Kamis, 12 September 2019


Aku dan hijabku
Alhamdulilah…..
Atas kehendak Tuhanku, yang maha pencipta, aku terlahir sebagai makhluk yang bernama manusia. Iya, seorang manusia, yang terlahir dari jutaan triliun jiwa manusia yang berpijak di atas bumi yang sama juga bernaung di bawah langit yang sama. Seorang manusia yang terkatagori kaum hawa.
Banyak hal special yang ada pada diri kaum hawa, ia di anugrahkan kasih sayang juga kelembutan pada setiap tatapan matanya, hingga sempurnalah ia menjadi sosok pengajar dalam kesabaran yang tak terbatas. Sebagai seorang ibu. Alhamdulilah aku adalah kaum hawa. Perempuan sebutan era masa kini.
Dalam agama islam, perempuan yang telah baliq wajib hukumnya menutup aurat secara sempurana, tanpa nanti dan tanpa tapi. Jika ia tak melaksanakannya, maka ia telah melanggar aturan dari sang pencipta, Allah SWT.
Berbicara mentup aurat dengan sempurna, setiap orang memiliki kisah yang berbeda dalam menggapai ketaatan.  Ada perjuangan juga ada pengorbanan.
Dulu, aku memiliki seorang kawan masa kecil. Kawan SD. Namanya Eka wahyuni Fatimah, ada yang special juga unik dari kawanku yang satu ini, selain selalu jadi juara kelas ia juga mengenakan kerudung di luar sekolah namun ia tak menggunakan kerudung ketika dalam sekolah. Aku heran, bukankah ini kebalik ? Kebanyakan kawanku pada masa itu, justru mengunakan kerudung saat berada dalam sekolah dan melepasnya saat di luar sekolah. Walau aku heran, aku biarkan saja rasa heranku ini. Jangan salahkan aku, karena itu pemikiran SD ku, mohon maklum.
Keherananku ini kembali muncul, saat aku berada di bangku kelas 3 SMP. Tak tahu kenapa aku begitu ingin memakai kerudung dan hal itu pun ku lakukan. Aku berfikir, mungkin ketertarikanku memakai kerudung dulu disebabkan oleh seringnya mama ku memberi masukan juga nasehat untuk memakai kerudnung. “ mun kada makai karudung tuh, kaina habis tebakar wan api, katipakan guguran daging awak “ nasehat mamaku versi bahasa banjar sekaligus logat kentalnya.
Aku terus berlanjut memakai kerudung ketika keluar rumah tapi tak menggunakan kerudung ketika kesekolah. Perasaanku ada yang aneh juga ada rasa gelisah saat tak memakai kerudung. Seorang temenku heran dengan sikapku ini dan ia berkata ini hal yang terbalik. Aku tersenyum, hal itu mengingatkanku pada kawanku. Eka wahyuni Fatimah.
Diam-diam aku sedikit berfikir dan akhirnya aku tahu kenapa aku melakukan ini. Aku menguji diriku sendiri.  Aku mengawali memakai kerudung bukan didalam sebuah institusi pembelajaran seperti sekolah,karena apa? Karena aku banyak melihat fakta bahwa sebagian teman-teman sekolahku akan melepas kerudungnya ketika keluar dari sekolah. takut sama guru agama jika tak memakai kerudung di dalam sekolah,lagian hati juga belum pantas. Belum dapat hidayah. Kata-kata itulah yang membuatku takut untuk memakai kerudung ketika sekolah lagian udah kelas 3 juga. Bentar lagi lulus. Aku takut seperti mereka yang memakai kerudung karena takut oleh guru agama saja. Aitss, ternyata  itu hanya ketakutan belaka, dan proses menunda tanpa sadar.
Awal masuk SMK aku telah memakai kerudung baik itu diluar maupun di dalam sekolah, aku telah yakin bahwa aku tak akan melepas kerudung ini di situasi apapun. Aku akan berusaha taat dalam kondisi apapun dan dimana pun .Semoga Allah selalu memberi ke istiqomahan.
Itu baru kerudung, dan astagfirullah,aku belum memakai jilbab (baju terusan yang longgar, yang tak membentuk tubuh juga tak transparan). Lama waktu berlalu dan aku terus hanyut dalam kelalaian tanpa sadar, padahal ajal tak pernah datang dengan memberi kabar.
Selepas lulus dari SMK, atas izin Allah, aku bertemu dengan sebuah pengajian. Disana aku belajar benyak tentang aturan, termasuk aturan berbusana untuk seorang muslimah. Tak sekedar hanya teori tentang aturan, ternyata pengajian itu juga melakukan pengawasan penerapan aturan di sertai bimbingan. Masyaallah.
Aku yang tak terbiasa mengenakan jilbab, rasanya sungguh aneh juga tak nyaman. Yang biasa bergerak bebas menggunakan celana levis panjang, berlari sana-sini, kini harus lebih kalem. Yang biasa langsung keluar rumah saat jemputan datang, kini harus sabar sebentar untuk memakai kaos kaki yang panjang. Rasanya ribet,namun itulah sebuah proses ketaatan. Butuh perjuangan untuk bersabar dalam pembiasaan,
Kawan, lambat laun aku mulai mengerti, ternyata menutup aurat dalam islam adalah kewajiban bukan pilihan.Hidayah dan hati mungkin kerap menjadi kambing hitam atas ketidaktahuan kita serta kemalasan kita untuk belajar lebih dalam tentang agama Islam. Mari terus perbaiki diri, datangi mejelis ilmu, berkumpul dengan orang-orang yang sholeh, dan terus berdoa, semoga Allah senantiasa menjaga kita dalam ketaatan. Amiin J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta