Sabtu, 07 Maret 2015




Nak,jangan terlambat pulang
Hasil gambar untuk ayah
 Awan mendung menyelimuti rumahku, bacaan-bacaan ayat suci al-qur’an serta air mata yang mengalir berpadu tanpa dikomando menghasilakan isakan yang pilu menyayat hati. Ku tatap wajah ayahku yang pucat dan tak sadarkan diri,kugenggam erat tangannya berharap aku mendapatkan kekuatan dan ketegaran darinya seperti dulu namun kini ku rasa genggamannya mulai melemah,aku panik dan terus mengucapkan kalimat syahadat dan istigfar di kuping ayah tersayangku. Ibu,adik,dan kakak ku tak kalah sedih. Mata mereka sudah merah karena dari tadi menangis dan suara mereka mulai parau dan berat.
“yah, aku harus bagaimana ?” isak ku sedih sambil memandang ayah. Dalam hatiku paling dalam aku rasa ini yang terakhir kalinya,entah kenapa. Aku coba menampik perasaanku namun aku tahu pasti dari semua kepastian di dunia ini salah satunya adalah kematian.
“Allah, ampunilah dosa ayahku. Sayangi ia,lindungi ia,berilah ia kemudahan
Ia pemimpin yag bertanggung jawab terhadap keluarganya, ia ayah yang baik hatinya
Allah,aku mohon selamatkan ia…..” hatiku memohon kepada sang Maha Kuasa
Sepertinya Allah menjawab doaku,tangan ayah yang ku genggam erat kini bergerak. Aku bingung. Ayah melakukan gerakan seperti orang yang hendak memulai shalat. Ayah bertakbir, aku melihat dengan jelas gerakakan bibirnya yang biru mungucap kalimat “allahu akbar” dan kulihat ia mencoba menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Setelah itu ia tak bergerak apapun. Turun-naik perutnya yang kuruspun tak lagi ada. Ayah sudah tak bernafas.
“inalilahi wa inailahirajiun” kata ibu pelan sambil mengeluarkan air mata dari mata yang sudah bengkak
“bu,ayah belum meninggal” kataku gontai tak percaya                              
“ayahmu sudah kembali nak” kata ibu menyadarkanku
Ku lihat kakak dan adik ku yang memeluk ibuku, mereka menangis dalam pelukan ibu ku sedangkan aku spontan berdiri namun keseimbangan tak penuh,aku hampir jatuh. Ku lihat ayah. Ku cerna baik-baik apa yang kulihat, ku pikirkan baik-baik, beberapa menit aku berfikir dan dengan hati yang guncang serta pilu ku yakini kini ayah telah tiada,dan aku seorang anak yatim.
Aku berjalan menghadap jendela, ku telephon keluarga dan kerabat jauh. Ku kabarkan bahwa ayahku telah meninggal. aku sambil menatap kosong langit dan kulihat langit yang mendung perlahan-lahan menjauh dari atap rumahku. Ayahku sepertinya mengikuti awan itu. Aku menangis histeris,kesabaranku mulai luntur. ibuku datang mendekapku,aku terus menangis dipelukan ibu.
“bu, rindu ayah….. aku gak mau ayah pergi”
“istigfar sayang,ayah milik Allah bukan milik kita. Kitapun nanti akan kembali” ibu menasehati
 “miftha anak ibu sayang…. Harus kuat nak” kata ibu jua menangis sambil memeluk ku sedangkan ke dua saudaraku telah sadar dan mereka tak henti terus membacakan ayat-ayat qur’an untuk melepas kepergian ayah.
 “ibu….aku sayang ayah sangat sayang “ kataku terisak-isak masih belum mampu melepas kepergian ayah. Perlahan-lahan kenangan tentang ayah berputar dikepalaku dari awal sampai akhir…..
  Tahun 2000
Dengan seragam Sekolah Dasar aku siap berangkat menuju SD KARTIKA V-5  Tanah Paser bersama ayah yang telah siap mengantar mengunakan sepeda ontel kesayangannya yg berwarna hitam merk polygon. Sepanjang jalan aku tersenyum karena hari ini hari pertama aku masuk sekolah. Ku peluk pinggang ayah, selain karena aku takut jatuh lewat pelukan ini jua aku ingin mengucapkan terimakasih pada ayah karena telah menyekolahkanku. Sampai digerbang Sekolah Dasar KARTIKA V-5 ayah menggenggam erat tanganku. Aku melihatnya,wajah yang tampan,kulit sawo mateng,hidung yang mancung, warna mata yang coklat,rambut yang lurus,perawakan yang sedang serta tinggi sekitar 170 cm lebih. Itulah sosok ayahku.
“ayah, nanti aku duduk dimana ?” kataku dengan polos bertanya
“cari bangku paling depan ya,agar mudah mengerti” ayah memberi saran tapi nyatanya aku memilih bangku nomor 2 dari belakang karena menurutku dengan disini aku tak akan mudah dimarahi oleh guru. Saat ayah melihat bangku pilihanku,ia hanya tersenyum kepadaku.
Tak terasa sebentar lagi caturwulan yang pertama,aku belum bisa membaca dan menulis. Ibu selalu mengajari menulis di waktu malam,namun aku terlalu sulit untuk mengerti. Mungkin karena ajaran ibu ku yang terlalu lembut,mungkin. Ada yang beda pada malam ini,ayah turun tangan langsung mengajariku.bayangkan, ayah tak segan-segan berkata keras saat aku susah mengerti. Entah kenapa aku cepat mudeng dengan cara ayah ini.
“tulis a-y-a-h” kata ayah dan aku mengikuti.benar
“tulis i-b-u b-u-d-I” kata ayah dan aku mengikuti.benar lagi
“tulis p-o-h-o-n” kata ayah dan aku menulis p-u-h-u-n
“huruf o mif, bukan u” kata ayah lembut kali ini dan aku mengangguk 
Esok haripun tiba, aku penasaran seperti apa sih ulangan caturwulan pertama itu dan sebentar lagi pun aku akan mengalami keadaan ulangan itu seperti apa. Bu guru memberi lembaran kosong yang harus isi oleh murid. Dikte.
1. rahasiya rani → salah
2.bunga mawar yang indah→betul
3.puhun cemara tati→salah
4.di waktu malam akan ada bolan→salah
5.bulan dan balon nani berwarna hijau→betul
Itulah hasil ulangan caturwulan pertamaku, ayah tersenyum melihat walau aku banyak melakukan kesalahan. Sebenarnya aku juga sedih tapi senyum ayahku menghapus rasa sedihku. Aku rasa ia memaklumi kesalahan yang ku perbuat.
Waktu terus berjalan dan kini aku telah tumbuh menjadi perempuan yang setengah ABG, Sekolah Menengah Pertama. Setelah melewati 6 tahun sekolah dasar ditambah ujian segala macam,alhamdulilah aku masuk kesebuah sekolah favorit yaitu SMPN 2 Tanah paser. Pertama aku masuk gerbang SMPN 2 untuk melakukan pendaftaran,aku sudah kagum dengan lokasinya,ada apa dengan lokasinya ? karena sekolah ini berada di pinggir sebuah jalan dataran tinggi,jadi lokasinya ada tanah-tanah yang tinggi namun ada tangga yang di bangun untuk sampai ke daerah atau lokasi bangunan yang tinggi itu, di belakang sekolah ada hutan yang memiliki pohon yang besar dan angin yang bertiup dengan sejuk. Kebayangkan nyamannya belajar di temani angin yang sepoi-sepoi. Aku berharap sekali dapat menjadi siswi di Sekolah nan sejuk ini. Kabulkanlah ya Allah….
betul,alhamdulilah aku lolos seleksi dan sekarang aku siswi sekolah nan sepoi-sepoi. Seminggu sebelum masuk sekolah aku sudah membeli peralatan sekolah,seragam,dan ada sebuah kejutan yang sangat membahagiankan,kakak ku membelikanku sepeda polygon berwarna biru,ia membelikanku sepeda dengan tujuan agar aku tak merepotkannya di pagi hari dengan meminta antar. Ada satu hal yang membuatku terkejut. kawan,ternyata masuk Sekolah Menengah Pertama tidaklah sama dengan awal masuk Sekolah Dasar, ada sebuah kalimat yang merepotkan bagiku yaitu “MOS” atau Masa Orientasi Siswa,uuuhhh rasanya sebuah kegiatan yang melelahkan tapi ada tujuan  di balik kegiatan itu.
hari ini, hari minggu dan esok tentunya senin. Kami melakukan rutinitas seperti biasanya ayah dan kakak  pergi berjualan ke pasar. Ayahku merupakan keturunan seorang anak penjual yang bisa di katakan sukses di kampung halamanku,jadi berjualan adalah bakat keturunan.hehe.
Jika di alur gang ku ada pemadaman listrik, aku sering minta ditemani tidur oleh ayah dan ibu ku. pada saat- saat seperti itu, ayah kerap bercerita kepada ku tentang pengalamannya berjualan. Dari jualan sayur keliling sampai jualan makanan di kapal laut. Banyak kejadian lucu dan konyol yang kerap menimpa ayahku misalnya, dulu ayah juga pernah menjadi penjual buah, karena pada saat itu pengalaman pertama ayah, ayah masih belum terlalu mengerti berapa jangka waktu  buah itu akan bertahan jadi ayah membeli sekitar 1 mobil penuh,sangat banyak. Alhasil, hampir separuh buah itu lembek duluan dan tak bisa dijual dengan harga tinggi lagi.uhh ayah…
Jika ayah bercerita banyak tentang pengalaman berjualannya, aku cepat sekali tertidur. Hal itu terjadi karena mungkin menurutku dulu, topik yang ayah ceritakan sangat membosankan.haha.
Handphone ibu ku berbunyi
“assalamualaikum”
“inalilahi wa inailahirajiun, astagfirullah. Yuhapa ?”
“iih, kaina kami bulikan’’ mama ku mengakhiri pembicaran via telephone dan ku kini ku lihat ibu menangis dan bingung. Aku sangat bingung, namun beberapa menit kemudian ibu memeluk ku dan berkata “ nenek hulu mu, meninggal mif”
“ya allah….” Kataku lemas. Sudah sekitar 3 tahun, aku tak pulang ke kampung dan tak berjumpa dengan nenek,kini aku tak akan bisa berjumpa nenek lagi. Aku menangis mengingat ciuman hangat nenek ku yang selalu ku dapat jika aku pulang ke kampung. Sebenarnya aku paling tak suka jika pipi ku di cium tapi nenek tak pernah minta izin jika ingin menciumku, mau tak mau aku hanya bisa ternyum kepada nenek.
“ibu dan ayah akan pulang ke kampung kah ?”
“kita sekeluarga akan pulang” kata ibu, yang kini sibuk menghubungi ayah dan kakak ku yang sedang berada di pasar.
Ayah dan kakak ku telah tiba di rumah, setelah berfikir sebentar ayah memutuskan aku dan ayah akan tinggal di sini karena esok aku awal masuk SMP. Ibu setuju.
Aku sedih karena tak bisa pulang ke banjar untuk menghadiri pemakaman nenek tersayang ku.
Nenek yg ku sayang, semoga Allah menempatkanmu bersama orang-orang yg beriman
Waktu berlalu, hari ini awal aku masuk sekolah. dalam kegiatan mos kami di suruh menguncir rambut sebanyak 5 kunciran. Haha.  Jam 5 subuh, aku meminta tolong ayah menguncirkan rambut ku menggunakan tali rapia sebanyak 5 kunciran. Ayah terlihat bingung dan lama sekali menguncir rambutku. Alhamdulilah, jam 7 ayah mengantarku  pergi ke sekolah . Sampai gerbang SMPN 2  Tanah Paser, ayah menggenggam erat tanganku, aku melihat wajah tampannya. Walau kerutan di wajahnya bertambah banyak dari 6 tahun yang lalu ketika ia mengantarkanku di gerbang SD KARTIKA V-5,  namun ketampanan ayah ku tak pernah pudar di mataku. Kepribadiannya yang bertanggung jawab dan penyayang membuatku bangga menatapnya.  Aku terseyum.
Waktu berlalu terus tanpa berhenti walau sedetik serta tanpa kembali mundur walau sedetik pula. Banyak hal yang terlalui dan di lalui namun dari semua hal itu kebersamaan ku dan ayahlah yang tak terasa. Dan kini, ayah sekarang hanya bisa berdiam diri dirumah karena terkena stroke ringan. Langkah yang dahulu cepat berubah menjadi lambat bahkan sangat lambat, bicara yang panjang lebar pun berubah menjadi anggukan atau gelengan kepala saja. Ooohh ayahku sayang, sabarlah.
Sakitnya ayah berdampak buruk bagi ekonomi keluargaku, dari ekonomi pas-pasan sampai ekonomi yang sekarat. Biaya pengobatan dan biaya hidup kadang tak terpenuhi.uhhhh. kakakku berhenti sekolah dan mencari pekerjaan. Ku lihat wajahnya, sendu dan pasrah namun ia tetap tersenyum saat pulang bekerja. Aku bersyukur Allah menghadirkan sosok seperti kakak ku dalam kehidupan keluargaku. Kakak yang bertanggung jawab dan rela berkorban.
Suatu hari, ketika aku pulang dari sekolah dan menjemput ade ku, aku mendapat kabar yang mengejutkan. Rumah sahabat terbaik ku mengalami kebakaran. Inalilahi wa inailahi rajiun. Tanpa pikir panjang, aku dan adeku melancong menuju tempat sabahatku. Setelah sampai, ku lihat ia. Aku memberikan dukungan dan memeluk sahabat tersayangku ini. Aku ikut menangis dalam tangisnya. Semuanya terbakar habis, kecuali motor dan baju yang ia kenakan. Sabarlah sahabatku
Aku cukup lama berada di tempat sahabatku. ketika pulang ke rumah, aku tak melihat ayahku. Aku bingung kemana ayah pergi, biasanya ayah hanya berada di sekitar rumah untuk berlatih otot-otot kaki. Ku cari-cari di sekitar rumah, tak ada ku lihat. Aku sangat khawatir namun aku bingung mencari ayah kemana lagi.
Pikiranku melayang kemana-mana. Mungkinkah ayah pergi dari rumah ? mungkinkah ayah pulang ke kampung ? tapi kenapa ayah tak memberi tahu kami. Atau mungkin ayah, pergi ke pasar menemani ibu ku berjualan, tapi tak mungkin. Ayah kerap mengalami sakit kepala jika berada di tempat yang bising. Akhirnya, dari pada pikiranku  melayang entah berpikir apa, sebaiknya aku menunggu ayah. Ya, aku menunggu ayah tepat di depan pintu. Kawan, menunggu depan pintu ini sebenarnya adalah tindakan yang selalu ayahku lakukan ketika menunggu ibu ku pulang dari pasar, menunggu kakak ku pulang dari kerjaan, atau menunggu aku  dan ade ku pulang dari sekolah. Mungkin, ayah terlalu bosan jika lama berada di dalam rumah. Lama aku dan ade ku menunggu di depan pintu, dari jauh ku lihat ayah berjalan pelan turun dari ojek. Aku berlari menjemput ayah ku dan ku lihat wajahnya yang sawo matang terlihat merah karena ke panasan, ku lihat juga keringatnya yang mengalir  dari dahi.
Aku sangat khawatir melihat kondisi ayahku seperti ini, sesampai di rumah aku bertanya kepadanya.
“ayah, dari mana ?”
 “ayah dari sekolahmu,mif”
“ayah,ngapain ke sekolah mifta ? mifta udah pulang jam 2 tadi”
“ayah, mencari kalian. Sampai jam 4 ayah tunggu. Mifta dan asya belum pulang” kata ayah menjelaskan dengan wajah yang khawatir.
“maaf, yah….” Aku berkata pelan, aku merasa sangat bersalah karena membuat ayah sangat khawatir, membuat ayah menunggu lama, dan membuat ayah sampai berjalan mencari ku dan ade ku. ku hidupkan kipas angin agar ayahku berhenti kepanasan, ku buatkan teh panas dan nasi goreng karena ku tahu pasti ayah sangat lelah dan kehabisan tenaga. Setelah makan dan duduk sebentar, ayah tertidur dengan pulas. Ku memandang ayah sekilas. Sungguh, aku merasa sangat bersalah dan pada saat itu aku berjanji tak akan membuat ayahku khawatir lagi, aku akan selalu memberitahu ayah dan meminta izin jika hendak pergi atau terlambat pulang.
Begitulah ayahku, ia selalu berkata agar jangan terlambat pulang dan memberi tahu jika terjadi sesuatu.
Kini, kata “jangan terlambat pulang” yang sering ayah ucapkan padaku dan kepada saudaraku begitu segar di ingatan dan mengakhiri ingatan memoriku tentang ayah.  Air mataku masih mengalir deras bak air terjun, ibu masih memeluk ku dengan erat.
“mari kita makam kan ayah” ajak ibu sambil mengelus kepalaku
Segala proses telah selesai, adzan ashar telah berkumandang. Para keluarga, sahabat, dan kerabat ayah sudah melakukan sembahyang jenazah. Kini, kami semua harus mengantarkan ayah ke pembaringan terakhirnya.
Perlahan tapi pasti tanah-tanah itu menutup wajah ayahku. Aku menahan air mataku. Jantungku  berdetak kencang,  hati ku terasa tak karuan, otot-otot kaki ku terasa lemah. Tatapanku hanya tertuju pada badan ayah yang mulai tak terlihat. Allah……..
Kini ayah telah pulang. Pulang  yang berarti kembali. setelah perjalanan panjang, ayah kembali kepada pemilik jiwa. ALLAH.

 Ayahku…..
November  2013
Terkadang engkau mencintaiku dengan cara yang membuatku takut
Terkadang engkau menjagaku dengan cara membuatku terkurung
Tetapi…. Kini aku rindu dengan semua caramu
Ayah,rindu ini hanya ALLAH yang tahu
Betapa  rapuhnya aku kadang kala menghadapi badai hidup yang silih berganti tanpa jeda
Betapa lemahnya aku dalam mengambil sikap untuk menjadi tegas, setegas dirimu.
Ayah,kini ku lihat engkau semakin lemah
Betapa hancurnya aku melihat keadaan ini,aku ingin kesembuhanmu
Betapa takutnya aku jika aku menjadi seorang anak yatim.
februari 2014
Ketakutan itu kini sudah ku alami, sejak 3 Januari 2014 aku adalah seorang yatim…
Allah swt lebih menyayangi ayah dari pada aku dan kelurgaku.
Ayah… semoga engkau selalu dalam buaian rahmat sang Pencipta
Ayah… semoga engkau bersama dengan rasullulah  yang mulia
Ayah…semoga engkau berada di tempat terindah
Rabbigfirli waliwalidayah warhamhuma kamma rabbayanisyagiro.aamiin
Anakmu



 

 Hijab sempurna untuk ku....

Aku adalah seorang manusia yang terlahir sebagai salah satu dari sekian triliun jiwa  perempuan di muka bumi ini. Ya, aku adalah seorang perempuan.   perempuan itu memiliki dunia yang unik juga menarik. Perempuan dilengkapi dengan kelembutan juga rasa kasih sayang yang tinggi. Sehingga sempurnalah ia menjadi sosok ibu. Alhamdulilah,aku adalah perempuan.
Dalam islam seorang perempuan yang baliq wajib menutup auratnya secara sempurna. Jika ia meninggalkannya maka ia telah melanggar aturan dari sang pencipta.
Hijab yang sempurna.
Dulu, aku memiliki seorang teman semasa kecil. Teman SD. Namanya eka wahyuni Fatimah. Ada yang special dari temen ku yang satu ini. Selain juara kelas, ia juga  memakai kerudung ketika di luar sekolah namun di sekolah ia tak memakai kerudung. Aku heran, bukankah ini kebalik.
 Kebanyakan orang lain memakai kerudung ketika sekolah dan melepasnya ketika di luar sekolah. walau aku heran tapi aku tak ingin tahu kenapa aku heran. Haha. Maklum, pemikiran anak SD.
Keheranan ku ini kembali muncul ketika aku duduk di kelas 3 SMP. Ketika itu entah kenapa aku ingin memakai kerudung, aku memakai kerudung beberapa hari ketika keluar rumah namun aku tak memakai kerudung ketika bersekolah. Aku terus memakai kerudung ketika keluar dari rumah, perasaanku ada yang salah ketika keluar rumah tak memakai kerudung. Ada seorang temanku yang heran dengan sikapku karena ini kebalik katanya. Haha. Teringatlah aku dengan eka wahyuni Fatimah.
Lama aku berfikir dan akhirnya aku tahu kenapa aku melakukan ini. Aku menguji diriku sendiri.  Aku mengawali memakai kerudung bukan didalam sebuah institusi pembelajaran seperti sekolah,karena apa? Karena aku banyak melihat fakta bahwa sebagian teman-teman sekolahku akan melepas kerudungnya ketika keluar dari sekolah. takut sama guru agama jika tak memakai kerudung di dalam sekolah, panas juga. Enak diluar gak pake kerudung lebih modis. Kata-kata itulah yang membuatku takut untuk memakai kerudung ketika sekolah lagian udah kelas 3 juga. Bentar lagi lulus. Aku takut seperti mereka yang memakai kerudung karena takut oleh guru agama saja. Aitss, ternyata  itu hanya ketakutan belaka, dan proses menunda tanpa sadar.
Awal masuk SMK aku telah memakai kerudung baik itu diluar maupun di dalam sekolah, aku telah yakin bahwa aku tak akan melepas kerudung ini di situasi apapun. Aku akan berusaha taat dalam kondisi apapun dan dimana pun.  
Kawan, ternyata menutup aurat dalam islam adalah kewajiban bukan pilihan. Dahulu aku berfikir menutup aurat itu pilihan. Jika hati belum siap yaa gak apa-apa tidak pakai kerudung. Lagian belum dapat hidayah untuk memakainya. Kalimatnya benar, benar-benar salahnya. Bagaimana mungkin, hidayah belum dapat coba ? lagian masak iya hati yang di kerudungin, horror  baah :D
Hidayah dan hati kerap menjadi kambing hitam atas ketidaktahuan kita serta kemalasan kita untuk belajar lebih dalam tentang agama yang kita anut. Hidayah telah Allah SWT turunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril yang berupa kitab suci Al-qur’an.
Lantas, jika kita berkata belum dapat hidayah apa tidak diprotes oleh malaikat jibril,entar dia marah lo.
Seharusnya kita bukan menyalahkan hidayah, karena hidayah tak tahu apa-apa. Hehe. Mari, kita pertanyakan pada diri kita sendiri, sejauh mana usaha kita untuk mempelajari  hukum islam dan peraturan islam dalam kehidupan. Allah SWT dengan sangat jelas mewajibkan memakai jilbab dan kerudung bagi perempuan yang telah baliq dan yang telah terikat oleh hukum syara. Coba di buka deh, Al-qur’an nya. Perintahnya ada di surah an-nur ayat 31 dan al-ahzab ayat 59.
﴿ ÙˆَÙ„ْÙŠَضْرِبْÙ†َ بِØ®ُÙ…ُرِÙ‡ِÙ†َّ عَÙ„َÙ‰ٰ جُÙŠُوبِÙ‡ِÙ†َّ …﴾
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya …” (TQS an-Nur [24]: 31)


﴿ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا النَّبِÙŠُّ Ù‚ُÙ„ْ Ù„ِØ£َزْÙˆَاجِÙƒَ ÙˆَبَÙ†َاتِÙƒَ ÙˆَÙ†ِسَاءِ الْÙ…ُؤْÙ…ِÙ†ِينَ ÙŠُدْÙ†ِينَ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِÙ†َّ Ù…ِÙ†ْ جَÙ„َابِيبِÙ‡ِÙ†َّ﴾
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (TQS al-Ahzab [33]: 59)

Kalau udah buka, hayo. Masih mau nyalahin hidayah lagi. Okeh, kita  setuju bukan hidayah yang salah tapi hati. Lah, piye iki ? hehhe
Hatinya belum sreg memakai kerudung, lagian kalau gak ikhlas juga percuma. Naahhh ini  neh kalimat yang juga benar tapi benar salahnya. Kok tunggu hati.
Ikhlas gak ikhlas itu masalah Allah. Entar jika sudah jadi kebiasaan akan ikhlas. Lagian, cerminan hati itu baik atau tidak akan terlihat dari luarnya. Jika yang berkerudung saja belum tentu hatinya beriman apalagi yang tidak bekerudung, sudah tau lah. Beriman atau tidak berimannya seseorang itu dapat di katakan apabila tingkah lakunya dan prilakunya sesuai dengan hukum syara. Baik niatnya maupun caranya.  Right ? sure.
Ayo, kawan-kawan ku, pakailah kerudung dan jilbab mu. Selain itu adalah kewajiban, dengan memakai kerudung dan jilbab juga identitas kita sebagai perempuan muslim terlihat.
Kalimat puitisnya neh kurang lebih seperti ini dan ini ku persembahkan untukmu.

Ana uhibbuki fillah
Jika ia bintang, walau tertutup awan maka ia akan tetap bersinar  ;)

Rabu, 04 Maret 2015

Sejarah Singkat Imam Tirmizi

Khazanah keilmuan Islam klasik mencatat sosok Imam Tirmizi sebagai salah satu periwayat dan ahli Hadits utama, selain Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan sederet nama lainnya. Karyanya, Kitab Al Jami’, atau biasa dikenal dengan kitab Jami’ Tirmizi, menjadi salah satu rujukan penting berkaitan masalah Hadits dan ilmunya, serta termasuk dalam Kutubus Sittah (enam kitab pokok di bidang Hadits) dan ensiklopedia Hadits terkenal. Sosok penuh tawadhu’ dan ahli ibadah ini tak lain adalah Imam Tirmizi.
Dilahirkan pada 279 H di kota Tirmiz, Imam Tirmizi bernama lengkap Imam Al-Hafiz Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah bin Musa bin Ad-Dahhak As-Sulami At-Tirmizi. Sejak kecil, Imam Tirmizi gemar belajar ilmu dan mencari Hadits. Untuk keperluan inilah ia mengembara ke berbagai negeri, antara lain Hijaz, Irak, Khurasan, dan lain-lain.
Dalam lawatannya itu, ia banyak mengunjungi ulama-ulama besar dan guru-guru Hadits untuk mendengar Hadits dan kemudian dihafal dan dicatatnya dengan baik. Di antara gurunya adalah; Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud. Selain itu, ia juga belajar pada Imam Ishak bin Musa, Mahmud bin Gailan, Said bin Abdurrahman, Ali bin Hajar, Ahmad bin Muni’, dan lainnya.
Perjalanan panjang pengembaraannya mencari ilmu, bertukar pikiran, dan mengumpulkan Hadits itu mengantarkan dirinya sebagai ulama Hadits yang sangat disegani kalangan ulama semasanya. Kendati demikian, takdir menggariskan lain. Daya upaya mulianya itu pula yang pada akhir kehidupannya mendapat musibah kebutaan, dan beberapa tahun lamanya ia hidup sebagai tuna netra. Dalam kondisi seperti inilah, Imam Tirmizi meninggal dunia. Ia wafat di Tirmiz pada usia 70 tahun.
Di kemudian hari, kumpulan Hadits dan ilmu-ilmunya dipelajari dan diriwayatkan oleh banyak ulama, di antaranya; Makhul ibnul-Fadl, Muhammad bin Mahmud Anbar, Hammad bin Syakir, Abd bin Muhammad An-Nasfiyyun, Al-Haisam bin Kulaib Asy-Syasyi, Ahmad bin Yusuf An-Nasafi, Abul-Abbas Muhammad bin Mahbud Al-Mahbubi, yang meriwayatkan kitab Al-Jami’ daripadanya, dan lain-lain. Mereka ini pula murid-murid Imam Tirmizi.
Banyak kalangan ulama dan ahli Hadits mengakui kekuatan dan kelebihan dalam diri Imam Tirmizi. Selain itu, kesalehan dan ketakwaannya pun tak dapat diragukan lagi. Salah satu ulama itu, Ibnu Hibban Al-Busti, pakar Hadits, mengakui kemampuan Tirmizi dalam menghafal, menghimpun, menyusun, dan meneliti Hadits, sehingga menjadikan dirinya sumber pengambilan Hadits para ulama terkenal, termasuk Imam Bukhari.
Sementara kalangan ulama lainnya mengungkapkan, Imam Tirmizi adalah sosok yang dapat dipercaya, amanah, dan sangat teliti. Kisah yang dikemukakan Al-Hafiz Ibnu Hajar dalam Tahzib At-Tahzibnya, dari Ahmad bin Abdullah bin Abu Dawud, berikut adalah salah satu bukti kelebihan sang Imam :
Saya mendengar Abu Isa At-Tirmizi berkata, “Pada suatu waktu dalam perjalanan menuju Mekkah, dan ketika itu saya telah menulis dua jilid buku berisi Hadits-hadits berasal dari seorang guru. Guru tersebut berpapasan dengan kami. Lalu saya bertanya-tanya mengenai dia, mereka menjawab bahwa dialah orang yang kumaksudkan itu. Kemudian saya menemuinya. Dia mengira bahwa ‘dua jilid kitab’ itu ada padaku. Ternyata yang kubawa bukanlah dua jilid tersebut, melainkan dua jilid lain yang mirip dengannya. Ketika saya bertemu dengannya, saya memohon kepadanya untuk mendengar Hadits, dan ia mengabulkan permohonan itu. Kemudian ia membacakan Hadits yang telah dihafalnya. Di sela-sela pembacaan itu ia mencuri pandang dan melihat bahwa kertas yang kupegang ternyata masih putih bersih tanpa ada tulisan sesuatu apa pun. Melihat kenyataan itu, ia berkata, ‘Tidakkah engkau malu kepadaku?’ Lalu aku bercerita dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang ia bacakan itu telah kuhafal semuanya. ‘Coba bacakan!’ perintahnya. Aku pun membacakan seluruhnya secara beruntun. Ia bertanya lagi, ‘Apakah telah engkau hafalkan sebelum datang kepadaku?’ Aku menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian saya meminta lagi agar dia meriwayatkan Hadits yang lain. Ia pun kemudian membacakan 40 Hadits yang tergolong Hadits-hadits sulit atau gharib lalu berkata, ‘Coba ulangi apa yang kubacakan tadi!’ Lalu aku membacakannya dari pertama sampai selesai, dan ia berkomentar, ‘Aku belum pernah melihat orang seperti engkau.’ “
Selain dikenal sebagai ahli dan penghafal Hadits, mengetahui kelemahan-kelemahan dan perawi-perawinya, Imam Tirmizi juga dikenal sebagai ahli fiqh dengan wawasan dan pandangan luas. Pandangan-pandangan tentang fiqh itu misalnya, dapat ditemukan dalam kitabnya Al-Jami’.
Kajian-kajiannya mengenai persoalan fiqh ini pula mencerminkan dirinya sebagai ulama yang sangat berpengalaman dan mengerti betul duduk permasalahan yang sebenarnya. Sebagai tamsil, penjelasannya terhadap sebuah Hadits mengenai penangguhan membayar piutang yang dilakukan si berutang yang sudah mampu, sebagai berikut: “Muhammad bin Basysyar bin Mahdi menceritakan kepada kami. Sufyan menceritakan kepada kami, dari Abi Az-Zunad, dari Al-Arai dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, bersabda: Penangguhan membayar utang (yang dilakukan oleh si berutang) yang mampu adalah suatu kezaliman. Apabila seseorang di antara kamu dipindahkan utangnya kepada orang lain yang mampu membayar, hendaklah pemindahan utang itu diterimanya.”
Bagaimana penjelasan sang Imam? Berikut ini komentar beliau, “Sebagian ahli ilmu berkata: ‘Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang mampu membayar dan ia menerima pemindahan itu, maka bebaslah orang yang memindahkan (muhil) itu, dan bagi orang yang dipindahkan piutangnya (muhtal) tidak dibolehkan menuntut kepada muhil.’ Sementara sebagian ahli lainnya mengatakan: ‘Apabila harta seseorang (muhtal) menjadi rugi disebabkan kepailitan muhal ‘alaih, maka baginya dibolehkan menuntut bayar kepada orang pertama (muhil). Alasannya adalah, tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim. Menurut Ibnu Ishak, perkataan ‘Tidak ada kerugian atas harta benda seorang Muslim’ ini adalah ‘Apabila seseorang dipindahkan piutangnya kepada orang lain yang dikiranya mampu, namun ternyata orang lain itu tidak mampu, maka tidak ada kerugian atas harta benda orang Muslim (yang dipindahkan utangnya) itu’.” demikian penjelasan Imam Tirmizi.
Ini adalah satu contoh yang menunjukkan kepada kita, betapa cemerlangnya pemikiran fiqh Imam Tirmizi dalam memahami nash-nash Hadits, serta betapa luas dan orisinal pandangannya itu. Hingga meninggalnya, Imam Tirmizi telah menulis puluhan kitab, diantaranya: Kitab Al-Jami’, terkenal dengan sebutan Sunan at-Tirmizi, Kitab Al-‘Ilal, Kitab At-Tarikh, Kitab Asy-Syama’il an-Nabawiyyah, Kitab Az-Zuhd, dan Kitab Al-Asma’ wal-Kuna.
Selain dikenal dengan sebutan Kitab Jami’ Tirmizi, kitab ini juga dikenal dengan nama Sunan At-Tirmizi. Di kalangan muhaddisin (ahli Hadits), kitab ini menjadi rujukan utama, selain kitab-kitab hadits lainnya dari Imam Bukhari maupun Imam Muslim.
Kitab Sunan Tirmizi dianggap sangat penting lantaran kitab ini betul-betul memperhatikan ta’lil (penentuan nilai) Hadits dengan menyebutkan secara eksplisit Hadits yang sahih. Itu sebabnya, kitab ini menduduki peringkat ke-4 dalam urutan Kutubus Sittah, atau menurut penulis buku Kasyf Az Zunuun, Hajji Khalfah (w. 1657), kedudukan Sunan Tirmizi berada pada tingkat ke-3 dalam hierarki Kutubus Sittah.
Tidak seperti kitab Hadits Imam Bukhari, atau yang ditulis Imam Muslim dan lainnya, kitab Sunan Tirmizi dapat dipahami oleh siapa saja, yang memahami bahasa Arab tentunya. Dalam menyeleksi Hadits untuk kitabnya itu, Imam Tirmizi bertolak pada dasar apakah Hadits itu dipakai oleh fuqaha (ahli fikih) sebagai hujjah (dalil) atau tidak. Sebaliknya, Tirmizi tidak menyaring Hadits dari aspek Hadits itu dhaif atau tidak. Itu sebabnya, ia selalu memberikan uraian tentang nilai Hadits, bahkan uraian perbandingan dan kesimpulannya.
Diriwayatkan, bahwa ia pernah berkata: “Semua Hadits yang terdapat dalam kitab ini adalah dapat diamalkan.” Oleh karena itu, sebagian besar ahli ilmu menggunakannya (sebagai pegangan), kecuali dua Hadits, yaitu: Pertama, yang artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW menjamak shalat Dhuhur dengan Ashar, dan Maghrib dengan Isya, tanpa adanya sebab takut dan dalam perjalanan.” Juga Hadits, “Jika ia peminum khamar, minum lagi pada yang keempat kalinya, maka bunuhlah dia.” Hadits mengenai hukuman untuk peminum khamar ini adalah mansukh (terhapus) dan ijma’ ulama pun menunjukkan demikian. Sedangkan mengenai shalat jamak, para ulama berbeda pendapat atau tidak sepakat untuk meninggalkannya. Sebagian besar ulama berpendapat boleh hukumnya melakukan shalat jamak di rumah selama tidak dijadikan kebiasaan. Pendapat ini adalah pendapat Ibn Sirin dan Asyab serta sebagian besar ahli fiqh dan ahli Hadits juga Ibn Munzir.
Beberapa keistimewaan Kitab Jami’ atau Sunan Tirmizi adalah, pencantuman riwayat dari sahabat lain mengenai masalah yang dibahas dalam Hadits pokok (Hadits al Bab), baik isinya yang semakna maupun yang berbeda, bahkan yang bertentangan sama sekali secara langsung maupun tidak langsung.
Selain itu, keistimewaan yang langsung kaitannya dengan ulum al Hadits (ilmu-ilmu Hadits) adalah masalah ta’lil Hadits. Hadits-hadits yang dimuat disebutkan nilainya dengan jelas, bahkan nilai rawinya yang dianggap penting. Kitab ini dinilai positif karena dapat digunakan untuk penerapan praktis kaidah-kaidah ilmu Hadits, khususnya ta’lil Hadits tersebut.
Sumber: http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=172


Sejarah Singkat Imam Muslim


Imam Muslim dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan Maa Wara’a an Nahr, artinya daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa Dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150 tahun. Seperti halnya Baghdad di abad pertengahan, Naisabur, juga Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari) sebagai salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Di sini pula bermukim banyak ulama besar.
Perhatian dan minat Imam Muslim terhadap ilmu hadits memang luar biasa. Sejak usia dini, beliau telah berkonsentrasi mempelajari hadits. Pada tahun 218 H, beliau mulai belajar hadits, ketika usianya kurang dari lima belas tahun. Beruntung, beliau dianugerahi kelebihan berupa ketajaman berfikir dan ingatan hafalan. Ketika berusia sepuluh tahun, Imam Muslim sering datang dan berguru pada seorang ahli hadits, yaitu Imam Ad Dakhili. Setahun kemudian, beliau mulai menghafal hadits Nabi SAW, dan mulai berani mengoreksi kesalahan dari gurunya yang salah menyebutkan periwayatan hadits.
Selain kepada Ad Dakhili, Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak ulama di berbagai tempat dan negara. Berpetualang menjadi aktivitas rutin bagi dirinya untuk mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah hadits. Beliau, misalnya pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam lawatannya itu, Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, beliau berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray beliau berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu ‘Ansan. Di Irak beliau belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz beliau belajar kepada Sa’id bin Mansur dan Abu Mas ‘Abuzar; di Mesir beliau berguru kepada ‘Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan ulama ahli hadits lainnya.
Bagi Imam Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah beliau berkali-kali berkunjung untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits. Kunjungannya yang terakhir beliau lakukan pada tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Imam Muslim sering mendatanginya untuk bertukar pikiran sekaligus berguru padanya. Saat itu, Imam Bukhari yang memang lebih senior, lebih menguasai ilmu hadits ketimbang dirinya.
Ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az Zihli, beliau bergabung kepada Bukhari. Sayang, hal ini kemudian menjadi sebab terputusnya hubungan dirinya dengan Imam Az Zihli. Yang lebih menyedihkan, hubungan tak baik itu merembet ke masalah ilmu, yakni dalam hal penghimpunan dan periwayatan hadits-hadits Nabi SAW.
Imam Muslim dalam kitab shahihnya maupun kitab-kitab lainnya tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az Zihli, padahal beliau adalah gurunya. Hal serupa juga beliau lakukan terhadap Bukhari. Tampaknya bagi Imam Muslim tak ada pilihan lain kecuali tidak memasukkan ke dalam Kitab Shahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu. Kendatipun demikian, dirinya tetap mengakui mereka sebagai gurunya.
Imam Muslim yang dikenal sangat tawadhu’ dan wara’ dalam ilmu itu telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Menurut Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar hadits pada Universitas Damaskus, Syria, hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan pengulangan, katanya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sementara menurut Imam Al Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Muslim tersebut berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang beliau tulis dalam Shahih Muslim itu diambil dan disaring dari sekitar 300.000 hadits yang beliau ketahui. Untuk menyaring hadits-hadits tersebut, Imam Muslim membutuhkan waktu 15 tahun.
Mengenai metode penyusunan hadits, Imam Muslim menerapkan prinsip-prinsip ilmu jarh, dan ta’dil, yakni suatu ilmu yang digunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu hadits. Beliau juga menggunakan sighat at tahammul (metode-metode penerimaan riwayat), seperti haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan kepada kami), akhbarana (mengabarkan kepada saya), akhabarana (mengabarkan kepada kami), dan qaalaa (ia berkata).
Imam Muslim menjadi orang kedua terbaik dalam masalah ilmu hadits (sanad, matan, kritik, dan seleksinya) setelah Imam Bukhari. “Di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Imam Muslim,” komentar ulama besar Abu Quraisy Al Hafizh. Maksud ungkapan itu tak lain adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy.

Reputasinya mengikuti gurunya Imam Bukhari

Dalam khazanah ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam bidang ilmu hadits, nama Imam Muslim begitu monumental, setara dengan gurunya, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhary al-Ju’fy atau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari. Sejarah Islam sangat berhutang jasa kepadanya, karena prestasinya di bidang ilmu hadits, serta karya ilmiahnya yang luar biasa sebagai rujukan ajaran Islam, setelah al-Qur’an. Dua kitab hadits shahih karya Bukhari dan Muslim sangat berperan dalam standarisasi bagi akurasi akidah, syariah dan tasawwuf dalam dunia Islam.
Melalui karyanya yang sangat berharga, al-Musnad ash-Shahih, atau al-Jami’ ash-Shahih, selain menempati urutan kedua setelah Shahih Bukhari, kitab tersebut memenuhi khazanah pustaka dunia Islam, dan di Indonesia, khususnya di pesantren-pesantren menjadi kurikulum wajib bagi para santri dan mahasiswa.
Pengembaraan (rihlah) dalam pencarian hadits merupakan kekuatan tersendiri, dan amat penting bagi perkembangan intelektualnya. Dalam pengembaraan ini (tahun 220 H), Imam Muslim bertemu dengan guru-gurunya, dimana pertama kali bertemu dengan Qa’nabi dan yang lainnya, ketika menuju kota Makkah dalam rangka perjalanan haji. Perjalanan intelektual lebih serius, barangkali dilakukan tahun 230 H. Dari satu wilayah ke wilayah lainnya, misalnya menuju ke Irak, Syria, Hijaz dan Mesir.
Waktu yang cukup lama dihabiskan bersama gurunya al-Bukhari. Kepada guru besarnya ini, Imam Muslim menaruh hormat yang luar biasa. “Biarkan aku mencium kakimu, hai Imam Muhadditsin dan dokter hadits,” pintanya, ketika di sebuah pertemuan antara Bukhari dan Muslim.
Disamping itu, Imam Muslim memang dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah, sebagaimana al-Bukhari yang memiliki kehalusan budi bahasa, Imam Muslim juga memiliki reputasi, yang kemudian populer namanya — sebagaimana disebut oleh Adz-Dzahabi — dengan sebutan muhsin dari Naisabur.
Maslamah bin Qasim menegaskan, “Muslim adalah tsaqqat, agung derajatnya dan merupakan salah seorang pemuka (Imam).” Senada pula, ungkapan ahli hadits dan fuqaha’ besar, Imam An-Nawawi, “Para ulama sepakat atas kebesarannya, keimanan, ketinggian martabat, kecerdasan dan kepeloporannya dalam dunia hadits.”

Kitab Shahih Muslim

Imam Muslim memiliki jumlah karya yang cukup penting dan banyak. Namun yang paling utama adalah karyanya, Shahih Muslim. Dibanding kitab-kitab hadits shahih lainnya, kitab Shahih Muslim memiliki karakteristik tersendiri, dimana Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada ekstraksi yang resmi. Beliau bahkan tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir dari satu pokok bahasan. Disamping itu, perhatiannya lebih diarahkan pada mutaba’at dan syawahid.
Walaupun dia memiliki nilai beda dalam metode penyusunan kitab hadits, Imam Muslim sekali-kali tidak bermaksud mengungkap fiqih hadits, namun mengemukakan ilmu-ilmu yang bersanad. Karena beliau meriwayatkan setiap hadits di tempat yang paling layak dengan menghimpun jalur-jalur sanadnya di tempat tersebut. Sementara al-Bukhari memotong-motong suatu hadits di beberapa tempat dan pada setiap tempat beliau sebutkan lagi sanadnya. Sebagai murid yang shalih, beliau sangat menghormati gurunya itu, sehingga beliau menghindari orang-orang yang berselisih pendapat dengan al-Bukhari.
Kitab Shahih Muslim memang dinilai kalangan muhaditsun berada setingkat di bawah al-Bukhari. Namun ada sejumlah ulama yang menilai bahwa kitab Imam Muslim lebih unggul ketimbang kitabnya al-Bukhari.
Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang kritikus hadits terbesar, yang biasanya memberikan sejumlah catatan mengenai cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim kemudian mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam Muslim tidak pernah mau membukukan hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, dan hanya meriwayatkan hadits yang diterima oleh kalangan ulama. Sehingga hadits-hadits Muslim terasa sangat populis.
Berdasarkan hitungan Muhammad Fuad Abdul Baqi, kitab Shahih Muslim memuat 3.033 hadits. Metode penghitungan ini tidak didasarkan pada sistem isnad sebagaimana dilakukan ahli hadits, namun beliau mendasarkannya pada subyek-subyek. Artinya jika didasarkan isnad, jumlahnya bisa berlipat ganda.

Antara al-Bukhari dan Muslim

Imam Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Mustafa ‘Adzami dalam bukunya Studies in Hadith Methodology and Literature, mengambil keuntungan dari Shahih Bukhari, kemudian menyusun karyanya sendiri, yang tentu saja secara metodologis dipengaruhi karya al-Bukhari.
Antara al-Bukhari dan Muslim, dalam dunia hadits memiliki kesetaraan dalam keshahihan hadits, walaupun hadits al-Bukhari dinilai memiliki keunggulan setingkat. Namun, kedua kitab hadits tersebut mendapatkan gelar sebagai as-Shahihain.
Sebenarnya para ulama berbeda pendapat mana yang lebih unggul antara Shahih Muslim dengan Shahih Bukhari. Jumhur Muhadditsun berpendapat, Shahihul Bukhari lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama Marokko dan yang lain lebih mengunggulkan Shahih Muslim. Hal ini menunjukkan, sebenarnya perbedaannya sangatlah sedikit, dan walaupun itu terjadi, hanyalah pada sistematika penulisannya saja, serta perbandingan antara tema dan isinya.
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas Shahih Muslim, antara lain, karena Al-Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits Mu’an’an; agar dapat dihukumi bahwa sanadnya bersambung. Sementara Muslim menganggap cukup dengan “kemungkinan” bertemunya kedua rawi tersebut dengan tidak adanya tadlis.
Al-Bukhari mentakhrij hadits yang diterima para perawi tsaqqat derajat utama dari segi hafalan dan keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan hadits dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sementara Muslim, lebih banyak pada rawi derajat kedua dibanding Bukhari. Disamping itu kritik yang ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding kepada al-Bukhari.
Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan — sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar —, bahwa Muslim lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya, karena menyusunnya di negeri sendiri dengan berbagai sumber di masa kehidupan guru-gurunya. Beliau juga tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab sebagaimana Bukhari lakukan. Dan sejumlah alasan lainnya.
Namun prinsipnya, tidak semua hadits Bukhari lebih shahih ketimbang hadits Muslim dan sebaliknya. Hanya pada umumnya keshahihan hadits riwayat Bukhari itu lebih tinggi derajatnya daripada keshahihan hadits dalam Shahih Muslim.

Karya-karya Imam Muslim

Imam Muslim berhasil menghimpun karya-karyanya, antara lain seperti: 1) Al-Asma’ wal-Kuna, 2) Irfadus Syamiyyin, 3) Al-Arqaam, 4) Al-Intifa bi Juludis Siba’, 5) Auhamul Muhadditsin, 7)At-Tarikh, 8) At-Tamyiz, 9) Al-Jami’, 10) Hadits Amr bin Syu’aib, 11) Rijalul ‘Urwah, 12)Sawalatuh Ahmad bin Hanbal, 13) Thabaqat, 14) Al-I’lal, 15) Al-Mukhadhramin, 16) Al-Musnad al-Kabir, 17) Masyayikh ats-Tsawri, 18) Masyayikh Syu’bah, 19) Masyayikh Malik, 20) Al-Wuhdan, 21) As-Shahih al-Masnad.
Kitab-kitab nomor 6, 20, dan 21 telah dicetak, sementara nomor 1, 11, dan 13 masih dalam bentuk manuskrip. Sedangkan karyanya yang monumental adalah Shahih dari judul singkatnya, yang sebenarnya berjudul, Al-Musnad as-Shahih, al-Mukhtashar minas Sunan, bin-Naqli al-’Adl ‘anil ‘Adl ‘an Rasulillah.

Wafatnya Imam Muslim

Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H. Semoga Allah SWT merahmatinya, mengampuni segala kesalahannya, serta menggolongkannya ke dalam golongan orang-orang yang sholeh. Amiin.
Sumber:    – http://members.tripod.com/fitrah_online/thema/des98/1298muslim.htm
                – http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=171

Sejarah Singkat Imam Bukhari



Kelahiran dan Masa Kecil Imam Bukhari


Imam Bukhari (semoga Allah merahmatinya) lahir di Bukhara, Uzbekistan, Asia Tengah. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari, namun beliau lebih dikenal dengan nama Bukhari. Beliau lahir pada hari Jumat, tepatnya pada tanggal 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 M). Kakeknya bernama Bardizbeh, turunan Persi yang masih beragama Zoroaster. Tapi orangtuanya, Mughoerah, telah memeluk Islam di bawah asuhan Al-Yaman el-Ja’fiy. Sebenarnya masa kecil Imam Bukhari penuh dengan keprihatinan. Di samping menjadi anak yatim, juga tidak dapat melihat karena buta (tidak lama setelah lahir, beliau kehilangan penglihatannya tersebut). Ibunya senantiasa berusaha dan berdo’a untuk kesembuhan beliau. Alhamdulillah, dengan izin dan karunia Allah, menjelang usia 10 tahun matanya sembuh secara total.
Imam Bukhari adalah ahli hadits yang termasyhur diantara para ahli hadits sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Ahmad, Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah. Bahkan dalam kitab-kitab fiqih dan hadits, hadits-hadits beliau memiliki derajat yang tinggi. Sebagian menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam hal Ilmu Hadits). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.
Tempat beliau lahir kini termasuk wilayah Rusia, yang waktu itu memang menjadi pusat kebudayaan ilmu pengetahuan Islam sesudah Madinah, Damaskus dan Bagdad. Daerah itu pula yang telah melahirkan filosof-filosof besar seperti al-Farabi dan Ibnu Sina. Bahkan ulama-ulama besar seperti Zamachsari, al-Durdjani, al-Bairuni dan lain-lain, juga dilahirkan di Asia Tengah. Sekalipun daerah tersebut telah jatuh di bawah kekuasaan Uni Sovyet (Rusia), namun menurut Alexandre Benningsen dan Chantal Lemercier Quelquejay dalam bukunya “Islam in the Sivyet Union” (New York, 1967), pemeluk Islamnya masih berjumlah 30 milliun. Jadi merupakan daerah yang pemeluk Islam-nya nomor lima besarnya di dunia setelah Indonesia, Pakistan, India dan Cina.

Keluarga dan Guru Imam Bukhari

Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab As-Siqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara’ dalam arti berhati-hati terhadap hal-hal yang hukumnya bersifat syubhat (ragu-ragu), terlebih lebih terhadap hal-hal yang sifatnya haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan mudir dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.
Perhatiannya kepada ilmu hadits yang sulit dan rumit itu sudah tumbuh sejak usia 10 tahun, hingga dalam usia 16 tahun beliau sudah hafal dan menguasai buku-buku seperti “al-Mubarak” dan “al-Waki”. Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadits yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, ia mengunjungi kota suci Mekkah dan Madinah, dimana di kedua kota suci itu beliau mengikuti kuliah para guru-guru besar ahli hadits. Pada usia 18 tahun beliau menerbitkan kitab pertamanya “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien).
Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.

Kejeniusan Imam Bukhari

Bukhari diakui memiliki daya hapal tinggi, yang diakui oleh kakaknya Rasyid bin Ismail. Kakak sang Imam ini menuturkan, pernah Bukhari muda dan beberapa murid lainnya mengikuti kuliah dan ceramah cendekiawan Balkh. Tidak seperti murid lainnya, Bukhari tidak pernah membuat catatan kuliah. Ia sering dicela membuang waktu karena tidak mencatat, namun Bukhari diam tak menjawab. Suatu hari, karena merasa kesal terhadap celaan itu, Bukhari meminta kawan-kawannya membawa catatan mereka, kemudian beliau membacakan secara tepat apa yang pernah disampaikan selama dalam kuliah dan ceramah tersebut. Tercenganglah mereka semua, lantaran Bukhari ternyata hafal di luar kepala 15.000 hadits, lengkap dengan keterangan yang tidak sempat mereka catat.
Ketika sedang berada di Bagdad, Imam Bukhari pernah didatangi oleh 10 orang ahli hadits yang ingin menguji ketinggian ilmu beliau. Dalam pertemuan itu, 10 ulama tersebut mengajukan 100 buah hadits yang sengaja “diputar-balikkan” untuk menguji hafalan Imam Bukhari. Ternyata hasilnya mengagumkan. Imam Bukhari mengulang kembali secara tepat masing-masing hadits yang salah tersebut, lalu mengoreksi kesalahannya, kemudian membacakan hadits yang benarnya. Ia menyebutkan seluruh hadits yang salah tersebut di luar kepala, secara urut, sesuai dengan urutan penanya dan urutan hadits yang ditanyakan, kemudian membetulkannya. Inilah yang sangat luar biasa dari sang Imam, karena beliau mampu menghafal hanya dalam waktu satu kali dengar.
Selain terkenal sebagai seorang ahli hadits, Imam Bukhari ternyata tidak melupakan kegiatan lain, yakni olahraga. Ia misalnya sering belajar memanah sampai mahir, sehingga dikatakan sepanjang hidupnya, sang Imam tidak pernah luput dalam memanah kecuali hanya dua kali. Keadaan itu timbul sebagai pengamalan sunnah Rasul yang mendorong dan menganjurkan kaum Muslimin belajar menggunakan anak panah dan alat-alat perang lainnya.

Karya-karya Imam Bukhari

Karyanya yang pertama berjudul “Qudhaya as Shahabah wat Tabi’ien” (Peristiwa-peristiwa Hukum di zaman Sahabat dan Tabi’ien). Kitab ini ditulisnya ketika masih berusia 18 tahun. Ketika menginjak usia 22 tahun, Imam Bukhari menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci bersama-sama dengan ibu dan kakaknya yang bernama Ahmad. Di sanalah beliau menulis kitab “At-Tarikh” (sejarah) yang terkenal itu. Beliau pernah berkata, “Saya menulis buku “At-Tarikh” di atas makam Nabi Muhammad SAW di waktu malam bulan purnama”.
Karya Imam Bukhari lainnya antara lain adalah kitab Al-Jami’ ash Shahih, Al-Adab al Mufrad, At Tharikh as Shaghir, At Tarikh Al Awsat, At Tarikh al Kabir, At Tafsir Al Kabir, Al Musnad al Kabir, Kitab al ‘Ilal, Raf’ul Yadain fis Salah, Birrul Walidain, Kitab Ad Du’afa, Asami As Sahabah dan Al Hibah. Diantara semua karyanya tersebut, yang paling monumental adalah kitab Al-Jami’ as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari.
Dalam sebuah riwayat diceritakan, Imam Bukhari berkata: “Aku bermimpi melihat Rasulullah saw., seolah-olah aku berdiri di hadapannya, sambil memegang kipas yang kupergunakan untuk menjaganya. Kemudian aku tanyakan mimpi itu kepada sebagian ahli ta’bir, ia menjelaskan bahwa aku akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan dari hadits-hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain, yang mendorongku untuk melahirkan kitab Al-Jami’ As-Sahih.”
Dalam menghimpun hadits-hadits shahih dalam kitabnya tersebut, Imam Bukhari menggunakan kaidah-kaidah penelitian secara ilmiah dan sah yang menyebabkan keshahihan hadits-haditsnya dapat dipertanggungjawabkan. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meneliti dan menyelidiki keadaan para perawi, serta memperoleh secara pasti kesahihan hadits-hadits yang diriwayatkannya.
Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: “Aku susun kitab Al Jami’ ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun.”
Banyak para ahli hadits yang berguru kepadanya, diantaranya adalah Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasr dan Imam Muslim bin Al Hajjaj (pengarang kitab Shahih Muslim). Imam Muslim  menceritakan : “Ketika Muhammad bin Ismail (Imam Bukhari) datang ke Naisabur, aku tidak pernah melihat seorang kepala daerah, para ulama dan penduduk Naisabur yang memberikan sambutan seperti apa yang mereka berikan kepadanya.” Mereka menyambut kedatangannya dari luar kota sejauh dua atau tiga marhalah (100 km), sampai-sampai Muhammad bin Yahya Az Zihli (guru Imam Bukhari) berkata : “Barang siapa hendak menyambut kedatangan Muhammad bin Ismail besok pagi, lakukanlah, sebab aku sendiri akan ikut menyambutnya.”

Penelitian Hadits

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadits shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadits, mengumpulkan dan menyeleksi haditsnya. Diantara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Mekkah, Madinah), Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan ulama besar Imam Ahmad bin Hanbali. Dari sejumlah kota-kota itu, ia bertemu dengan 80.000 perawi. Dari merekalah beliau mengumpulkan dan menghafal satu juta hadits.
Namun tidak semua hadits yang ia hapal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat, diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadits tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat / pembawa) hadits itu terpercaya dan tsiqqah (kuat). Menurut Ibnu Hajar Al Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al Jami’ as-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari.
Dalam meneliti dan menyeleksi hadits dan diskusi dengan para perawi tersebut, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga cukup halus namun tajam. Kepada para perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, “perlu dipertimbangkan, para ulama meninggalkannya atau para ulama berdiam dari hal itu” sementara kepada para perawi yang haditsnya tidak jelas ia menyatakan “Haditsnya diingkari”. Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Beliau berkata “Saya meninggalkan 10.000 hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadits-hadits dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan”.
Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadits, mencek keakuratan sebuah hadits ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad, Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan beliau “Saya telah mengunjungi Syam, Mesir dan Jazirah masing-masing dua kali, ke Basrah empat kali menetap di Hijaz selama enam tahun dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadits.”
Disela-sela kesibukannya sebagai sebagai ulama, pakar hadits, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir, bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.

Metode Imam Bukhari dalam Menulis Kitab Hadits

Sebagai intelektual muslim yang berdisiplin tinggi, Imam Bukhari dikenal sebagai pengarang kitab yang produktif. Karya-karyanya tidak hanya dalam disiplin ilmu hadits, tapi juga ilmu-ilmu lain, seperti tafsir, fikih, dan tarikh. Fatwa-fatwanya selalu menjadi pegangan umat sehingga ia menduduki derajat sebagai mujtahid mustaqil (ulama yang ijtihadnya independen), tidak terikat pada mazhab tertentu, sehingga mempunyai otoritas tersendiri dalam berpendapat dalam hal hukum.
Pendapat-pendapatnya terkadang sejalan dengan Imam Abu Hanifah (Imam Hanafi, pendiri mazhab Hanafi), tetapi terkadang bisa berbeda dengan beliau. Sebagai pemikir bebas yang menguasai ribuan hadits shahih, suatu saat beliau bisa sejalan dengan Ibnu Abbas, Atha ataupun Mujahid dan bisa juga berbeda pendapat dengan mereka.
Diantara puluhan kitabnya, yang paling masyhur ialah kumpulan hadits shahih yang berjudul Al-Jami’ as-Shahih, yang belakangan lebih populer dengan sebutan Shahih Bukhari. Ada kisah unik tentang penyusunan kitab ini. Suatu malam Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw., seolah-olah Nabi Muhammad saw. berdiri dihadapannya. Imam Bukhari lalu menanyakan makna mimpi itu kepada ahli mimpi. Jawabannya adalah beliau (Imam Bukhari) akan menghancurkan dan mengikis habis kebohongan yang disertakan orang dalam sejumlah hadits Rasulullah saw. Mimpi inilah, antara lain yang mendorong beliau untuk menulis kitab “Al-Jami ‘as-Shahih”.
Dalam menyusun kitab tersebut, Imam Bukhari sangat berhati-hati. Menurut Al-Firbari, salah seorang muridnya, ia mendengar Imam Bukhari berkata. “Saya susun kitab Al-Jami’ as-Shahih ini di Masjidil Haram, Mekkah dan saya tidak mencantumkan sebuah hadits pun kecuali sesudah shalat istikharah dua rakaat memohon pertolongan kepada Allah, dan sesudah meyakini betul bahwa hadits itu benar-benar shahih”. Di Masjidil Haram-lah ia menyusun dasar pemikiran dan bab-babnya secara sistematis.
Setelah itu ia menulis mukaddimah dan pokok pokok bahasannya di Rawdah Al-Jannah, sebuah tempat antara makam Rasulullah dan mimbar di Masjid Nabawi di Madinah. Barulah setelah itu ia mengumpulkan sejumlah hadits dan menempatkannya dalam bab-bab yang sesuai. Proses penyusunan kitab ini dilakukan di dua kota suci tersebut dengan cermat dan tekun selama 16 tahun. Ia menggunakan kaidah penelitian secara ilmiah dan cukup modern sehingga hadits haditsnya dapat dipertanggung-jawabkan.
Dengan bersungguh-sungguh ia meneliti dan menyelidiki kredibilitas para perawi sehingga benar-benar memperoleh kepastian akan keshahihan hadits yang diriwayatkan. Ia juga selalu membandingkan hadits satu dengan yang lainnya, memilih dan menyaring, mana yang menurut pertimbangannya secara nalar paling shahih. Dengan demikian, kitab hadits susunan Imam Bukhari benar-benar menjadi batu uji dan penyaring bagi sejumlah hadits lainnya. “Saya tidak memuat sebuah hadits pun dalam kitab ini kecuali hadits-hadits shahih”, katanya suatu saat.
Di belakang hari, para ulama hadits menyatakan, dalam menyusun kitab Al-Jami’ as-Shahih, Imam Bukhari selalu berpegang teguh pada tingkat keshahihan paling tinggi dan tidak akan turun dari tingkat tersebut, kecuali terhadap beberapa hadits yang bukan merupakan materi pokok dari sebuah bab.
Menurut Ibnu Shalah, dalam kitab Muqaddimah, kitab Shahih Bukhari itu memuat 7275 hadits. Selain itu ada hadits-hadits yang dimuat secara berulang, dan ada 4000 hadits yang dimuat secara utuh tanpa pengulangan. Penghitungan itu juga dilakukan oleh Syekh Muhyiddin An Nawawi dalam kitab At-Taqrib. Dalam hal itu, Ibnu Hajar Al-Atsqalani dalam kata pendahuluannya untuk kitab Fathul Bari (yakni syarah atau penjelasan atas kitab Shahih Bukhari) menulis, semua hadits shahih yang dimuat dalam Shahih Bukhari (setelah dikurangi dengan hadits yang dimuat secara berulang) sebanyak 2.602 buah. Sedangkan hadits yang mu’allaq (ada kaitan satu dengan yang lain, bersambung) namun marfu (diragukan) ada 159 buah. Adapun jumlah semua hadits shahih termasuk yang dimuat berulang sebanyak 7397 buah. Perhitungan berbeda diantara para ahli hadits tersebut dalam mengomentari kitab Shahih Bukhari semata-mata karena perbedaan pandangan mereka dalam ilmu hadits.

Terjadinya Fitnah

Muhammad bin Yahya Az-Zihli berpesan kepada para penduduk agar menghadiri dan mengikuti pengajian yang diberikannya. Ia berkata: “Pergilah kalian kepada orang alim dan saleh itu, ikuti dan dengarkan pengajiannya.” Namun tak lama kemudian ia mendapat fitnah dari orang-orang yang dengki. Mereka menuduh sang Imam sebagai orang yang berpendapat bahwa “Al-Qur’an adalah makhluk”.
Hal inilah yang menimbulkan kebencian dan kemarahan gurunya, Az-Zihli kepadanya. Kata Az-Zihli : “Barang siapa berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia adalah ahli bid’ah. Ia tidak boleh diajak bicara dan majelisnya tidak boleh didatangi. Dan barang siapa masih mengunjungi majelisnya, curigailah dia.” Setelah adanya ultimatum tersebut, orang-orang mulai menjauhinya.
Sebenarnya, Imam Bukhari terlepas dari fitnah yang dituduhkan kepadanya itu. Diceritakan, seseorang berdiri dan mengajukan pertanyaan kepadanya: “Bagaimana pendapat Anda tentang lafadz-lafadz Al-Qur’an, makhluk ataukah bukan?” Bukhari berpaling dari orang itu dan tidak mau menjawab kendati pertanyaan itu diajukan sampai tiga kali.
Tetapi orang itu terus mendesak. Ia pun menjawab: “Al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk, sedangkan perbuatan manusia adalah makhluk dan fitnah merupakan bid’ah.” Pendapat yang dikemukakan Imam Bukhari ini, yakni dengan membedakan antara yang dibaca dengan bacaan, adalah pendapat yang menjadi pegangan para ulama ahli tahqiq (pengambil kebijakan) dan ulama salaf. Tetapi dengki dan iri adalah buta dan tuli. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Bukhari pernah berkata : “Iman adalah perkataan dan perbuatan, bisa bertambah dan bisa berkurang. Al-Quran adalah kalam Allah, bukan makhluk. Sahabat Rasulullah SAW, yang paling utama adalah Abu Bakar, Umar, Usman, dan Ali. Dengan berpegang pada keimanan inilah aku hidup, aku mati dan dibangkitkan di akhirat kelak, insya Allah.” Di lain kesempatan, ia berkata: “Barang siapa menuduhku berpendapat bahwa lafadz-lafadz Al-Qur’an adalah makhluk, ia adalah pendusta.”

Wafatnya Imam Bukhari

Suatu ketika penduduk Samarkand mengirim surat kepada Imam Bukhari. Isinya, meminta dirinya agar menetap di negeri itu (Samarkand). Ia pun pergi memenuhi permohonan mereka. Ketika perjalanannya sampai di Khartand, sebuah desa kecil terletak dua farsakh (sekitar 10 Km) sebelum Samarkand, ia singgah terlebih dahulu untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Sebelum meninggal dunia, ia berpesan bahwa jika meninggal nanti jenazahnya agar dikafani tiga helai kain, tanpa baju dalam dan tidak memakai sorban. Pesan itu dilaksanakan dengan baik oleh masyarakat setempat. Beliau meninggal tanpa meninggalkan seorang anakpun.
Sumber:    - http://id.wikipedia.org/wiki/Imam_Bukhari
http://id.wikipedia.org/wiki/Cara_Imam_Bukhari_dalam_menulis_kitab_hadits
                – http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=173
                – http://www.almuhajir.net/article.php?fn=seribukhari1
                – http://www.indomedia.com/bpost/012000/28/opini/opini3.htm

twitter

https://twitter.com/tina_mareta