Sabtu, 06 Januari 2018

SILENT
Oleh : MihrimaH

Ini yang pertama,kerudung merah dan wajah yang sendu.aku melihatnya dalam diam dan sunyi,hanya rintikan hujan yang deras yang kudengar. Terdiam sejenak tanpa sadar hujan membasahi baju ku, aku hendak berlari mencari tempat berteduh tapi kaki ku terasa berat meninggalkannya yang hanya menatap kosong jalanan, entah apa yang ia tunggu entah apa yang ia cari tapi yang ku lihat sekarang ia kehujanan dan hanya diam.
Aissss aku harus berlari cepat untuk berteduh jika tidak maka akan di pastikan aku basah kuyub,aku ingin menyadarkannya bahwa hujan akan mengguyur dirinya namun ku hentikan niatku karena aku merasa tak enak dan aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Ku lihat jam tanganku masih menunjukan pukul 8.25 sedangkan 8.30 aku memiliki janji dengan seorang teman untuk membahas masalah penjualan produk yang akan di luncurkan satu bulan lagi. Aku bekerja di sebuah perusahaan yang memproduksi berbagai jenis detergen. Aku bekerja sebagai supervisor bagian marketing, orang yang memantau pekerjaan para salesman,tingkat penjualan,dan peredaran barang di pasar. Lokasi kerja ku di Balikpapan namanya PT.EWANGGA, setelah lulus sekolah aku langsung mencari pekerjaan,sebagian temanku ada yang melanjutkan kuliah,aku pun sebenarnya ingin kuliah namun karena faktor ekonomi aku harus rela menunda keinginan ku ini  dan mendapatkan pekerjaan ini pun ku akui sangat sulit aku harus mengikuti training selama 3 bulan dan akhirnya segala puji bagi Allah aku pun mendapat jabatan sebagai salesman namun seiring berjalannya waktu alhamdulilah lagi aku naik jabatan sebagai seorang supervisor marketing. Sungguh,Allah maha pemberi rejeki hambanya yang berusaha dengan keras.
Sesampai di KFC Rapak aku langsung menyapa 2 orang yang tengah asyik mengobrol, mereka adalah Andi dan Hery. Mereka juga seorang supervisor marketing tetapi di kota Banjarmasin dan samarinda. Keberuntunganku kali ini karena mereka berdua yang ingin repot ke Balikpapan.
Waduh pak Rasyid anda sudah terlambat 5 menit !
Maaf pak, tadi hujan “ kataku tak enak, karena aku tahu betul sikap ke dua rekan ku ini,mereka sangat menghargai waktu dan sangat displin. Entahlah apa yang ada dibenak para rekan kerja yang dicabang sana ketika menghadapi para supervisor seperti ini tapi sepengalamanku sebagian para salesman akan sangat mengeluh dan sebagian para salesman lain akan sangat menaati peraturan. Aku kan dulu pernah menjadi seorang salesman jadi aku tahu sangat bahwa sikap seorang supervisor itu akan sedikit menentukan kinerja kerja para karyawan lain.
Itu alasan klise pak,silahkan duduk
Terimakasih pak “ kataku pelan dan kamipun mulai membahas perencanaan pemasaran produk di pasaran.sekitar 2 jam lebih sudah kami membahasnya. Agak melelahkan dan cukup memeras isi kepala karena aku harus menjelaskan situasi dan kondisi kota Balikpapan  yang agak berbeda dengan kondisi Banjarmasin dan Samarinda namun alhamdulilah kami mendapatkan solusinya.
Oke pak rasyid,sampai jumpa lagi “ kata pak andi dan pak heri di iringi jabat tangan dan mereka pun melangkah pergi”

Ia pak,hati-hati di jalan dan salam buat keluarga
Assalamualaikum…
Walaikumsalam “ akhirnya selesai juga pertemuan kali ini, aku pun memesan sebuah ricebox,pudding, ayam crispy, ku lahap dengan pelan karena aku sedang memikirkan seseorang yang tadi pagi ku temui di dalam rintikan hujan yang lebat, sebenarnya aku tak ingin memikirkannya namun entah kenapa ia muncul begitu saja di kepalaku tanpa permisi. Aku mencoba mengalihkannya dengan berdzikir dalam hati dan ini sangat bekerja. Ia pergi dari pikiranku.
Ahhhh hujan lagi pagi ini “kataku bete karena hari ini aku harus survey kinerja para salesman bagian Balikpapan baru.cukup jauh dan hujan betul-betul akan membuat kerja ku hari ini di pending beberapa jam.  Aku tak ingin survey lapangan hujan-hujan. Aku berniat menukar planning kerja survey lapangan esok saja”
Hujan reda pukul 09.00 dan aku pun berangkat dengan buru-buru mengejar angkot
Brakkkk…..”aku menabrak seorang wanita yang berkerudung pink,ia langsung membereskan kertas-kertasnya yang berserakan dan hanya menunduk”
Aku minta maaf “ kataku sambil membantunya membereskan kertas-kertas yang berserakan,tanpa sengaja aku membaca judul lembaran itu ISLAM YANG INDAH,oohh ternyata wanita ini seorang penulis pikirku sendiri atau seseorang yang hobi membaca pikirku lagi, apapun yang ku pikirkan namun judul lembaran ini membuatku tersenyum karena maraknya pemberitaan yang mengatakan islam adalah agama garis keras yang di penuhi dengan pembrontakan dan terorisme begitu di tolak oleh pemikiran wanita ini,walaupun aku tak tahu pasti apa yang ia pikirkan tentang islam tetapi apa yang ia baca menggambarkan sedikit bnyak tentang apa yang ia pikirkan”
Judul lembaran yang bagus
Dia hanya diam
Orang-orang yang berfikir islam garis keras pasti belum mengenal islam secara dekat
Dia hanya diam
Islam yang indah,aku setuju
Kali ini dia tetap diam dan melihatku kemudian tersenyum
Deg-deg-deg “ jantungku berdetak agak cepat melihatnya tersenyum,ia wanita yang kutemui 7 bulan yang lalu,wanita yang terdiam di tengah hujan,wanita yang menatap kosong jalanan dengan wajah yang teduh. Belum sempat aku ingin menanyakan namanya ia sudah pergi membawa tumpukan kertas”
Wanita yang mengagumkan “ kataku pelan, aku berfikir begitu karena melihat apa yang ia bawa,melihat penampilannya, memakai baju terusan yang longgar,tak memperlihatkan lekuk tubuh,tidak transparan, jenis pakaian seperti ini dinamakan jilbab,walau para masyarakat biasanya menyebut jubah atau gamis syar’i. kerudung yang menutup kepala dengan sempurna dan riasan wajah yang sangat natural menurutku”.

Hari ini aku pulang kantor jam 08.30 malam karena ada beberapa data yang harus segera di laporkan. Aku memilih melaksanakan shalat isya di rumah saja,karena kondisi tubuhku yang gerah dan baju yang agak kotor tidak memungkinkan aku shalat dikantor jika belum berganti pakaian atau mandi. Aku pulang menggunakan angkot,namun aku berhenti di sebuah simpangan kebun sayur, disana ada sebuah penjual martabak yang sangat enak. Aku kerap sekali beli disana dan kali ini aku ingin sangat ingin membeli martabak.
Mas,martabaknya spesialnya 2 yang biasa 1 di bungkus
Oke, mas bro
Tiba-tiba ada seorang wanita yang mengetok rombong pale martabak ini,wanita ini menunjukan jari telunjuk dan jari tengah kepada mas penjual martabak ini
Sip,mba yu. Seperti biasa kan ?
Wanita ini diam dan senyum
Aku terpana,karena wanita ini yang ku tabrak tadi pagi. Wanita pemilik wajah sendu. Aku terus melihatnya dengan berbagai pemikiran di kepalaku dan ia agaknya mulai merasa diperhatikan olehku, ia menoleh spontan dan membuat ekspresi wajah bertanya kepada ku dengan mengangkat keningnya.
Anda wanita yang saya tabrak tadi pagi kan ? kataku agak pelan dan sedikit grogi
Wanita ini hanya tersenyum dan mengangguk
Nama anda siapa ?
Raina mas “ kata mas penjual martabak ini nyeletuk menjawab pertanyaanku”
Kali ini aku yang tersenyum karena siapa yang di tanya,siapa yang menjawab
Hmm,nama anda raina. Anda kerja atau kuliah ?
Kuliah mas “ jawab mas penjual martabak lagi”
Kuliah dimana ?
Ituuu mas di daerah gunung sari “jawab penjual martabak lagi”
Ehem “aku berdehem untuk menahan keinginan ku untuk tertawa lepas karena tingkah mas martabak ini yang sok kenal dengan wanita yg katanya bernama raina”
Raina, ini lembaranmu yang tertinggal “ kataku menggambil lembaran itu yang ada didalam tas dan mnyerahkannya.
*flashback*
Ketika raina sudah melangkah pergi, ada satu lembaran yang tertinggal di bawah kakiku, aku mengejarnya namun ia sudah masuk angkot dan apesnya angkotnya dengan cepat jalan sehingga aku kewalahan mengejarnya sambil berteriak “ kerudung pink…. Mba…. Lembaran anda tertinggal”
Aku tak bisa mengejar angkot itu dan akhirnya lembaran itu pun aku bawa ke kantor.aku membaca lembaran itu, lembaran yang di tulis tangan yang berisi kata-kata yang sangat menyentuh perasaan ku.
Lembaran ini berisi sebuah puisi dengan inisial sebuah huruf “R” di bawah kanan lembar kertas
Cinta ini ya allah…..
 kenapa ia begitu indah dimataku
kenapa ia begitu special dihidupku
ia datang dengan segala keindahan, yang membuat aku kagum
ia terkadang muncul dalam fikiranku menggoyahkan pemahamanku
ia terkadang menyapaku dalam mimpi,membawaku terbang jauh
rabbi,, apakah ini cinta ???
butakah cinta ini ???
jika ini cinta, ia akan mendekatkan ku dengan-MU….
Jika ini cinta, ia akan mengajaku menelusuri jalan-MU…
Jika ini cinta, ia akan menikahiku karena-MU….
Rabbi,perasaan apa ini ???
Aku menginginkannya menjadi imamku kelak
Aku ingin melahirkan bidadari-bidadari kecil dan ksatria kecil darinya
Aku ingin melangkah dijalanmu bersamanya
Ya ALLAH,ya rabbi….
Jagalah ia,lindungilah ia,dan tuntunlah langkahnya hanya dijalan-Mu
*flashback end*
Raina menyambut lembaran yang ku beri dan tersenyum
Ternyata R berarti Raina….
Raina hanya mengangguk
Aku rasyid “ kataku memperkenalkan diri”
Mas, ini martabaknya “ kata mas penjual martabak  yang menyelah perbincanganku karena martabak yang ku pesan telah selesai”
Ketika aku hendak melangkah pergi,ku lirik raina yang hanya diam memandang martabak. Sungguh wanita yang mengagumkan ini membuat ku penasaran. Kenapa ia hanya selalu diam tanpa bicara. Menurutku orang-orang yang puitis memang agak pendiam,mereka lebih suka mengutarakan pemikiran mereka melalui tulisan.namun,apakah harus selalu diam ???
Sebulan telah berlalu, entah kenapa sejak pertemuanku dengan raina 7 bulan yang lalu di dalam rintikan hujan yag lebat dan pertemuan terakhir kami di rombong martabak itu aku selalu berharap ingin bertemu dengannya, aku  ingin melihatnya, aku ingin medengar suaranya,dan aku ingin berkenalan dengannya. Apakah aku jatuh cinta ? sepertinya iya.berbagai cara telah ku lakukan untuk bisa bertemunya kembali,namun hasilnya belum bertemu.
Dremmmm dremmm … suara getar ponselku yg menandakan ada orang yg menelphon
Assalamualaikum, kenapa ma ?
Iya,segera aku akan pulang ma tapi nanti sekitar 3 bulan lagi
Ma,aku lagi gak ingin membahas soal pernikahan. Aku belum siap
Hmmm,ada seseorang ma tapi aku hanya tau namanya
Iya,ma. Mama dan ade juga hati-hati, jaga kesehatan. Walaikumsalam.  “kataku menghela nafas panjang karena mama selalu menuntutku memberikan seorang menantu,maklum umurku sudah 27 tahun”
Aku lapar dan ingin martabak,yaaa martabak. Aku seperti mendapat ide, martabak simpang kebun sayur. Bukankah mas penjual martabak itu mengenal raina, ia pasti tahu banyak tentang raina tanpa basa basi aku menuju lokasi,dipersimpangan jalan aku melihat seorang wanita yang mengumpulkan kertas yang tercecer tanpa berpikir panjang aku membantunya dan masyaallah kaget bercampur deg-deg kan sekali aku dibuat kaget oleh sosok wanita ini. Ia raina.
Raina… “ kataku pelan yang membuat ia menoleh jua terkejut”
Lama sekali aku baru melihatmu,ternyata kamu terlalu suka menjatuhkan lembaran-lembaran kertas “ kataku bercanda untuk mencairkan suasana”
Lagi-lagi dan lagi-lagi ia hanya tersenyum
Kenapa tak bicara ? apa aku pernah melakukan kesalahan ?
Raina hanya menampakkan wajah datar dan ini semakin membuatku sedikit kecewa, aku betul-betul heran kenapa raina tak pernah berkata kepadaku walau hanya satu huruf sedangkan dengan yang lain ia begitu mudah berbagi informasi contohnya mas penjual martabak yang begitu tahu tentangnya.
Saya bukan orang jahat “kataku pelan dan pasrah,aku ingin melangkah pergi menuju tempat tujuanku walau sebenarnya tujuan utamaku memanglah ingin bertemu raina namun aku ingin mengembalikan tujuan awalku ialah membeli martabak”
Tiba-tiba saja ada raina berjalan mendahului ku dan menghadapku, aku bukan main gugupnya hanya bisa diam membeku,apalagi ketika ia menyerahkan sebuah kertas dengan kaku aku menyambutnya dan membacanya pelan
Saya tahu anda bukan orang jahat, saya berterimakasih karena anda beberapa kali menolong saya tapi bisakah anda tidak selalu mengajak saya berbicara,saya tak bisa menjawab….
Kertas yang berisi kata-kata ini membuatku terkejut,apa salahnya berbicara ? bukankah Allah memberikan mulut untuk menyampaikan isi pemikiran atau perasaan hingga manusia lain mengerti dan memahami.aku mengerut kening,ingin protes,namun tak sempat aku protes raina telah melangkah pergi.aku merasa ada yang salah dalam dirinya. Aku berjalan focus untuk membeli martabak walau selera untuk makan martabak telah lenyap namun aku tetap ingin membelinya, tanpa basa-basi ku pesan  2 martabak special dan ingin ku bertanya tentang raina namun ku urungkan niatku untuk mengenal wanita itu.
Mas sama mba raina itu satu kampus kah ? “tanya mas penjual martabak itu yang malah bertanya kepadaku,walaupun aku mengurungkan niat untuk mengenal raina namun aku coba tahu tak ada salahnya juga”
Gak, saya hanya beberapa kali bertemu dengannya
Oalahh,pantes.
Pantes kenapa  mas ?
Pantes,situ terus nyosor pertanyaan ke mba raina ternyata situ tak tahu ya ?
Tak tahu apa ? kataku mulai penasaran
Mba raina itu wanita yang sangat baik,anggun,pinter,tapi sayang mas ia bisu.
Kata-kata mas penjual martabak ini bagaikan suara Guntur di tengah hujan. Wajar namun entahlah. Aku betul-betul sangat merasa bersalah telah menyimpulkan bahwa ia berpikir aku orang yang jahat hanya karena ia tak mau berbicara padaku”
Ini mas martabaknya…
Iya,terimakasih kalau boleh tahu dimana ya alamatnya mba raina itu ?
Dari sini terus saja nanti belok kanan jika ada rumah warna biru no.24 itu sudah mas
Iya terimakasih mas
Aku melangkah agak gontai masih sedikit tak menyangka bahwa ia seorang tunawicara namun aku  entahlah aku mengaguminya namun entahlah aku mulai bimbang dan bingung
2 minggu telah berlalu,raina dengan kekurangan serta kelebihannya masih menghinggapi pemikiranku,aku ingin sekali menemuinya,aku ingin melamarnya. Aku merasa telah jatuh cinta kepadanya, kenapa aku begitu yakin ini cinta karena sejak pertemuan kami di bawah rintik hujan yang deras aku sudah mulai tertarik padanya,sejak membaca puisinya aku sudah mulai mengaguminya,dan saat bertemu dengannya aku jatuh cinta pada penampilan dan tingkahnya yang cuek,sangat membatasi diri,mengerti cara bergaul antar lawan jenis dalam islam. Banyak kelebihan yang ia miliki hingga kekurangannya hanya terlihat selintas. Ku bulatkan tekad aku akan kerumahnya besok malam untuk memberitahunya bahwa aku akan melamarnya,jika ia setuju aku akan membicarakan hal ini kepada keluargaku dan juga keluarganya. Semoga di beri kelancaran dan insha allah aku yakin akan ada kemudahan.aamiinn.
16 November  telah tiba dengan Bismillah aku melangkah menuju rumahnya, persiapan telah ku lakukan jauh-jauh hari dari penampilan,gaya bicara,dan belajar sedikit cara bertingkah laku di depan calon mertua.aku sangat sangat gugup hingga berulang kali aku membaca surah al-fatihah dan dzikir.
Assalamualaikum….
Walaikumsalam
Apa betul ini rumahnya raina ? saya rasyid pak “ kataku  tegang sambil mengulurkan tangan untuk menjabat tanyan seorang bapak-bapak yang berusia sekitar 47 tahun ini.
Iya betul,tapi rainanya……
Ehem,maaf pak. Saya sebenarnya ingin bermaksud menyatakan cinta pada raina jika ia setuju saya akan melamarnya “kataku to the point,karena aku semakin gelisah bahkan gugup setengah mau pingsan rasanya. Dengan to the poin aku percaya, semua akan terasa mudah”
Raina pasti senang mendengar ada seorang pria yang begitu berani melamarnya tanpa memintanya berpacaran,namun saya ingin katakan nak bahwa anak saya itu seorang tunawicara….
Tak apa pak,saya sudah tahu. Saya merasa kelebihan yang ia punya tak akan membuatnya memiliki kekurangan,ia memiliki kpribadian yg baik ….
Terimakasih nak atas pujian mu terhadap anak saya namun….
Ayah raina hanya diam dan sedikit menitikan air mata dipipinya, dari raut wajahnya ia sepertinya menyimpan luka dan kepedihan,bukan kebahagiaan layaknya seseorang yang ingin mendapat menantu. Tingkahnya yang diam dan menangis ini membuatku sangat bingung,karena aku sebagai lelaki hanya akan menangis jika luka yg ku rasa begitu dalam,entah apa yang terjadi aku merasa ingin menangis jua
Raina telah kembali menemui rabb-nya sekitar 1 minggu yang lalu
Maaf pak, apa saya tak salah dengar atau apa ini ? kataku bingung tak percaya bahkan aku seperti bermimpi buruk namun aku tak mampu kembali bangun,air mata ku mengalir di depan ayah raina ia mencoba menepuk pundakku walaupun aku tahu ia juga begitu sedih. Aku terdiam mencoba berfikir, ber dzikir,dan berdoa ini hanya mimpi namun sayang ini bukan mimpi,ini nyata.luka ini nyata.kenangan pertemuan ku dengan raina berputar di memori kepala,satu demi satu kenangan membuatku kalut. Dalam diam pertanyaanku terjawab,dalam diam ia berlalu dan dalam diam semua terekam.

                                                                                                                End
                                                                                                  Di tulis, November 2014
“Pegang tanganku,jangan pernah lepaskan
Walau ku mulai lelah dan tak bersinar
Remas sayapku,jangan pernah lepaskan
Bila ku ingin terbang meninggalkan mu”
*
*
*
Aku adalah manusia. Yang di bawah langitnya menjadi hamba dan yang dipermukaan buminya menjadi pemimpin seraya tunduk dalam aturan-Nya. Iyaah... aku adalah hamba. Tak kan pernah ku kecewa atas keputusan-Nya, dan tak kan pernah ku marah atas takdir-Nya. Tak akan, karena IA terus hadirkan kasih sayang dalam setiap moment ku.Di pagi saat ku buka mata hingga di malam saat ku menutup mata.
Dan mata ini,merekam cerita.
I am Sorry !!!!!
Aku tahu kau membuat kesalahan apa, aku tahu . Tapi kau tak mengucapakan.  Hanya maaf.  Kau tak mengizinkan aku sama sekali untuk berkata, kenapa ? karena tak ada pilihan apapun untuk ku kecuali memaafkan. Dan itu membuatku menangis.
Aku ingin marah, berteriak seperti orang pada umumnya tapi kata maaf itu memberi batas atas ruang-ruang emosi yang mulai meluap. Iyaahhh, jangan marah...jangan marah... bagimu surga. Dalam suatu hadist yang ku ingat. Dan terimakasih, semoga ini membuatku menggapai ridho-Nya.



Desember,2017

twitter

https://twitter.com/tina_mareta