Sabtu, 07 Maret 2015




Nak,jangan terlambat pulang
Hasil gambar untuk ayah
 Awan mendung menyelimuti rumahku, bacaan-bacaan ayat suci al-qur’an serta air mata yang mengalir berpadu tanpa dikomando menghasilakan isakan yang pilu menyayat hati. Ku tatap wajah ayahku yang pucat dan tak sadarkan diri,kugenggam erat tangannya berharap aku mendapatkan kekuatan dan ketegaran darinya seperti dulu namun kini ku rasa genggamannya mulai melemah,aku panik dan terus mengucapkan kalimat syahadat dan istigfar di kuping ayah tersayangku. Ibu,adik,dan kakak ku tak kalah sedih. Mata mereka sudah merah karena dari tadi menangis dan suara mereka mulai parau dan berat.
“yah, aku harus bagaimana ?” isak ku sedih sambil memandang ayah. Dalam hatiku paling dalam aku rasa ini yang terakhir kalinya,entah kenapa. Aku coba menampik perasaanku namun aku tahu pasti dari semua kepastian di dunia ini salah satunya adalah kematian.
“Allah, ampunilah dosa ayahku. Sayangi ia,lindungi ia,berilah ia kemudahan
Ia pemimpin yag bertanggung jawab terhadap keluarganya, ia ayah yang baik hatinya
Allah,aku mohon selamatkan ia…..” hatiku memohon kepada sang Maha Kuasa
Sepertinya Allah menjawab doaku,tangan ayah yang ku genggam erat kini bergerak. Aku bingung. Ayah melakukan gerakan seperti orang yang hendak memulai shalat. Ayah bertakbir, aku melihat dengan jelas gerakakan bibirnya yang biru mungucap kalimat “allahu akbar” dan kulihat ia mencoba menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Setelah itu ia tak bergerak apapun. Turun-naik perutnya yang kuruspun tak lagi ada. Ayah sudah tak bernafas.
“inalilahi wa inailahirajiun” kata ibu pelan sambil mengeluarkan air mata dari mata yang sudah bengkak
“bu,ayah belum meninggal” kataku gontai tak percaya                              
“ayahmu sudah kembali nak” kata ibu menyadarkanku
Ku lihat kakak dan adik ku yang memeluk ibuku, mereka menangis dalam pelukan ibu ku sedangkan aku spontan berdiri namun keseimbangan tak penuh,aku hampir jatuh. Ku lihat ayah. Ku cerna baik-baik apa yang kulihat, ku pikirkan baik-baik, beberapa menit aku berfikir dan dengan hati yang guncang serta pilu ku yakini kini ayah telah tiada,dan aku seorang anak yatim.
Aku berjalan menghadap jendela, ku telephon keluarga dan kerabat jauh. Ku kabarkan bahwa ayahku telah meninggal. aku sambil menatap kosong langit dan kulihat langit yang mendung perlahan-lahan menjauh dari atap rumahku. Ayahku sepertinya mengikuti awan itu. Aku menangis histeris,kesabaranku mulai luntur. ibuku datang mendekapku,aku terus menangis dipelukan ibu.
“bu, rindu ayah….. aku gak mau ayah pergi”
“istigfar sayang,ayah milik Allah bukan milik kita. Kitapun nanti akan kembali” ibu menasehati
 “miftha anak ibu sayang…. Harus kuat nak” kata ibu jua menangis sambil memeluk ku sedangkan ke dua saudaraku telah sadar dan mereka tak henti terus membacakan ayat-ayat qur’an untuk melepas kepergian ayah.
 “ibu….aku sayang ayah sangat sayang “ kataku terisak-isak masih belum mampu melepas kepergian ayah. Perlahan-lahan kenangan tentang ayah berputar dikepalaku dari awal sampai akhir…..
  Tahun 2000
Dengan seragam Sekolah Dasar aku siap berangkat menuju SD KARTIKA V-5  Tanah Paser bersama ayah yang telah siap mengantar mengunakan sepeda ontel kesayangannya yg berwarna hitam merk polygon. Sepanjang jalan aku tersenyum karena hari ini hari pertama aku masuk sekolah. Ku peluk pinggang ayah, selain karena aku takut jatuh lewat pelukan ini jua aku ingin mengucapkan terimakasih pada ayah karena telah menyekolahkanku. Sampai digerbang Sekolah Dasar KARTIKA V-5 ayah menggenggam erat tanganku. Aku melihatnya,wajah yang tampan,kulit sawo mateng,hidung yang mancung, warna mata yang coklat,rambut yang lurus,perawakan yang sedang serta tinggi sekitar 170 cm lebih. Itulah sosok ayahku.
“ayah, nanti aku duduk dimana ?” kataku dengan polos bertanya
“cari bangku paling depan ya,agar mudah mengerti” ayah memberi saran tapi nyatanya aku memilih bangku nomor 2 dari belakang karena menurutku dengan disini aku tak akan mudah dimarahi oleh guru. Saat ayah melihat bangku pilihanku,ia hanya tersenyum kepadaku.
Tak terasa sebentar lagi caturwulan yang pertama,aku belum bisa membaca dan menulis. Ibu selalu mengajari menulis di waktu malam,namun aku terlalu sulit untuk mengerti. Mungkin karena ajaran ibu ku yang terlalu lembut,mungkin. Ada yang beda pada malam ini,ayah turun tangan langsung mengajariku.bayangkan, ayah tak segan-segan berkata keras saat aku susah mengerti. Entah kenapa aku cepat mudeng dengan cara ayah ini.
“tulis a-y-a-h” kata ayah dan aku mengikuti.benar
“tulis i-b-u b-u-d-I” kata ayah dan aku mengikuti.benar lagi
“tulis p-o-h-o-n” kata ayah dan aku menulis p-u-h-u-n
“huruf o mif, bukan u” kata ayah lembut kali ini dan aku mengangguk 
Esok haripun tiba, aku penasaran seperti apa sih ulangan caturwulan pertama itu dan sebentar lagi pun aku akan mengalami keadaan ulangan itu seperti apa. Bu guru memberi lembaran kosong yang harus isi oleh murid. Dikte.
1. rahasiya rani → salah
2.bunga mawar yang indah→betul
3.puhun cemara tati→salah
4.di waktu malam akan ada bolan→salah
5.bulan dan balon nani berwarna hijau→betul
Itulah hasil ulangan caturwulan pertamaku, ayah tersenyum melihat walau aku banyak melakukan kesalahan. Sebenarnya aku juga sedih tapi senyum ayahku menghapus rasa sedihku. Aku rasa ia memaklumi kesalahan yang ku perbuat.
Waktu terus berjalan dan kini aku telah tumbuh menjadi perempuan yang setengah ABG, Sekolah Menengah Pertama. Setelah melewati 6 tahun sekolah dasar ditambah ujian segala macam,alhamdulilah aku masuk kesebuah sekolah favorit yaitu SMPN 2 Tanah paser. Pertama aku masuk gerbang SMPN 2 untuk melakukan pendaftaran,aku sudah kagum dengan lokasinya,ada apa dengan lokasinya ? karena sekolah ini berada di pinggir sebuah jalan dataran tinggi,jadi lokasinya ada tanah-tanah yang tinggi namun ada tangga yang di bangun untuk sampai ke daerah atau lokasi bangunan yang tinggi itu, di belakang sekolah ada hutan yang memiliki pohon yang besar dan angin yang bertiup dengan sejuk. Kebayangkan nyamannya belajar di temani angin yang sepoi-sepoi. Aku berharap sekali dapat menjadi siswi di Sekolah nan sejuk ini. Kabulkanlah ya Allah….
betul,alhamdulilah aku lolos seleksi dan sekarang aku siswi sekolah nan sepoi-sepoi. Seminggu sebelum masuk sekolah aku sudah membeli peralatan sekolah,seragam,dan ada sebuah kejutan yang sangat membahagiankan,kakak ku membelikanku sepeda polygon berwarna biru,ia membelikanku sepeda dengan tujuan agar aku tak merepotkannya di pagi hari dengan meminta antar. Ada satu hal yang membuatku terkejut. kawan,ternyata masuk Sekolah Menengah Pertama tidaklah sama dengan awal masuk Sekolah Dasar, ada sebuah kalimat yang merepotkan bagiku yaitu “MOS” atau Masa Orientasi Siswa,uuuhhh rasanya sebuah kegiatan yang melelahkan tapi ada tujuan  di balik kegiatan itu.
hari ini, hari minggu dan esok tentunya senin. Kami melakukan rutinitas seperti biasanya ayah dan kakak  pergi berjualan ke pasar. Ayahku merupakan keturunan seorang anak penjual yang bisa di katakan sukses di kampung halamanku,jadi berjualan adalah bakat keturunan.hehe.
Jika di alur gang ku ada pemadaman listrik, aku sering minta ditemani tidur oleh ayah dan ibu ku. pada saat- saat seperti itu, ayah kerap bercerita kepada ku tentang pengalamannya berjualan. Dari jualan sayur keliling sampai jualan makanan di kapal laut. Banyak kejadian lucu dan konyol yang kerap menimpa ayahku misalnya, dulu ayah juga pernah menjadi penjual buah, karena pada saat itu pengalaman pertama ayah, ayah masih belum terlalu mengerti berapa jangka waktu  buah itu akan bertahan jadi ayah membeli sekitar 1 mobil penuh,sangat banyak. Alhasil, hampir separuh buah itu lembek duluan dan tak bisa dijual dengan harga tinggi lagi.uhh ayah…
Jika ayah bercerita banyak tentang pengalaman berjualannya, aku cepat sekali tertidur. Hal itu terjadi karena mungkin menurutku dulu, topik yang ayah ceritakan sangat membosankan.haha.
Handphone ibu ku berbunyi
“assalamualaikum”
“inalilahi wa inailahirajiun, astagfirullah. Yuhapa ?”
“iih, kaina kami bulikan’’ mama ku mengakhiri pembicaran via telephone dan ku kini ku lihat ibu menangis dan bingung. Aku sangat bingung, namun beberapa menit kemudian ibu memeluk ku dan berkata “ nenek hulu mu, meninggal mif”
“ya allah….” Kataku lemas. Sudah sekitar 3 tahun, aku tak pulang ke kampung dan tak berjumpa dengan nenek,kini aku tak akan bisa berjumpa nenek lagi. Aku menangis mengingat ciuman hangat nenek ku yang selalu ku dapat jika aku pulang ke kampung. Sebenarnya aku paling tak suka jika pipi ku di cium tapi nenek tak pernah minta izin jika ingin menciumku, mau tak mau aku hanya bisa ternyum kepada nenek.
“ibu dan ayah akan pulang ke kampung kah ?”
“kita sekeluarga akan pulang” kata ibu, yang kini sibuk menghubungi ayah dan kakak ku yang sedang berada di pasar.
Ayah dan kakak ku telah tiba di rumah, setelah berfikir sebentar ayah memutuskan aku dan ayah akan tinggal di sini karena esok aku awal masuk SMP. Ibu setuju.
Aku sedih karena tak bisa pulang ke banjar untuk menghadiri pemakaman nenek tersayang ku.
Nenek yg ku sayang, semoga Allah menempatkanmu bersama orang-orang yg beriman
Waktu berlalu, hari ini awal aku masuk sekolah. dalam kegiatan mos kami di suruh menguncir rambut sebanyak 5 kunciran. Haha.  Jam 5 subuh, aku meminta tolong ayah menguncirkan rambut ku menggunakan tali rapia sebanyak 5 kunciran. Ayah terlihat bingung dan lama sekali menguncir rambutku. Alhamdulilah, jam 7 ayah mengantarku  pergi ke sekolah . Sampai gerbang SMPN 2  Tanah Paser, ayah menggenggam erat tanganku, aku melihat wajah tampannya. Walau kerutan di wajahnya bertambah banyak dari 6 tahun yang lalu ketika ia mengantarkanku di gerbang SD KARTIKA V-5,  namun ketampanan ayah ku tak pernah pudar di mataku. Kepribadiannya yang bertanggung jawab dan penyayang membuatku bangga menatapnya.  Aku terseyum.
Waktu berlalu terus tanpa berhenti walau sedetik serta tanpa kembali mundur walau sedetik pula. Banyak hal yang terlalui dan di lalui namun dari semua hal itu kebersamaan ku dan ayahlah yang tak terasa. Dan kini, ayah sekarang hanya bisa berdiam diri dirumah karena terkena stroke ringan. Langkah yang dahulu cepat berubah menjadi lambat bahkan sangat lambat, bicara yang panjang lebar pun berubah menjadi anggukan atau gelengan kepala saja. Ooohh ayahku sayang, sabarlah.
Sakitnya ayah berdampak buruk bagi ekonomi keluargaku, dari ekonomi pas-pasan sampai ekonomi yang sekarat. Biaya pengobatan dan biaya hidup kadang tak terpenuhi.uhhhh. kakakku berhenti sekolah dan mencari pekerjaan. Ku lihat wajahnya, sendu dan pasrah namun ia tetap tersenyum saat pulang bekerja. Aku bersyukur Allah menghadirkan sosok seperti kakak ku dalam kehidupan keluargaku. Kakak yang bertanggung jawab dan rela berkorban.
Suatu hari, ketika aku pulang dari sekolah dan menjemput ade ku, aku mendapat kabar yang mengejutkan. Rumah sahabat terbaik ku mengalami kebakaran. Inalilahi wa inailahi rajiun. Tanpa pikir panjang, aku dan adeku melancong menuju tempat sabahatku. Setelah sampai, ku lihat ia. Aku memberikan dukungan dan memeluk sahabat tersayangku ini. Aku ikut menangis dalam tangisnya. Semuanya terbakar habis, kecuali motor dan baju yang ia kenakan. Sabarlah sahabatku
Aku cukup lama berada di tempat sahabatku. ketika pulang ke rumah, aku tak melihat ayahku. Aku bingung kemana ayah pergi, biasanya ayah hanya berada di sekitar rumah untuk berlatih otot-otot kaki. Ku cari-cari di sekitar rumah, tak ada ku lihat. Aku sangat khawatir namun aku bingung mencari ayah kemana lagi.
Pikiranku melayang kemana-mana. Mungkinkah ayah pergi dari rumah ? mungkinkah ayah pulang ke kampung ? tapi kenapa ayah tak memberi tahu kami. Atau mungkin ayah, pergi ke pasar menemani ibu ku berjualan, tapi tak mungkin. Ayah kerap mengalami sakit kepala jika berada di tempat yang bising. Akhirnya, dari pada pikiranku  melayang entah berpikir apa, sebaiknya aku menunggu ayah. Ya, aku menunggu ayah tepat di depan pintu. Kawan, menunggu depan pintu ini sebenarnya adalah tindakan yang selalu ayahku lakukan ketika menunggu ibu ku pulang dari pasar, menunggu kakak ku pulang dari kerjaan, atau menunggu aku  dan ade ku pulang dari sekolah. Mungkin, ayah terlalu bosan jika lama berada di dalam rumah. Lama aku dan ade ku menunggu di depan pintu, dari jauh ku lihat ayah berjalan pelan turun dari ojek. Aku berlari menjemput ayah ku dan ku lihat wajahnya yang sawo matang terlihat merah karena ke panasan, ku lihat juga keringatnya yang mengalir  dari dahi.
