Selasa, 09 Juni 2015

Optimis
Hidup makin terasa meredup. Masa depan makin suram. Masalah ekonomi makin runyam. Problem keuangan makin sulit. Banyak persoalan membelit, pengangguran, utang banyak, harga-harga naik, biaya pendidikan makin mahal, biaya kesehatan ditanggung sendiri lewat BPJS yang sebetulnya asuransi. Begitulah yang dialami oleh sebagian besar rakyat di negeri ini, saat ini.
Akibatnya, tak sedikit orang yang di buat pusing. Banyak yang stress, depresi hingga bahkan berujung bunuh diri. Di tengah ragam kesulitan yang membelit, akhirnya banyak orang yg pesimis menghadapi masa depan. Hanya sedikit yang benar-benar tetap optimis.
Di level social, kesulitan demi kesulitan yang terjadi saat ini sebagian besar memang sengaja di hadirkan oleh sistem yang kejam. Itulah neolibralisme menjadi pintu masuk neoimperalisme. Akibatnya, nyaris mayoritas sumber-sumber kekayaan negeri ini, yang notabene milik rakyat dan sudah seharusnya dinikmati oleh mereka, kini berada dalam cengkraman para kapitalis baik swasta maupun asing. Akhirnya, rakyat hanya bisa jadi penonton atas perampasan dan penjarahan kekayaan mereka oleh para kapitalis tersebut. Mereka hanya bisa gigit jari.
Di level pribadi, tentu setiap orang memiliki problemnya sendiri-sendiri yang berbeda jenisnya maupun kadar atau tingkat kesulitannya. Ada yang susah cari nafkah. Ada yang nelongso karena tak segera dapat jodoh. Ada yang kerap meratap karena tak segera punya anak. Ada yang sedih karena di tinggal kekasih tercinta. Ada yang merana di guncang karena prahana rumah tangga.  Ada yang benci karena suami nikah lagi. Ada yang di rundung malang karena terlilit banyak hutang.  Ada yang resah karena belum bayar kontrakan rumah.  Ada yang gelisah  menghadapi anak yang bermasalah. Ada yang kalut karena  bisnisnya bangkrut. Ada yang galau dan demikian seterusnya.
Bagaimana dengan kondisi pengemban dakwah ? yaahhh sama saja, hanya saja mereka juga menghadapi masalah dakwah, yang tentu tak pernah dirasakan oleh mereka yang tak berdakwah.
Problem dakwah itu beragam, ada yang bersifat ideologis, sistemik hingga teknikal. Tingkat kesulitannya pun bermacam-macam, ada yang ringan, sedang, sulit, dan amat kompleks. Ada juga pengemban dakwah  yang ancapkali bergulat dengam problem internalnya sendiri seperti kurang percaya diri, tak menguasai masalah, kurang tsaqofah, tak pandai berkata-kata dan berargumentasi, tak mudah bersosialisasi, banyak mendapatkan kesulitan saat kontak dakwah, apalagi saat menghadirkan massa dengan kouta yang cukup besar, dsb.
Menghadapi problem dan ragam persoalan dengan kerumitan dan tingkat kesulitan yang berbeda-beda, haruskah seorang muslim menyerah ?? apalagi pesimis ??
Seorang muslim sejati, seharusnya senang dan bergembira saat di hadapkan banyak kesulitan. Kesulitan  (kesulitan, baca tantangan) seharusnya terus di cari dan di ciptakan. Mengapa ?
Alasanya sederhana, karena Allah SWT sendiri telah berfirman : fa inna ma’al usri yusr[an], inna ma’al usri yusra ( sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan ) TQS al-Insyirah 94 :5 )
Menarik sekali, dalam ayat di atas Allah SWT menggunakan  kata ma’a (bersama), bukan  ba’da (sesudah). Mengapa demikian ? alasannya, sebagaimana dinyatakan oleh imam ar-Razi  dalam mafatih al-ghaib, karena jarak dan waktu antara kesulitan dan kemudahan itu sangatlah pendek sehingga seolah keduanya susul menyusul, berbarengan, beriringan atau berdampingan. Selain itu, imam ar-Razi menukil sebuah hadis qudsi sebagaimana di tuturkan oleh Ibn Abbas ra bahwa Rasul saw, pernah bersabda : “ Allah SWT telah berfirman : khalaqtu ‘usr[an] bayna yusrayn. Fala yaghlibu ‘usyr[un] yusrayn. ( aku telah menciptakan satu kesulitan di antara dua kemudahan. Karena itu tidak akan pernah satu kesulitan bisa mengalahkan dua kemudahan).”
Subhanallah, makna ini sangat mendalam. Siapapun yang di timpa kesulitan tidak perlu risau apalagi galau karena pasti kesulitan itu datang bersama dengan atau didampingi dan dikawal oleh dua kemudahan.

Jadi, buanglah segala pesimis, kerisauan dan kegalauan dalam menghadapi kesulitan apapun.  Justru saat kesulitan menghadang, yang harus di tanamkan selalu dalam jiwa kita adalah sikap optimis, yakin bahwa kemudahan akan segera datang. Yakinkan diri pada firman Allah SWT dan optimislah J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta