UNTUK MU 180
Rindu MihrimaH
Salam untuk mu, assalamualaykum
Aku ingin kau tahu, aku rindu….
Sebuah janji membuat tangan ku terulur
dan niat yang menggembung. Tentang apa yang dikatanya, tentang sebuah pesan
terusan yang akan di teruskannya, hanya itu, tak menjanjikan apa pun lagi,
bahkan katanya jika tak berhasil, tak usah sedih lagi, namun tugas mu coba
lagi. Hmm… menarik nafas, tentu, karena kurasa pun ia tahu tentang bagaimana
mengawali. Tertantang, namun apa salah nya jika ku coba, toh dalam takdir yang
sedang ku jalani ini aku sedang mendapat tugas menunggu, menunggu seorang asing
yang aku tak tahu. Aku ingin mmembawa dia kepikiran ku, dan kau tahu ? banyak
hal yang sudah aku pikirkan, Alhamdulillah, bukan hanya tentang diri ku, tapi
tentang beberapa orang yang di wajibkan kepada ku. Di amanahkan kepada ku lalu
kau ? ikut hadir pula ? yaa Allah… ku mohon, sembunyikan ia dari pikiran ku, setidaknya
seratus dua puluh hari ke depan. Jika itu telah tiba atas izin Mu, duhaai
Raahmaan, biarkan aku membuka kado.Hehe.
.
.
Day 1 : Kisah Negeri Ajaib
Membuka laptop dengan pembuka kata,
kedip-kedip mata, cap-cap kan mata, tak mdah memang menatap layar di ujung
senja, setelah beraktivitas sepanjang hari, membawa tumpukan buku dengan jumlah
dua puluh lima an , setiap buku berisi banyak point, secara garis besar terbagi
menjadi tiga terlebih dahulu, tentang Akhlak di pagi hari, tentang aktivitas di
tengah hari, dan tentang akhlak di sisa hari. Setiap garis besar berisi delapan
sampai tujuh aktivitas. Angka satu untuk melaksanakannya dan angka nol untuk
tidak melaksankannya. Oh ya, aku pernah mengisahkan tentang hal ini kepada
mereka.
Begini kisahnya “ pada zaman dahulu
kala, di negeri serba ajaib, semua serba ajaib, setiap benda ajaib, setiap
orang bisa melakukan hal-hal yang di luar kemampuan mereka intinya mereka ajaib,
karena mereka memiliki sihir yang wah yang membuat mereka semua serba mudah. Jika
mereka ingin madu, mereka ucapakan kata dan taraaa madu itu ada. Jika mereka
ingin pergi tanpa melangkahkan kaki dan taraaa mereka sampai dengan tujuan
tanpa tapi. Menyenangkan sekali bukan dunia ajaib ini ? pasti. Namun hal ini tidak
berlaku dengan seseorang ini. Karena apa ? Ia tak memiliki kemampuan ajaib
seperti kebanyakan orang di negeri ajaib ini. Dan yang lebih menyakitkan lagi,
dia adalah seorang pangeran di negeri ajaib tersebut. Tentu saja, ia menjadi
sorotan tiap masyarakat di negeri ajaib itu. “kasihan sekali,padahal ia adalah
anak raja dan ratu yang hebat di negeri ajaib ini” begitu bisik-bisik tiap
orang dalam memandangnya. Dan dengan tertunduk lesu, sang pangeran selalu
mendengarkan hal ini. Hal ini membuatnya sedih, mengapa ? karena ia berbeda
dari orang lainnya. Sampai pada suatu hari, di bangunnya pagi , ia katakana pada
diri, bahwa diri ku adalah yang terbaik dalam diri ku. Secerah cahaya pagi
seperti itu pula warna semangatnya, sehangat terik pagi seperti itu pula hangat
senyumnya. Ia memuutuskan akan merubah dirinya. Jika ia tidak terlahir seperti
orang ajaib maka biarkan dia yang mmemberikan keajaiban. Begitu katanya dengan senyum
tekulum di wajahnya.
Maka, pergilah ia
membuat sebuah buku, buku yang berisi ragam aktivitas dalam dirinya, buku yang
berisi prilaku-prilaku terpuji untuk manusia pada umumnya, misalnya, berbicara
sopan kepada sesama, antri saat berada dalam banyak ragam manusia, atau
tersenyum dan berkata pujian serta nasehat kepada kawan, lalu membersihkan diri
tepat pada waktunya dan banyak lagi banyak hal-hal positif yang di tulis sang
pangeran dalam bukunya. Ia terus menggunakna bukunya, angka satu untuk
aktivitas yang ia lakoni dan angka nol untuk aktivitas yang ia tidak lakoni.
Beberapa hari
berlalu, sang pangeran masih dengan rutinitas aktivisat kebaikan-kebaikan yang
telah ia tuliskan di dalam buku itu. Hingga bulan terlalu berlari jauh, sampai
pada tahun, tahun pun ikut serta melompat jauh, kini pangeran telah
berusia dua belas tahun. Enam tahun
telah berlalu. Buku masih dan akan tetap terisi angka satu. Pangeran tumbuh
dengan sosok penuh kebaikan dan kedisplinan yang luar biasa tinggi. Kemampuannya
di akui karena bisa tanpa sebuah sihir. Jika orang ajaib bisa bertemu dalam
sekejab dengan sihir untuk menemukan informasi, maka si pangeran membuat hp
untuk mempermudah informasi. Jika orang ajaib
bisa langsung makan tanpa membuat makanan dengan sihir, maka si pangeran
membuat makanan instan tanpa membuat makanan dengan lebih ribet.
Berkat kedispilinannya,
pemikiran dan ide kreatif pangeran berjalan dengan sangat maksimal, pangeran
juga memiliki tubuh yang sehat karena melakukan semua- mua nya dengan
menggunakan anggota tubuh, berbeda dengan para masyarakat ajaib pada umumnya,
mereka terlihat lemes karena jarang menggunakna anggota tubuhnya bergerak,
bahkan ada yang kaku saat menggerakkan kaki untuk berjalan, apalagi berlari,
ciih boro-boro. Ternyata sihir membuat mereka menjadi orang yang pemalas.
Hingga suatu
hari, bencana dan wabah menyerang negeri ajaib, wabah yang membuat semua kemampuan
ajaib di negeri ajaib hilang, sihir mereka lenyap di sedot wabah hitam, di tenggelamkan di tempat semua planet terkubur
dan terbuang. Negeri ini terguncang namun dengan bijak raja dan ratu memberi
penguatan dan nasihat untuk menjalani hidup tanpa sihir.
Raja dan ratu
serta segenap masyarakat negeri ajaib meminta dan memohon kepada pangeran agar
sekiranya meminjamkan bukunya untuk di gunakan oleh mereka. Agar mereka ingin
belajar menjalani hidup tanpa sihir dan mereka telah melihat seseorang bisa
hidup tanpa sihir bahkan menjadi luar biasa disiplin sama seperti sang pangeran
nan sehat dan cerdas.
Anak-anak murid ku bertepuk tangan
saat mendengar kisah ku, yupz, tentang ini, tentang buku mutabaah yang salalu
aku isi setiap hari. Sangat lucu bukan ? sekarang anak-anak sangat menyukai
buku mutabaah tersebut, kata mereka “ in adalah buku pangeran”. Hehe. Agar kalian
tahu saja ya, bahwa buku ini, buku mutabaah merupakan buku penghubung antara
guru dan orang tua. Guru mengisi aktivitas anak-anak saat di sekolah dan orang
tua mengisi aktivitas anak-anak saat di rumah. Bekerjasama lewat buku. Jika dahulu
anak-anak selalu memandang buku ini adalah buku ‘pengaduan’ antara guru kepada
orang tuanya atau antara orangtua kepada gurunya, maka kali ini, mereka
memnadang bahwa ini adalah buku seorang pangeran yang awal mulanya di anggap
biasa saja hingga akhirnya menjadi seorang pangeran yang sangat luar biasa,
seseorang yang mampu merubah hal biasa menjadi hal luar biasa dengan usahanya. Begitulah
kisahnya, kita semua mampu membuat berbagai keajaiban dengan kedisiplinan.
Sekian Day 1 Untuk mu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar