Aku dan hijabku
Alhamdulilah…..
Atas kehendak Tuhanku, yang maha pencipta, aku
terlahir sebagai makhluk yang bernama manusia. Iya, seorang manusia, yang
terlahir dari jutaan triliun jiwa manusia yang berpijak di atas bumi yang sama
juga bernaung di bawah langit yang sama. Seorang manusia yang terkatagori kaum
hawa.
Banyak hal special yang ada pada diri kaum hawa, ia di
anugrahkan kasih sayang juga kelembutan pada setiap tatapan matanya, hingga
sempurnalah ia menjadi sosok pengajar dalam kesabaran yang tak terbatas. Sebagai
seorang ibu. Alhamdulilah aku adalah kaum hawa. Perempuan sebutan era masa
kini.
Dalam agama islam, perempuan yang telah baliq wajib
hukumnya menutup aurat secara sempurana, tanpa nanti dan tanpa tapi. Jika ia
tak melaksanakannya, maka ia telah melanggar aturan dari sang pencipta, Allah
SWT.
Berbicara mentup aurat dengan sempurna, setiap orang
memiliki kisah yang berbeda dalam menggapai ketaatan. Ada perjuangan juga ada pengorbanan.
Dulu, aku memiliki seorang kawan masa kecil. Kawan SD.
Namanya Eka wahyuni Fatimah, ada yang special juga unik dari kawanku yang satu
ini, selain selalu jadi juara kelas ia juga mengenakan kerudung di luar sekolah
namun ia tak menggunakan kerudung ketika dalam sekolah. Aku heran, bukankah ini
kebalik ? Kebanyakan kawanku pada masa itu, justru mengunakan kerudung saat
berada dalam sekolah dan melepasnya saat di luar sekolah. Walau aku heran, aku
biarkan saja rasa heranku ini. Jangan salahkan aku, karena itu pemikiran SD ku,
mohon maklum.
Keherananku ini kembali muncul, saat aku berada di
bangku kelas 3 SMP. Tak tahu kenapa aku begitu ingin memakai kerudung dan hal
itu pun ku lakukan. Aku berfikir, mungkin ketertarikanku memakai kerudung dulu
disebabkan oleh seringnya mama ku memberi masukan juga nasehat untuk memakai
kerudnung. “ mun kada makai karudung tuh, kaina habis tebakar wan api,
katipakan guguran daging awak “ nasehat mamaku versi bahasa banjar sekaligus
logat kentalnya.
Aku terus berlanjut memakai kerudung ketika keluar
rumah tapi tak menggunakan kerudung ketika kesekolah. Perasaanku ada yang aneh
juga ada rasa gelisah saat tak memakai kerudung. Seorang temenku heran dengan
sikapku ini dan ia berkata ini hal yang terbalik. Aku tersenyum, hal itu
mengingatkanku pada kawanku. Eka wahyuni Fatimah.
Diam-diam aku sedikit berfikir dan
akhirnya aku tahu kenapa aku melakukan ini. Aku menguji diriku sendiri. Aku mengawali memakai kerudung bukan didalam
sebuah institusi pembelajaran seperti sekolah,karena apa? Karena aku banyak
melihat fakta bahwa sebagian teman-teman sekolahku akan melepas kerudungnya
ketika keluar dari sekolah. “takut sama guru agama
jika tak memakai kerudung di dalam sekolah,lagian hati juga belum
pantas.
Belum dapat hidayah.
Kata-kata itulah yang membuatku takut untuk memakai
kerudung ketika sekolah lagian udah kelas 3 juga. Bentar lagi lulus. Aku takut
seperti mereka yang memakai kerudung karena takut oleh guru agama saja. Aitss,
ternyata itu hanya ketakutan belaka, dan
proses menunda tanpa sadar.
Awal
masuk SMK aku telah memakai kerudung baik itu diluar maupun di dalam sekolah,
aku telah yakin bahwa aku tak akan melepas kerudung ini di situasi apapun. Aku
akan berusaha taat dalam kondisi apapun dan dimana pun .Semoga Allah selalu memberi ke istiqomahan.
Itu baru kerudung, dan astagfirullah,aku belum memakai
jilbab (baju terusan yang longgar, yang tak membentuk tubuh juga tak
transparan). Lama waktu berlalu dan aku terus hanyut dalam kelalaian tanpa
sadar, padahal ajal tak pernah datang dengan memberi kabar.
Selepas lulus dari SMK, atas izin Allah, aku bertemu
dengan sebuah pengajian. Disana aku belajar benyak tentang aturan, termasuk
aturan berbusana untuk seorang muslimah. Tak sekedar hanya teori tentang
aturan, ternyata pengajian itu juga melakukan pengawasan penerapan aturan di
sertai bimbingan. Masyaallah.
Aku yang tak terbiasa mengenakan jilbab, rasanya sungguh
aneh juga tak nyaman. Yang biasa bergerak bebas menggunakan celana levis
panjang, berlari sana-sini, kini harus lebih kalem. Yang biasa langsung keluar
rumah saat jemputan datang, kini harus sabar sebentar untuk memakai kaos kaki yang
panjang. Rasanya ribet,namun itulah sebuah proses ketaatan. Butuh perjuangan
untuk bersabar dalam pembiasaan,
Kawan,
lambat laun aku mulai
mengerti, ternyata menutup aurat dalam islam
adalah kewajiban bukan pilihan.Hidayah dan hati mungkin kerap menjadi kambing
hitam atas ketidaktahuan kita serta kemalasan kita untuk belajar lebih dalam
tentang agama Islam. Mari terus perbaiki diri, datangi mejelis ilmu,
berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, dan terus berdoa, semoga Allah
senantiasa menjaga kita dalam ketaatan. Amiin J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar