Simpul Masehi
“Bersungguh-sungguhlah
dalam mencari apa yang bermanfaat bagimu, dan mohonlah pertolongan kepada Allah
(dalam segala urusanmu), dan janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah…” Shahih
Muslim
Tak ada yang tersia, begitu
bisik ku, tiap kali berada di ujung jalan yang terasa buntu lagi gelap. Namun
tak apa, jalan tetaplah sebuah jalan, ia akan menghantar pada akhir, bukan ?
Dan kini, aku berada di
seperempat abad waktu Indonesia tengah. Sungguh, waktu berlari begitu cepat,
meninggalkan jalan yang masih segar rasanya di ingatan. Dimana orang-orang lalu
lalang hulu hilir menorehkan kisah. Kali ini, izinkan aku menyampaikan simpul masehi
di sembilanbelas ini.
Jika ada ada seseorang yang
menunggu mu, menatap ke arah mu, lalu tersenyum padamu, maka ia lah orang yang
sangat menyayangi mu, sangat, bahkan rela membawamu kedalam tanggung jawabnya, berhadap
langsung pada Tuhannya. Ia lah ayah mu. Yang doanya begitu terucap sampailah
pada ujung langitNya, melintas pesat melewat sisi-sisi takdir yang terangkum
dalam lauhuf mahfudz Nya.
Apakah itu jawaban yang
cukup tuk menjawab pertanyaan mu Nah ?
Tahun ini, aku bertanya
tentang apa itu takdir ? apa itu kesempatan ? dan apa itu cinta ? ayolah, ini
adalah pertanyaan yang cukup normal disaat ini. Aku sedikit malu tapi inilah pertanyaanku. Hehe.
Setiap kita di berikan dua
area yang dengannya berarti kau sedang hidup di dunia yaitu area yang dapat di
kuasai dan area yang tak dapat di kuasai. Kau tak dapat memilih terlahir dari
ayah dan ibu mana bukan ? lalu saat malam minggu kau bisa memilih akan pergi ke
masjid atau ku Kafe atas izinNya bukan ? itulah gambaran dua area. Tak ada
perhitungan tuk area yang tak dapat di kuasai tapi tidak dengan area yang dapat
di kuasai, dengannya ada hisab, ada standar hukum syara dalam tolok ukur perbuatan
lagi didalamnya ada balasan walau sebesar atom pun.
Tak mudah memang memahami
semua hal dengan logika namun tak mudah pula bila semua berukuran logika,
libatkanlah Allah atas segala hal. Yap,
libatkanlah Allah. Itulah yang menjadi titik terang dalam tiap tanya ku di
tahun ini. Tentang takdir, kesempatan, dan cinta. Deretan kisah ini menyeretku
dalam ingatan lalu, saat hujan dan aku terguyur didalamnya, menatap langit,
mengayuh sepeda, dan bicara dengan banyak mimpi walau adik ku protes,namun ku katakana
“Allah tidak akan merendahkan hamba yang menerima takdirNya”. Aku masih sangat
labil waktu itu, kini ilmu itu adalah tentang berbaik sangka pada Allah. Alhamdulillah.
Itu lah takdir.
Lalu bagaimana dengan
kesempatan ? bukankah aku selalu merasa terlambat dalam mengambil kesempatan?
ku akui, semua terangkum dalam proses. Semakin kau banyak belajar maka semakin
kau cepat mengambil kesempatan, walau telah gagal kau kan tetap melihat
kesempatan itu tetap ada. Kesempatan adalah bagian dari orang-orang yang mau
tetap bersabar dalam tiap ikhtiarnya, ia tak akan pernah melupakan Tuhan nya,
tak akan, bukankah bersama Allah tiap ujung harapan ? kalaupun kau tak dapatkan
maka cukup tutup mata mu, mudah mudahan inilah kesempatan itu. Kita tak pernah
tahu baik dan buruk sebuah kesempatan bukan ? Lihatlah manusia yang memiliki
batas dan kita adalah manusia. Aku tak mengajarkan diri ku menyerah tapi aku
mengajarkan diriku berusaha sampai akhir kemampuan, jika selesai, maka di depan adalah yang terbaik.
Cinta ? duuhh, inilah sebuah
kata yang seribu pujangga pun tak habis menafsirkannya, tak ada definisi yang
sempurna tuk cinta dalam berbagai peristiwa, tak ada pula pengertian yang
paling akurat jika tertuju pada manusia. Lagi, manusia itu mudah sekali
labilnya, mudah sekali tergoda dan lalainya, kecuali manusia yang taat pada
Rabb-nya. Duhaai Allah yang maha penyayang, sayangilah daku. Aamiin
Libatkanlah Allah atas tiap
pertanyaan, karena itu akan menghantarkanmu pada jawaban.
Segala puji hanya untukMU
Tuhan seluruh alam yang maha pengasih lagi maha penyayang nan maha agung lagi
bijaksana. Salam selalu tercurah pada engkau wahai nabi Allah, Muhammad yaa
habibi. Jadikan apa yang di hidup ku ini penuh dengan keberkahanMU lalu jadikan
aku sebaik pelajar yang mampu belajar dari kehidupan yang telah di beri
kemudian izinkan aku menceritakan dan menuliskan, hingga mereka tahu, sungguh,
KAU Maha Baik.
Ditulis, 31 Desember 2019
Berharap Ridho MU
Martinah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar