Minggu, 22 September 2019


KELUARGA
"Layanan Satu Pintu Keluarga Berbasis Anak, Solusikah untuk Keluarga?"
MihrimaH


Keluarga adalah sebuah ikatan kecil dari banyaknya ikatan yang akan ikut berperan dalam sebuah negeri. Selaras dengan hal ini, tak mengherankan jika ingin memperbaiki suatu kualitas suatu bangsa maka kualitas keluarga juga harus menjadi perhatian penting. Belum lama ini, tersirat kabar akan danya layanan satu pintu atau 'one stop service' yang bernama Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Ruhui Rahayu di kalimantan timur.
Pusat layanan satu pintu keluarga ini berbasis hak anak yang berguna memberikan solusi bagi orang tua dan anak dalam menghadapi berbagai permasalahan.

"Layanan ini satu pintu atau 'one stop service' ini bernama Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Ruhui Rahayu," ujar Kepala Dinas Kependudukan, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DKP3A) Provinsi Kaltim Halda Arsyad di Samarinda, Rabu.Pembentukan layanan Puspaga disebabkan karena banyaknya permasalahan keluarga yang kerap terjadi seperti perceraian, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pelecehan, perselingkuhan, masalah anak berhadapan dengan hukum, masalah orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, dan lainnya.

Menurut dia, permasalahan dalam keluarga dapat memicu keretakan dalam rumah tangga yang sering berdampak terhadap anak, terutama pada pola asuh dan tumbuh kembang anak, sehingga pusat layanan ini diharapkan bisa menjadi pusat konsultasi masyarakat untuk mencarikan jalan ke luar.

Melalui Kementerian Dalam Negeri Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa
Jumlah Penduduk Dan Kepala Keluarga indonesia, diketahui bahwa jumlah penduduk dan keluarga indonesia terdiri dari 54.935 dan merupakan angka yang besar dengan berbagai masalah yang tercatat dalam berbagai macam, mulai dari kasus anak hingga retaknya rumah tangga serta seperangkat hal lainnya.

Tingginya berbagai kerusakan yang mengancam sebuah keluarga dikarenakan memang kita tidak berada dalam hukum islam, dimana saat ini kita berada disistem sekularisme, yakni  sebuah sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Berbeda dengan sistem islam yang memandang semua harus sesuai dengan aturan Al quran dan As Sunah.

Dalam aturan agama Islam terdapat banyak pembahasan tentang hidup rumah tangga. Keluarga dalam biduk rumah tangga memiliki banyak hal yang perlu dibahas. Salah satunya, tentang pendidikan agama anak. Dewasa ini, kita menyaksikan banyak kejadian-kejadian ganjil yang menimpa putra-putri kita di Tanah Air. Tak jauh dari hal negatif, seperti tawuran antarpelajar, hubungan di luar nikah, pergaulan bebas, dan bahkan pengaruh narkotika yang berbahaya.

Hal-hal dan perilaku negatif tersebut perlu dicegah. Pencegahan yang kondusif dan yang paling utama dilakukan adalah dari keluarga. Keluarga yang baik dan terarah adalah keluarga yang mampu menjadi penawar di saat ada masalah. Keluarga yang harmonis akan mampu mendamaikan hati anggota keluarga dari segala hiruk pikuknya dunia. Keluarga adalah tiang utama dalam menjalani kehidupan sehari-hari dan keluarga yang dapat melakukan ini tentunya adalah keluarga yang mengikat diri mereka terhadap aturan islam.

Kamis, 19 September 2019


Catatan September “Kabut Asap Paser Adalah Duka Masyarakat Paser”
MihrimaH

Tepat dihari minggu, 15 September 2019 yang lalu, kabut asap menyerang sebuah wilayah di bagian deretan ujung kalimantan timur, Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Hingga pukul 08.45 Wita kabut masih tetap bertahan disertai bau asap yang pekat. Tak ayal sampai disitu ternyata kabut asap menyerang celah-celah tiap wilayah di Indonesia. Masyarakat Indonesia kini di uji dengan kondisi musim kemarau beserta efek hasil dari perbuatan manusia yang memanfaatkan moment untuk kepentingan diri sendiri.

Hingga hari ini pun Rabu, 18 September 2019 suara sirene pemadam kebakaran terus bergema, menandakan kejadian kebakaran dimana-mana. Sejalan dengan fakta yang ada, tercatat dari awal September ini di Paser ada 52 kasus Karhutla. Dengan total ada 93 hektare yang terkena dan yang paling banyak ialan 20 hektare pada kejadian 4 September lalu. Lalu ada juga tercatat rumah penduduk yang terbakar.

Melalui salah satu sumber dikatakan titik hotspot di Kabupaten Paser yang harus di waspadai sejak Januari hingga September ini mencapai 273 titik. Periode September merupakan yang tertinggi munculnya titik yakni 153. Sejak 17 Juli 2019 pun ditetapkan  status siaga darurat oleh Bupati Paser Yusriansyah Syarkawi.

Kabut asap dan kebakaran yang melanda di  Tana Paser tentu merupakan duka kita bersama, sebagai masyarakat yang terkenal dengan Moto “olo manin aso buen siolondo”, tentulah kejadian ini menjadi pembelajaran kita bersama untuk hari esok.  Selain itu, anggota pemadam kebakaran Paser dan beberapa anggota GAPKI telah melakukan upaya terbaik untuk membantu pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi kebakaran lahan, kata Tofan yang juga Ketua Bidang Komunikasi GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) kepada KONTAN, Senin (16/9).

Jika beberapa upaya bahkan penanggulangan telah dilaksanakan dengan baik maka perlu kita mengetahui penyebab di balik hadirnya kabut asap di Tana Paser tercinta lalu berbicara tentang penyebab maka Ini mengarah pada praktik 'land clearing' dengan cara mudah dan murah memanfaatkan musim kemarau," ujar Tito terkait dugaan kuat kebakaran akibat ulah manusia dalam siaran pers BNPB lalu.

Dalam islam penegakan hukum terkait ini harus keras dan tegas. Hal ini diharapkan bisa membuat efek jera kepada pihak korporasi mau pun perorangan yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun disisi lain pemerintah juga untuk memberikan pelatihan serta bantuan yang nyata kepada masyarakat terkait bagaimana cara membuka lahan tanpa harus membakar.Inilah kesalahan kerucut sistem kapitalisme yang hanya berstandarkan kepada manfaat belaka.
Kembali kesistem islam adalah solusi tuntas dari perkara hal yang ada, termasuk masalah Asap dan kemarau yang melanda. Semoga Hujan segera Allah turunkan untuk Indonesia tercinta.

Kamis, 12 September 2019


Aku dan hijabku
Alhamdulilah…..
Atas kehendak Tuhanku, yang maha pencipta, aku terlahir sebagai makhluk yang bernama manusia. Iya, seorang manusia, yang terlahir dari jutaan triliun jiwa manusia yang berpijak di atas bumi yang sama juga bernaung di bawah langit yang sama. Seorang manusia yang terkatagori kaum hawa.
Banyak hal special yang ada pada diri kaum hawa, ia di anugrahkan kasih sayang juga kelembutan pada setiap tatapan matanya, hingga sempurnalah ia menjadi sosok pengajar dalam kesabaran yang tak terbatas. Sebagai seorang ibu. Alhamdulilah aku adalah kaum hawa. Perempuan sebutan era masa kini.
Dalam agama islam, perempuan yang telah baliq wajib hukumnya menutup aurat secara sempurana, tanpa nanti dan tanpa tapi. Jika ia tak melaksanakannya, maka ia telah melanggar aturan dari sang pencipta, Allah SWT.
Berbicara mentup aurat dengan sempurna, setiap orang memiliki kisah yang berbeda dalam menggapai ketaatan.  Ada perjuangan juga ada pengorbanan.
Dulu, aku memiliki seorang kawan masa kecil. Kawan SD. Namanya Eka wahyuni Fatimah, ada yang special juga unik dari kawanku yang satu ini, selain selalu jadi juara kelas ia juga mengenakan kerudung di luar sekolah namun ia tak menggunakan kerudung ketika dalam sekolah. Aku heran, bukankah ini kebalik ? Kebanyakan kawanku pada masa itu, justru mengunakan kerudung saat berada dalam sekolah dan melepasnya saat di luar sekolah. Walau aku heran, aku biarkan saja rasa heranku ini. Jangan salahkan aku, karena itu pemikiran SD ku, mohon maklum.
Keherananku ini kembali muncul, saat aku berada di bangku kelas 3 SMP. Tak tahu kenapa aku begitu ingin memakai kerudung dan hal itu pun ku lakukan. Aku berfikir, mungkin ketertarikanku memakai kerudung dulu disebabkan oleh seringnya mama ku memberi masukan juga nasehat untuk memakai kerudnung. “ mun kada makai karudung tuh, kaina habis tebakar wan api, katipakan guguran daging awak “ nasehat mamaku versi bahasa banjar sekaligus logat kentalnya.
Aku terus berlanjut memakai kerudung ketika keluar rumah tapi tak menggunakan kerudung ketika kesekolah. Perasaanku ada yang aneh juga ada rasa gelisah saat tak memakai kerudung. Seorang temenku heran dengan sikapku ini dan ia berkata ini hal yang terbalik. Aku tersenyum, hal itu mengingatkanku pada kawanku. Eka wahyuni Fatimah.
Diam-diam aku sedikit berfikir dan akhirnya aku tahu kenapa aku melakukan ini. Aku menguji diriku sendiri.  Aku mengawali memakai kerudung bukan didalam sebuah institusi pembelajaran seperti sekolah,karena apa? Karena aku banyak melihat fakta bahwa sebagian teman-teman sekolahku akan melepas kerudungnya ketika keluar dari sekolah. takut sama guru agama jika tak memakai kerudung di dalam sekolah,lagian hati juga belum pantas. Belum dapat hidayah. Kata-kata itulah yang membuatku takut untuk memakai kerudung ketika sekolah lagian udah kelas 3 juga. Bentar lagi lulus. Aku takut seperti mereka yang memakai kerudung karena takut oleh guru agama saja. Aitss, ternyata  itu hanya ketakutan belaka, dan proses menunda tanpa sadar.
Awal masuk SMK aku telah memakai kerudung baik itu diluar maupun di dalam sekolah, aku telah yakin bahwa aku tak akan melepas kerudung ini di situasi apapun. Aku akan berusaha taat dalam kondisi apapun dan dimana pun .Semoga Allah selalu memberi ke istiqomahan.
Itu baru kerudung, dan astagfirullah,aku belum memakai jilbab (baju terusan yang longgar, yang tak membentuk tubuh juga tak transparan). Lama waktu berlalu dan aku terus hanyut dalam kelalaian tanpa sadar, padahal ajal tak pernah datang dengan memberi kabar.
Selepas lulus dari SMK, atas izin Allah, aku bertemu dengan sebuah pengajian. Disana aku belajar benyak tentang aturan, termasuk aturan berbusana untuk seorang muslimah. Tak sekedar hanya teori tentang aturan, ternyata pengajian itu juga melakukan pengawasan penerapan aturan di sertai bimbingan. Masyaallah.
Aku yang tak terbiasa mengenakan jilbab, rasanya sungguh aneh juga tak nyaman. Yang biasa bergerak bebas menggunakan celana levis panjang, berlari sana-sini, kini harus lebih kalem. Yang biasa langsung keluar rumah saat jemputan datang, kini harus sabar sebentar untuk memakai kaos kaki yang panjang. Rasanya ribet,namun itulah sebuah proses ketaatan. Butuh perjuangan untuk bersabar dalam pembiasaan,
Kawan, lambat laun aku mulai mengerti, ternyata menutup aurat dalam islam adalah kewajiban bukan pilihan.Hidayah dan hati mungkin kerap menjadi kambing hitam atas ketidaktahuan kita serta kemalasan kita untuk belajar lebih dalam tentang agama Islam. Mari terus perbaiki diri, datangi mejelis ilmu, berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, dan terus berdoa, semoga Allah senantiasa menjaga kita dalam ketaatan. Amiin J

twitter

https://twitter.com/tina_mareta