Hidup makin
terasa meredup. Masa depan makin suram. Masalah ekonomi makin runyam. Problem
keuangan makin sulit. Banyak persoalan membelit, pengangguran, utang banyak,
harga-harga naik, biaya pendidikan makin mahal, biaya kesehatan ditanggung sendiri
lewat BPJS yang sebetulnya asuransi. Begitulah yang dialami oleh sebagian besar
rakyat di negeri ini, saat ini.
Akibatnya,
tak sedikit orang yang di buat pusing. Banyak yang stress, depresi hingga
bahkan berujung bunuh diri. Di tengah ragam kesulitan yang membelit, akhirnya
banyak orang yg pesimis menghadapi masa depan. Hanya sedikit yang benar-benar
tetap optimis.
Di level
social, kesulitan demi kesulitan yang terjadi saat ini sebagian besar memang
sengaja di hadirkan oleh sistem yang kejam. Itulah neolibralisme menjadi pintu
masuk neoimperalisme. Akibatnya, nyaris mayoritas sumber-sumber kekayaan negeri
ini, yang notabene milik rakyat dan sudah seharusnya dinikmati oleh mereka,
kini berada dalam cengkraman para kapitalis baik swasta maupun asing. Akhirnya,
rakyat hanya bisa jadi penonton atas perampasan dan penjarahan kekayaan mereka
oleh para kapitalis tersebut. Mereka hanya bisa gigit jari.
Di level
pribadi, tentu setiap orang memiliki problemnya sendiri-sendiri yang berbeda
jenisnya maupun kadar atau tingkat kesulitannya. Ada yang susah cari nafkah.
Ada yang nelongso karena tak segera dapat jodoh. Ada yang kerap meratap karena
tak segera punya anak. Ada yang sedih karena di tinggal kekasih tercinta. Ada
yang merana di guncang karena prahana rumah tangga. Ada yang benci karena suami nikah lagi. Ada
yang di rundung malang karena terlilit banyak hutang. Ada yang resah karena belum bayar kontrakan
rumah. Ada yang gelisah menghadapi anak yang bermasalah. Ada yang
kalut karena bisnisnya bangkrut. Ada
yang galau dan demikian seterusnya.
Bagaimana
dengan kondisi pengemban dakwah ? yaahhh sama saja, hanya saja mereka juga
menghadapi masalah dakwah, yang tentu tak pernah dirasakan oleh mereka yang tak
berdakwah.
Problem
dakwah itu beragam, ada yang bersifat ideologis, sistemik hingga teknikal.
Tingkat kesulitannya pun bermacam-macam, ada yang ringan, sedang, sulit, dan
amat kompleks. Ada juga pengemban dakwah
yang ancapkali bergulat dengam problem internalnya sendiri seperti
kurang percaya diri, tak menguasai masalah, kurang tsaqofah, tak pandai
berkata-kata dan berargumentasi, tak mudah bersosialisasi, banyak mendapatkan
kesulitan saat kontak dakwah, apalagi saat menghadirkan massa dengan kouta yang
cukup besar, dsb.
Menghadapi
problem dan ragam persoalan dengan kerumitan dan tingkat kesulitan yang
berbeda-beda, haruskah seorang muslim menyerah ?? apalagi pesimis ??
Seorang
muslim sejati, seharusnya senang dan bergembira saat di hadapkan banyak
kesulitan. Kesulitan (kesulitan, baca
tantangan) seharusnya terus di cari dan di ciptakan. Mengapa ?
Alasanya
sederhana, karena Allah SWT sendiri telah berfirman : fa inna ma’al usri yusr[an], inna ma’al usri yusra ( sesungguhnya
bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada
kemudahan ) TQS al-Insyirah 94 :5 )
Menarik
sekali, dalam ayat di atas Allah SWT menggunakan kata ma’a
(bersama), bukan ba’da (sesudah). Mengapa demikian ?
alasannya, sebagaimana dinyatakan oleh imam ar-Razi dalam mafatih
al-ghaib, karena jarak dan waktu antara kesulitan dan kemudahan itu
sangatlah pendek sehingga seolah keduanya susul menyusul, berbarengan,
beriringan atau berdampingan. Selain itu, imam ar-Razi menukil sebuah hadis qudsi sebagaimana di tuturkan oleh Ibn
Abbas ra bahwa Rasul saw, pernah bersabda : “ Allah SWT telah berfirman :
khalaqtu ‘usr[an] bayna yusrayn. Fala yaghlibu ‘usyr[un] yusrayn. ( aku telah
menciptakan satu kesulitan di antara dua kemudahan. Karena itu tidak akan
pernah satu kesulitan bisa mengalahkan dua kemudahan).”
Subhanallah, makna ini sangat mendalam. Siapapun yang di
timpa kesulitan tidak perlu risau apalagi galau karena pasti kesulitan itu
datang bersama dengan atau didampingi dan dikawal oleh dua kemudahan.
Jadi,
buanglah segala pesimis, kerisauan dan kegalauan dalam menghadapi kesulitan
apapun. Justru saat kesulitan
menghadang, yang harus di tanamkan selalu dalam jiwa kita adalah sikap optimis,
yakin bahwa kemudahan akan segera datang. Yakinkan diri pada firman Allah SWT
dan optimislah J
