjasama lewat buku. Jika dahulu anak-anak selalu memandang buku ini adalah buku ‘pengaduan’ antara guru kepada orang tuanya atau antara orangtua kepada gurunya, maka kali ini, mereka memnadang bahwa ini adalah buku seorang pangeran yang awal mulanya di anggap biasa saja hingga akhirnya menjadi seorang pangeran yang sangat luar biasa, seseorang yang mampu merubah hal biasa menjadi hal luar biasa dengan usahanya. Begitulah kisahnya, kita semua mampu membuat berbagai keajaiban dengan kedisiplinan.

Sekian Day 1 Untuk mu.

Rabu, 01 Januari 2020


Simpul Masehi

Bersungguh-sungguhlah dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah…Shahih Muslim

Tak ada yang tersia, begitu bisik ku, tiap kali berada di ujung jalan yang terasa buntu lagi gelap. Namun tak apa, jalan tetaplah sebuah jalan, ia akan menghantar pada akhir, bukan ?
Dan kini, aku berada di seperempat abad waktu Indonesia tengah. Sungguh, waktu berlari begitu cepat, meninggalkan jalan yang masih segar rasanya di ingatan. Dimana orang-orang lalu lalang hulu hilir menorehkan kisah. Kali ini, izinkan aku menyampaikan simpul masehi di sembilanbelas ini.

Jika ada ada seseorang yang menunggu mu, menatap ke arah mu, lalu tersenyum padamu, maka ia lah orang yang sangat menyayangi mu, sangat, bahkan rela membawamu kedalam tanggung jawabnya, berhadap langsung pada Tuhannya. Ia lah ayah mu. Yang doanya begitu terucap sampailah pada ujung langitNya, melintas pesat melewat sisi-sisi takdir yang terangkum dalam lauhuf mahfudz Nya.

Apakah itu jawaban yang cukup tuk menjawab pertanyaan mu Nah ?

Tahun ini, aku bertanya tentang apa itu takdir ? apa itu kesempatan ? dan apa itu cinta ? ayolah, ini adalah pertanyaan yang cukup normal disaat ini. Aku  sedikit malu tapi inilah pertanyaanku. Hehe.
Setiap kita di berikan dua area yang dengannya berarti kau sedang hidup di dunia yaitu area yang dapat di kuasai dan area yang tak dapat di kuasai. Kau tak dapat memilih terlahir dari ayah dan ibu mana bukan ? lalu saat malam minggu kau bisa memilih akan pergi ke masjid atau ku Kafe atas izinNya bukan ? itulah gambaran dua area. Tak ada perhitungan tuk area yang tak dapat di kuasai tapi tidak dengan area yang dapat di kuasai, dengannya ada hisab, ada standar hukum syara dalam tolok ukur perbuatan lagi didalamnya ada balasan walau sebesar atom pun.

Tak mudah memang memahami semua hal dengan logika namun tak mudah pula bila semua berukuran logika, libatkanlah Allah atas segala hal.  Yap, libatkanlah Allah. Itulah yang menjadi titik terang dalam tiap tanya ku di tahun ini. Tentang takdir, kesempatan, dan cinta. Deretan kisah ini menyeretku dalam ingatan lalu, saat hujan dan aku terguyur didalamnya, menatap langit, mengayuh sepeda, dan bicara dengan banyak mimpi walau adik ku protes,namun ku katakana “Allah tidak akan merendahkan hamba yang menerima takdirNya”. Aku masih sangat labil waktu itu, kini ilmu itu adalah tentang berbaik sangka pada Allah. Alhamdulillah. Itu lah takdir.

Lalu bagaimana dengan kesempatan ? bukankah aku selalu merasa terlambat dalam mengambil kesempatan? ku akui, semua terangkum dalam proses. Semakin kau banyak belajar maka semakin kau cepat mengambil kesempatan, walau telah gagal kau kan tetap melihat kesempatan itu tetap ada. Kesempatan adalah bagian dari orang-orang yang mau tetap bersabar dalam tiap ikhtiarnya, ia tak akan pernah melupakan Tuhan nya, tak akan, bukankah bersama Allah tiap ujung harapan ? kalaupun kau tak dapatkan maka cukup tutup mata mu, mudah mudahan inilah kesempatan itu. Kita tak pernah tahu baik dan buruk sebuah kesempatan bukan ? Lihatlah manusia yang memiliki batas dan kita adalah manusia. Aku tak mengajarkan diri ku menyerah tapi aku mengajarkan diriku berusaha sampai akhir kemampuan, jika selesai,  maka di depan adalah yang terbaik.

Cinta ? duuhh, inilah sebuah kata yang seribu pujangga pun tak habis menafsirkannya, tak ada definisi yang sempurna tuk cinta dalam berbagai peristiwa, tak ada pula pengertian yang paling akurat jika tertuju pada manusia. Lagi, manusia itu mudah sekali labilnya, mudah sekali tergoda dan lalainya, kecuali manusia yang taat pada Rabb-nya. Duhaai Allah yang maha penyayang, sayangilah daku. Aamiin

Libatkanlah Allah atas tiap pertanyaan, karena itu akan menghantarkanmu pada jawaban.

Segala puji hanya untukMU Tuhan seluruh alam yang maha pengasih lagi maha penyayang nan maha agung lagi bijaksana. Salam selalu tercurah pada engkau wahai nabi Allah, Muhammad yaa habibi. Jadikan apa yang di hidup ku ini penuh dengan keberkahanMU lalu jadikan aku sebaik pelajar yang mampu belajar dari kehidupan yang telah di beri kemudian izinkan aku menceritakan dan menuliskan, hingga mereka tahu, sungguh, KAU Maha Baik.


Ditulis, 31 Desember 2019
Berharap Ridho MU
Martinah

Senin, 09 Desember 2019


Guru
Ibu Dua Warna
 MihrimaH

November telah tiba dengan beberapa pernik yang melengkapinya, salah satu dari pernik itu adalah hari guru. Warna guru memang tak ada habis nya untuk di bicarakan, lihat saja , semua orang hampir pernah sekolah, sedikit sekali bukan orang yang tidak sekolah ? dan disekolah ada berbagai komponen, salah satunya guru.
Dari sumber Dapodik 2019 yang diolah oleh Bang Imam Berbagi menyebutkan bahwa jumlah guru di Indonesia sebesar 2.755.020 . Dan dari jumlah tersebut, berdasarkan jenis kelamin, hampir seluruh jenjang didominasi oleh perempuan. Bila dipersentasikan, sebanyak 64,35% merupakan guru berjenis kelamin perempuan. Karena jumlah guru perempuan saat ini mencapai 1.773.034 orang. Angka yang besar dengan dua warna, sebagai tauladan bagi murid-muridnya dan sebagai pendidik utama dan pertama bagi buah hatinya.
Sebagai “ibu guru”, keberadaan dan perannya amat menentukan keberhasilan pendidikan. Guru sebagaimana diketahui adalah tenaga pendidik yang bertugas membimbing, mengajar dan melatih hinga guru memegang peranan sebagai mediator dalam proses belajar. Artinya guru sebagai perantara dalam usaha untuk memperoleh perubahan tingkah laku siswa.
Sebagai seorang ibu untuk buah hatinya, perempuan juga memiliki peranan penting. Seorang penyair Hafidz Ibrahim mengatakan dalam syairnya, “Seorang ibu adalah madrasah”,  yaitu madrasah pertama bagi anaknya. Betapa pentingnya madrasah pertama itu. Karena yang pertama adalah yang paling dasar. Seseorang tidak akan mungkin mencapai puncak jika ia belum bisa mencapai dasar. Itulah pentingnya seorang ibu.
 Di era saat ini, banyak sekali seseorang yang terpaksa harus melakukan peran ganda karena desakan ekonomi. Melejitnya dan melambungnya harga kebutuhan pokok membuat seorang perempuan pun ikut membantu dalam menyumbang pemasokan ekonomi rumah tangga. Hingga menjadikan profesi guru sebagai pemasukan. Tentu saja ini adalah niatan yang keliru walau sulit sekali lepas dari relita yang ada. Aturan dan kebijakan  yang tak pro dengan rakyat membuat  niatan tulus mendidik di “senggeolkan” dengan kebutuhan pribadi.
Jika kita berkaca pada peradaban islam, kabar dan suasana pendidikan  tak pernah lepas dari peran perempuan yang berhasil melahirkan ilmuwan-ilmuwan dari “rahim perut” dan  “rahim persekolahan”. Dan hal ini bukan didasarkan karena desakan ekonomi karena sistem ekonomi islam dengan peraturannya akan memudahkan tiap masyarakatnya  memenuhi kebutuhan sehingga para guru perempuan mampu memaksimalkan kemampuan sebagai ibu dua warna yang mencerdaskan.
Pada generasi Islam ke-2, sejarah pun menampilkan aksi-aksi kaum perempuan di ranah publik. sebut saja, Rabi’ah al-‘Adawiyah (Guru Sufi), Sayyidah Nafisah (sahabat sekaligus guru Imam al-Syafi’i) kemudian ada lagi  tokoh perempuan dalam ranah nasional yang bergerak dibidang perempuan seperti Dewi Sartika, R.A. Kartini, Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam, Maria Ulfah Santoso,Pratiwi Sudarmono, Mien Uno dan sebagainya.
Peran perempuan dalam pendidikan pun menentukan peradaban suatu bangsa dan agama. Lewat pengajaran ilmu-ilmu agama umat bisa memahami, meyakini, dan mengamalkannya. Di antara banyaknya cendekiawan tentu ada segilintir kaum perempuan yang ikut dalam mengembangkan dan mencerdaskan umat dan bangsa. Adanya pengakuan posisi dan peran perempuan baik oleh nash-nash Islam, ataupun dalam sejarah, mendorong para founding father bangsa untuk menerjemahkan peran “mencerdaskan kehidupan bangsa”.  Marilah kita bersama mewujudkan kecerdasan spiritual, emosional, dan intelektual demi menyosong tantangan baru di abad ini dengan aturan islam.


Minggu, 22 September 2019


KELUARGA
"Layanan Satu Pintu Keluarga Berbasis Anak, Solusikah untuk Keluarga?"
MihrimaH


Keluarga adalah sebuah ikatan kecil dari banyaknya ikatan yang akan ikut berperan dalam sebuah negeri. Selaras dengan hal ini, tak mengherankan jika ingin memperbaiki suatu kualitas suatu bangsa maka kualitas keluarga juga harus menjadi perhatian penting. Belum lama ini, tersirat kabar akan danya layanan satu pintu atau 'one stop service' yang bernama Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Ruhui Rahayu di kalimantan timur.
Pusat layanan satu pintu keluarga ini berbasis hak anak yang berguna memberikan solusi bagi orang tua dan anak dalam menghadapi berbagai permasalahan.

"Layanan ini satu pintu atau 'one stop service' ini bernama Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Ruhui Rahayu," ujar Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Provinsi Kaltim Halda Arsyad di Samarinda, Rabu.Pembentukan layanan Puspaga disebabkan karena banyaknya permasalahan keluarga yang kerap terjadi seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan, perselingkuhan, masalah anak berhadapan dengan hukum, masalah orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, dan lainnya.

Menurut dia, permasalahan dalam keluarga dapat memicu keretakan dalam rumah tangga yang sering berdampak terhadap anak, terutama pada pola asuh dan tumbuh kembang anak, sehingga pusat layanan ini diharapkan bisa menjadi pusat konsultasi masyarakat untuk mencarikan jalan ke luar.

Melalui Kementerian Dalam Negeri Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa
Jumlah Penduduk Dan Kepala Keluarga indonesia, diketahui bahwa jumlah penduduk dan keluarga indonesia terdiri dari 54.935 dan merupakan angka yang besar dengan berbagai masalah yang tercatat dalam berbagai macam, mulai dari kasus anak hingga retaknya rumah tangga serta seperangkat hal lainnya.

Tingginya berbagai kerusakan yang mengancam sebuah keluarga dikarenakan memang kita tidak berada dalam hukum islam, dimana saat ini kita berada disistem sekularisme, yakni  sebuah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Berbeda dengan sistem islam yang memandang semua harus sesuai dengan aturan Al quran dan As Sunah.

Dalam aturan agama Islam terdapat banyak pembahasan tentang hidup rumah tangga. Keluarga dalam biduk rumah tangga memiliki banyak hal yang perlu dibahas. Salah satunya, tentang pendidikan agama anak. Dewasa ini, kita menyaksikan banyak kejadian-kejadian ganjil yang menimpa putra-putri kita di Tanah Air. Tak jauh dari hal negatif, seperti tawuran antarpelajar, hubungan di luar nikah, pergaulan bebas, dan bahkan pengaruh narkotika yang berbahaya.

Hal-hal dan perilaku negatif tersebut perlu dicegah. Pencegahan yang kondusif dan yang paling utama dilakukan adalah dari keluarga. Keluarga yang baik dan terarah adalah keluarga yang mampu menjadi penawar di saat ada masalah. Keluarga yang harmonis akan mampu mendamaikan hati anggota keluarga dari segala hiruk pikuknya dunia. Keluarga adalah tiang utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan keluarga yang dapat melakukan ini tentunya adalah keluarga yang mengikat diri mereka terhadap aturan islam.

Kamis, 19 September 2019


Catatan September “Kabut Asap Paser Adalah Duka Masyarakat Paser”
MihrimaH

Tepat dihari minggu, 15 September 2019 yang lalu, kabut asap menyerang sebuah wilayah di bagian deretan ujung kalimantan timur, Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Hingga pukul 08.45 Wita kabut masih tetap bertahan disertai bau asap yang pekat. Tak ayal sampai disitu ternyata kabut asap menyerang celah-celah tiap wilayah di Indonesia. Masyarakat Indonesia kini di uji dengan kondisi musim kemarau beserta efek hasil dari perbuatan manusia yang memanfaatkan moment untuk kepentingan diri sendiri.

Hingga hari ini pun Rabu, 18 September 2019 suara sirene pemadam kebakaran terus bergema, menandakan kejadian kebakaran dimana-mana. Sejalan dengan fakta yang ada, tercatat dari awal September ini di Paser ada 52 kasus Karhutla. Dengan total ada 93 hektare yang terkena dan yang paling banyak ialan 20 hektare pada kejadian 4 September lalu. Lalu ada juga tercatat rumah penduduk yang terbakar.

Melalui salah satu sumber dikatakan titik hotspot di Kabupaten Paser yang harus di waspadai sejak Januari hingga September ini mencapai 273 titik. Periode September merupakan yang tertinggi munculnya titik yakni 153. Sejak 17 Juli 2019 pun ditetapkan  status siaga darurat oleh Bupati Paser Yusriansyah Syarkawi.

Kabut asap dan kebakaran yang melanda di  Tana Paser tentu merupakan duka kita bersama, sebagai masyarakat yang terkenal dengan Moto “olo manin aso buen siolondo”, tentulah kejadian ini menjadi pembelajaran kita bersama untuk hari esok.  Selain itu, anggota pemadam kebakaran Paser dan beberapa anggota GAPKI telah melakukan upaya terbaik untuk membantu pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi kebakaran lahan, kata Tofan yang juga Ketua Bidang Komunikasi GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) kepada KONTAN, Senin (16/9).

Jika beberapa upaya bahkan penanggulangan telah dilaksanakan dengan baik maka perlu kita mengetahui penyebab di balik hadirnya kabut asap di Tana Paser tercinta lalu berbicara tentang penyebab maka Ini mengarah pada praktik 'land clearing' dengan cara mudah dan murah memanfaatkan musim kemarau," ujar Tito terkait dugaan kuat kebakaran akibat ulah manusia dalam siaran pers BNPB lalu.

Dalam islam penegakan hukum terkait ini harus keras dan tegas. Hal ini diharapkan bisa membuat efek jera kepada pihak korporasi mau pun perorangan yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun disisi lain pemerintah juga untuk memberikan pelatihan serta bantuan yang nyata kepada masyarakat terkait bagaimana cara membuka lahan tanpa harus membakar.Inilah kesalahan kerucut sistem kapitalisme yang hanya berstandarkan kepada manfaat belaka.
Kembali kesistem islam adalah solusi tuntas dari perkara hal yang ada, termasuk masalah Asap dan kemarau yang melanda. Semoga Hujan segera Allah turunkan untuk Indonesia tercinta.

Kamis, 12 September 2019


Aku dan hijabku
Alhamdulilah…..
Atas kehendak Tuhanku, yang maha pencipta, aku terlahir sebagai makhluk yang bernama manusia. Iya, seorang manusia, yang terlahir dari jutaan triliun jiwa manusia yang berpijak di atas bumi yang sama juga bernaung di bawah langit yang sama. Seorang manusia yang terkatagori kaum hawa.
Banyak hal special yang ada pada diri kaum hawa, ia di anugrahkan kasih sayang juga kelembutan pada setiap tatapan matanya, hingga sempurnalah ia menjadi sosok pengajar dalam kesabaran yang tak terbatas. Sebagai seorang ibu. Alhamdulilah aku adalah kaum hawa. Perempuan sebutan era masa kini.
Dalam agama islam, perempuan yang telah baliq wajib hukumnya menutup aurat secara sempurana, tanpa nanti dan tanpa tapi. Jika ia tak melaksanakannya, maka ia telah melanggar aturan dari sang pencipta, Allah SWT.
Berbicara mentup aurat dengan sempurna, setiap orang memiliki kisah yang berbeda dalam menggapai ketaatan.  Ada perjuangan juga ada pengorbanan.
Dulu, aku memiliki seorang kawan masa kecil. Kawan SD. Namanya Eka wahyuni Fatimah, ada yang special juga unik dari kawanku yang satu ini, selain selalu jadi juara kelas ia juga mengenakan kerudung di luar sekolah namun ia tak menggunakan kerudung ketika dalam sekolah. Aku heran, bukankah ini kebalik ? Kebanyakan kawanku pada masa itu, justru mengunakan kerudung saat berada dalam sekolah dan melepasnya saat di luar sekolah. Walau aku heran, aku biarkan saja rasa heranku ini. Jangan salahkan aku, karena itu pemikiran SD ku, mohon maklum.
Keherananku ini kembali muncul, saat aku berada di bangku kelas 3 SMP. Tak tahu kenapa aku begitu ingin memakai kerudung dan hal itu pun ku lakukan. Aku berfikir, mungkin ketertarikanku memakai kerudung dulu disebabkan oleh seringnya mama ku memberi masukan juga nasehat untuk memakai kerudnung. “ mun kada makai karudung tuh, kaina habis tebakar wan api, katipakan guguran daging awak “ nasehat mamaku versi bahasa banjar sekaligus logat kentalnya.
Aku terus berlanjut memakai kerudung ketika keluar rumah tapi tak menggunakan kerudung ketika kesekolah. Perasaanku ada yang aneh juga ada rasa gelisah saat tak memakai kerudung. Seorang temenku heran dengan sikapku ini dan ia berkata ini hal yang terbalik. Aku tersenyum, hal itu mengingatkanku pada kawanku. Eka wahyuni Fatimah.
Diam-diam aku sedikit berfikir dan akhirnya aku tahu kenapa aku melakukan ini. Aku menguji diriku sendiri.  Aku mengawali memakai kerudung bukan didalam sebuah institusi pembelajaran seperti sekolah,karena apa? Karena aku banyak melihat fakta bahwa sebagian teman-teman sekolahku akan melepas kerudungnya ketika keluar dari sekolah. takut sama guru agama jika tak memakai kerudung di dalam sekolah,lagian hati juga belum pantas. Belum dapat hidayah. Kata-kata itulah yang membuatku takut untuk memakai kerudung ketika sekolah lagian udah kelas 3 juga. Bentar lagi lulus. Aku takut seperti mereka yang memakai kerudung karena takut oleh guru agama saja. Aitss, ternyata  itu hanya ketakutan belaka, dan proses menunda tanpa sadar.
Awal masuk SMK aku telah memakai kerudung baik itu diluar maupun di dalam sekolah, aku telah yakin bahwa aku tak akan melepas kerudung ini di situasi apapun. Aku akan berusaha taat dalam kondisi apapun dan dimana pun .Semoga Allah selalu memberi ke istiqomahan.
Itu baru kerudung, dan astagfirullah,aku belum memakai jilbab (baju terusan yang longgar, yang tak membentuk tubuh juga tak transparan). Lama waktu berlalu dan aku terus hanyut dalam kelalaian tanpa sadar, padahal ajal tak pernah datang dengan memberi kabar.
Selepas lulus dari SMK, atas izin Allah, aku bertemu dengan sebuah pengajian. Disana aku belajar benyak tentang aturan, termasuk aturan berbusana untuk seorang muslimah. Tak sekedar hanya teori tentang aturan, ternyata pengajian itu juga melakukan pengawasan penerapan aturan di sertai bimbingan. Masyaallah.
Aku yang tak terbiasa mengenakan jilbab, rasanya sungguh aneh juga tak nyaman. Yang biasa bergerak bebas menggunakan celana levis panjang, berlari sana-sini, kini harus lebih kalem. Yang biasa langsung keluar rumah saat jemputan datang, kini harus sabar sebentar untuk memakai kaos kaki yang panjang. Rasanya ribet,namun itulah sebuah proses ketaatan. Butuh perjuangan untuk bersabar dalam pembiasaan,
Kawan, lambat laun aku mulai mengerti, ternyata menutup aurat dalam islam adalah kewajiban bukan pilihan.Hidayah dan hati mungkin kerap menjadi kambing hitam atas ketidaktahuan kita serta kemalasan kita untuk belajar lebih dalam tentang agama Islam. Mari terus perbaiki diri, datangi mejelis ilmu, berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, dan terus berdoa, semoga Allah senantiasa menjaga kita dalam ketaatan. Amiin J

twitter

https://twitter.com/tina_mareta