Guru
Ibu Dua Warna
November telah tiba dengan
beberapa pernik yang melengkapinya, salah satu dari pernik itu adalah hari
guru. Warna guru memang tak ada habis nya untuk di bicarakan, lihat saja ,
semua orang hampir pernah sekolah, sedikit sekali bukan orang yang tidak
sekolah ? dan disekolah ada berbagai komponen, salah satunya guru.
Dari sumber Dapodik 2019 yang
diolah oleh Bang Imam Berbagi menyebutkan bahwa jumlah guru di Indonesia
sebesar 2.755.020 . Dan dari jumlah tersebut, berdasarkan jenis kelamin, hampir
seluruh jenjang didominasi oleh perempuan. Bila dipersentasikan, sebanyak
64,35% merupakan guru berjenis kelamin perempuan. Karena jumlah guru perempuan
saat ini mencapai 1.773.034 orang. Angka yang besar dengan dua warna, sebagai
tauladan bagi murid-muridnya dan sebagai pendidik utama dan pertama bagi buah
hatinya.
Sebagai “ibu guru”, keberadaan
dan perannya amat menentukan keberhasilan pendidikan. Guru sebagaimana
diketahui adalah tenaga pendidik yang bertugas membimbing, mengajar dan melatih
hinga guru memegang peranan sebagai mediator dalam proses belajar. Artinya guru
sebagai perantara dalam usaha untuk memperoleh perubahan tingkah laku siswa.
Sebagai seorang ibu untuk buah
hatinya, perempuan juga memiliki peranan penting. Seorang penyair Hafidz
Ibrahim mengatakan dalam syairnya, “Seorang ibu adalah madrasah”, yaitu madrasah pertama bagi anaknya. Betapa
pentingnya madrasah pertama itu. Karena yang pertama adalah yang paling dasar.
Seseorang tidak akan mungkin mencapai puncak jika ia belum bisa mencapai dasar.
Itulah pentingnya seorang ibu.
Di era saat ini, banyak sekali seseorang yang
terpaksa harus melakukan peran ganda karena desakan ekonomi. Melejitnya dan melambungnya
harga kebutuhan pokok membuat seorang perempuan pun ikut membantu dalam
menyumbang pemasokan ekonomi rumah tangga. Hingga menjadikan profesi guru
sebagai pemasukan. Tentu saja ini adalah niatan yang keliru walau sulit sekali
lepas dari relita yang ada. Aturan dan kebijakan yang tak pro dengan rakyat membuat niatan tulus mendidik di “senggeolkan” dengan
kebutuhan pribadi.
Jika kita berkaca pada peradaban
islam, kabar dan suasana pendidikan tak
pernah lepas dari peran perempuan yang berhasil melahirkan ilmuwan-ilmuwan dari
“rahim perut” dan “rahim persekolahan”. Dan
hal ini bukan didasarkan karena desakan ekonomi karena sistem ekonomi islam
dengan peraturannya akan memudahkan tiap masyarakatnya memenuhi kebutuhan sehingga para guru
perempuan mampu memaksimalkan kemampuan sebagai ibu dua warna yang
mencerdaskan.
Pada generasi Islam ke-2, sejarah
pun menampilkan aksi-aksi kaum perempuan di ranah publik. sebut saja, Rabi’ah
al-‘Adawiyah (Guru Sufi), Sayyidah Nafisah (sahabat sekaligus guru Imam
al-Syafi’i) kemudian ada lagi tokoh perempuan
dalam ranah nasional yang bergerak dibidang perempuan seperti Dewi Sartika,
R.A. Kartini, Sri Ratu Safiatuddin Tajul Alam, Maria Ulfah Santoso,Pratiwi Sudarmono,
Mien Uno dan sebagainya.
Peran perempuan dalam pendidikan
pun menentukan peradaban suatu bangsa dan agama. Lewat pengajaran ilmu-ilmu
agama umat bisa memahami, meyakini, dan mengamalkannya. Di antara banyaknya
cendekiawan tentu ada segilintir kaum perempuan yang ikut dalam mengembangkan
dan mencerdaskan umat dan bangsa. Adanya pengakuan posisi dan peran perempuan
baik oleh nash-nash Islam, ataupun dalam sejarah, mendorong para founding
father bangsa untuk menerjemahkan peran “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Marilah kita bersama mewujudkan kecerdasan
spiritual, emosional, dan intelektual demi menyosong tantangan baru di abad ini
dengan aturan islam.