Aku sangat khawatir melihat kondisi ayahku seperti ini, sesampai di rumah aku bertanya kepadanya.
“ayah, dari mana ?”
 “ayah dari sekolahmu,mif”
“ayah,ngapain ke sekolah mifta ? mifta udah pulang jam 2 tadi”
“ayah, mencari kalian. Sampai jam 4 ayah tunggu. Mifta dan asya belum pulang” kata ayah menjelaskan dengan wajah yang khawatir.
“maaf, yah….” Aku berkata pelan, aku merasa sangat bersalah karena membuat ayah sangat khawatir, membuat ayah menunggu lama, dan membuat ayah sampai berjalan mencari ku dan ade ku. ku hidupkan kipas angin agar ayahku berhenti kepanasan, ku buatkan teh panas dan nasi goreng karena ku tahu pasti ayah sangat lelah dan kehabisan tenaga. Setelah makan dan duduk sebentar, ayah tertidur dengan pulas. Ku memandang ayah sekilas. Sungguh, aku merasa sangat bersalah dan pada saat itu aku berjanji tak akan membuat ayahku khawatir lagi, aku akan selalu memberitahu ayah dan meminta izin jika hendak pergi atau terlambat pulang.
Begitulah ayahku, ia selalu berkata agar jangan terlambat pulang dan memberi tahu jika terjadi sesuatu.
Kini, kata “jangan terlambat pulang” yang sering ayah ucapkan padaku dan kepada saudaraku begitu segar di ingatan dan mengakhiri ingatan memoriku tentang ayah.  Air mataku masih mengalir deras bak air terjun, ibu masih memeluk ku dengan erat.
“mari kita makam kan ayah” ajak ibu sambil mengelus kepalaku
Segala proses telah selesai, adzan ashar telah berkumandang. Para keluarga, sahabat, dan kerabat ayah sudah melakukan sembahyang jenazah. Kini, kami semua harus mengantarkan ayah ke pembaringan terakhirnya.
Perlahan tapi pasti tanah-tanah itu menutup wajah ayahku. Aku menahan air mataku. Jantungku  berdetak kencang,  hati ku terasa tak karuan, otot-otot kaki ku terasa lemah. Tatapanku hanya tertuju pada badan ayah yang mulai tak terlihat. Allah……..
Kini ayah telah pulang. Pulang  yang berarti kembali. setelah perjalanan panjang, ayah kembali kepada pemilik jiwa. ALLAH.

 Ayahku…..
November  2013
Terkadang engkau mencintaiku dengan cara yang membuatku takut
Terkadang engkau menjagaku dengan cara membuatku terkurung
Tetapi…. Kini aku rindu dengan semua caramu
Ayah,rindu ini hanya ALLAH yang tahu
Betapa  rapuhnya aku kadang kala menghadapi badai hidup yang silih berganti tanpa jeda
Betapa lemahnya aku dalam mengambil sikap untuk menjadi tegas, setegas dirimu.
Ayah,kini ku lihat engkau semakin lemah
Betapa hancurnya aku melihat keadaan ini,aku ingin kesembuhanmu
Betapa takutnya aku jika aku menjadi seorang anak yatim.
februari 2014
Ketakutan itu kini sudah ku alami, sejak 3 Januari 2014 aku adalah seorang yatim…
Allah swt lebih menyayangi ayah dari pada aku dan kelurgaku.
Ayah… semoga engkau selalu dalam buaian rahmat sang Pencipta
Ayah… semoga engkau bersama dengan rasullulah  yang mulia
Ayah…semoga engkau berada di tempat terindah
Rabbigfirli waliwalidayah warhamhuma kamma rabbayanisyagiro.aamiin
Anakmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta