Nak,jangan terlambat pulang
Awan mendung menyelimuti rumahku, bacaan-bacaan ayat suci
al-qur’an serta air mata yang mengalir berpadu tanpa dikomando menghasilakan
isakan yang pilu menyayat hati. Ku tatap wajah ayahku yang pucat dan tak
sadarkan diri,kugenggam erat tangannya berharap aku mendapatkan kekuatan dan
ketegaran darinya seperti dulu namun kini ku rasa genggamannya mulai
melemah,aku panik dan terus mengucapkan kalimat syahadat dan istigfar di kuping
ayah tersayangku. Ibu,adik,dan kakak ku tak kalah sedih. Mata mereka sudah
merah karena dari tadi menangis dan suara mereka mulai parau dan berat.
“yah, aku harus bagaimana ?” isak ku sedih sambil memandang ayah.
Dalam hatiku paling dalam aku rasa ini yang terakhir kalinya,entah kenapa. Aku
coba menampik perasaanku namun aku tahu pasti dari semua kepastian di dunia ini
salah satunya adalah kematian.
“Allah,
ampunilah dosa ayahku. Sayangi ia,lindungi ia,berilah ia kemudahan
Ia
pemimpin yag bertanggung jawab terhadap keluarganya, ia ayah yang baik hatinya
Allah,aku
mohon selamatkan ia…..” hatiku memohon kepada sang Maha Kuasa
Sepertinya Allah menjawab doaku,tangan ayah yang ku genggam erat
kini bergerak. Aku bingung. Ayah melakukan gerakan seperti orang yang hendak
memulai shalat. Ayah bertakbir, aku melihat dengan jelas gerakakan bibirnya
yang biru mungucap kalimat “allahu akbar” dan kulihat ia mencoba menarik nafas
panjang dan menghembuskannya. Setelah itu ia tak bergerak apapun. Turun-naik
perutnya yang kuruspun tak lagi ada. Ayah sudah tak bernafas.
“inalilahi wa inailahirajiun” kata ibu pelan sambil mengeluarkan
air mata dari mata yang sudah bengkak
“bu,ayah belum meninggal” kataku
gontai tak percaya
“ayahmu sudah kembali nak” kata ibu menyadarkanku
Ku lihat kakak dan adik ku yang memeluk ibuku, mereka menangis
dalam pelukan ibu ku sedangkan aku spontan berdiri namun keseimbangan tak
penuh,aku hampir jatuh. Ku lihat ayah. Ku cerna baik-baik apa yang kulihat, ku
pikirkan baik-baik, beberapa menit aku berfikir dan dengan hati yang guncang
serta pilu ku yakini kini ayah telah tiada,dan aku seorang anak yatim.
Aku berjalan menghadap jendela, ku telephon keluarga dan kerabat
jauh. Ku kabarkan bahwa ayahku telah meninggal. aku sambil menatap kosong
langit dan kulihat langit yang mendung perlahan-lahan menjauh dari atap
rumahku. Ayahku sepertinya mengikuti awan itu. Aku menangis
histeris,kesabaranku mulai luntur. ibuku datang mendekapku,aku terus menangis
dipelukan ibu.
“bu, rindu ayah….. aku gak mau ayah pergi”
“istigfar sayang,ayah milik Allah bukan milik kita. Kitapun nanti
akan kembali” ibu menasehati
“miftha anak ibu sayang….
Harus kuat nak” kata ibu jua menangis sambil memeluk ku sedangkan ke dua
saudaraku telah sadar dan mereka tak henti terus membacakan ayat-ayat qur’an
untuk melepas kepergian ayah.
“ibu….aku sayang ayah
sangat sayang “ kataku terisak-isak masih belum mampu melepas kepergian ayah.
Perlahan-lahan kenangan tentang ayah berputar dikepalaku dari awal sampai
akhir…..
Tahun 2000
Dengan seragam Sekolah Dasar aku siap berangkat menuju SD KARTIKA
V-5 Tanah Paser bersama ayah yang telah
siap mengantar mengunakan sepeda ontel kesayangannya yg berwarna hitam merk
polygon. Sepanjang jalan aku tersenyum karena hari ini hari pertama aku masuk
sekolah. Ku peluk pinggang ayah, selain karena aku takut jatuh lewat pelukan
ini jua aku ingin mengucapkan terimakasih pada ayah karena telah
menyekolahkanku. Sampai digerbang Sekolah Dasar KARTIKA V-5 ayah menggenggam
erat tanganku. Aku melihatnya,wajah yang tampan,kulit sawo mateng,hidung yang
mancung, warna mata yang coklat,rambut yang lurus,perawakan yang sedang serta
tinggi sekitar 170 cm lebih. Itulah sosok ayahku.
“ayah, nanti aku duduk dimana ?” kataku dengan polos bertanya
“cari bangku paling depan ya,agar mudah mengerti” ayah memberi
saran tapi nyatanya aku memilih bangku nomor 2 dari belakang karena menurutku
dengan disini aku tak akan mudah dimarahi oleh guru. Saat ayah melihat bangku
pilihanku,ia hanya tersenyum kepadaku.
Tak terasa sebentar lagi caturwulan yang pertama,aku belum bisa
membaca dan menulis. Ibu selalu mengajari menulis di waktu malam,namun aku
terlalu sulit untuk mengerti. Mungkin karena ajaran ibu ku yang terlalu
lembut,mungkin. Ada yang beda pada malam ini,ayah turun tangan langsung
mengajariku.bayangkan, ayah tak segan-segan berkata keras saat aku susah
mengerti. Entah kenapa aku cepat mudeng dengan cara ayah ini.
“tulis a-y-a-h” kata ayah dan aku mengikuti.benar
“tulis i-b-u b-u-d-I” kata ayah dan aku mengikuti.benar lagi
“tulis p-o-h-o-n” kata ayah dan aku menulis p-u-h-u-n
“huruf o mif, bukan u” kata ayah lembut kali ini dan aku
mengangguk
Esok haripun tiba, aku penasaran seperti apa sih ulangan
caturwulan pertama itu dan sebentar lagi pun aku akan mengalami keadaan ulangan
itu seperti apa. Bu guru memberi lembaran kosong yang harus isi oleh murid.
Dikte.
1. rahasiya rani → salah
2.bunga mawar yang indah→betul
3.puhun cemara tati→salah
4.di waktu malam akan ada bolan→salah
5.bulan dan balon nani berwarna hijau→betul
Itulah hasil ulangan caturwulan pertamaku, ayah tersenyum melihat
walau aku banyak melakukan kesalahan. Sebenarnya aku juga sedih tapi senyum
ayahku menghapus rasa sedihku. Aku rasa ia memaklumi kesalahan yang ku perbuat.
Waktu terus berjalan dan kini aku telah tumbuh menjadi perempuan
yang setengah ABG, Sekolah Menengah Pertama. Setelah melewati 6 tahun sekolah
dasar ditambah ujian segala macam,alhamdulilah aku masuk kesebuah sekolah
favorit yaitu SMPN 2 Tanah paser. Pertama aku masuk gerbang SMPN 2 untuk
melakukan pendaftaran,aku sudah kagum dengan lokasinya,ada apa dengan lokasinya
? karena sekolah ini berada di pinggir sebuah jalan dataran tinggi,jadi
lokasinya ada tanah-tanah yang tinggi namun ada tangga yang di bangun untuk sampai
ke daerah atau lokasi bangunan yang tinggi itu, di belakang sekolah ada hutan
yang memiliki pohon yang besar dan angin yang bertiup dengan sejuk. Kebayangkan
nyamannya belajar di temani angin yang sepoi-sepoi. Aku berharap sekali dapat
menjadi siswi di Sekolah nan sejuk ini. Kabulkanlah ya Allah….
betul,alhamdulilah aku lolos seleksi dan sekarang aku siswi
sekolah nan sepoi-sepoi. Seminggu sebelum masuk sekolah aku sudah membeli
peralatan sekolah,seragam,dan ada sebuah kejutan yang sangat membahagiankan,kakak
ku membelikanku sepeda polygon berwarna biru,ia membelikanku sepeda dengan
tujuan agar aku tak merepotkannya di pagi hari dengan meminta antar. Ada satu
hal yang membuatku terkejut. kawan,ternyata masuk Sekolah Menengah Pertama
tidaklah sama dengan awal masuk Sekolah Dasar, ada sebuah kalimat yang
merepotkan bagiku yaitu “MOS” atau Masa Orientasi Siswa,uuuhhh rasanya sebuah
kegiatan yang melelahkan tapi ada tujuan di balik kegiatan itu.
hari ini, hari minggu dan esok tentunya senin. Kami melakukan
rutinitas seperti biasanya ayah dan kakak
pergi berjualan ke pasar. Ayahku merupakan keturunan seorang anak
penjual yang bisa di katakan sukses di kampung halamanku,jadi berjualan adalah
bakat keturunan.hehe.
Jika di alur gang ku ada pemadaman listrik, aku sering minta
ditemani tidur oleh ayah dan ibu ku. pada saat- saat seperti itu, ayah kerap
bercerita kepada ku tentang pengalamannya berjualan. Dari jualan sayur keliling
sampai jualan makanan di kapal laut. Banyak kejadian lucu dan konyol yang kerap
menimpa ayahku misalnya, dulu ayah juga pernah menjadi penjual buah, karena
pada saat itu pengalaman pertama ayah, ayah masih belum terlalu mengerti berapa
jangka waktu buah itu akan bertahan jadi
ayah membeli sekitar 1 mobil penuh,sangat banyak. Alhasil, hampir separuh buah
itu lembek duluan dan tak bisa dijual dengan harga tinggi lagi.uhh ayah…
Jika ayah bercerita banyak tentang pengalaman berjualannya, aku
cepat sekali tertidur. Hal itu terjadi karena mungkin menurutku dulu, topik
yang ayah ceritakan sangat membosankan.haha.
Handphone ibu ku berbunyi
“assalamualaikum”
“inalilahi wa inailahirajiun, astagfirullah. Yuhapa ?”
“iih, kaina kami bulikan’’ mama ku mengakhiri pembicaran via
telephone dan ku kini ku lihat ibu menangis dan bingung. Aku sangat bingung,
namun beberapa menit kemudian ibu memeluk ku dan berkata “ nenek hulu mu,
meninggal mif”
“ya allah….” Kataku lemas. Sudah sekitar 3 tahun, aku tak pulang
ke kampung dan tak berjumpa dengan nenek,kini aku tak akan bisa berjumpa nenek
lagi. Aku menangis mengingat ciuman hangat nenek ku yang selalu ku dapat jika
aku pulang ke kampung. Sebenarnya aku paling tak suka jika pipi ku di cium tapi
nenek tak pernah minta izin jika ingin menciumku, mau tak mau aku hanya bisa
ternyum kepada nenek.
“ibu dan ayah akan pulang ke kampung kah ?”
“kita sekeluarga akan pulang” kata ibu, yang kini sibuk
menghubungi ayah dan kakak ku yang sedang berada di pasar.
Ayah dan kakak ku telah tiba di rumah, setelah berfikir sebentar
ayah memutuskan aku dan ayah akan tinggal di sini karena esok aku awal masuk
SMP. Ibu setuju.
Aku sedih karena tak bisa pulang ke banjar untuk menghadiri
pemakaman nenek tersayang ku.
Nenek yg ku sayang, semoga Allah menempatkanmu bersama orang-orang
yg beriman
Waktu berlalu, hari ini awal aku masuk sekolah. dalam kegiatan mos
kami di suruh menguncir rambut sebanyak 5 kunciran. Haha. Jam 5 subuh, aku meminta tolong ayah menguncirkan
rambut ku menggunakan tali rapia sebanyak 5 kunciran. Ayah terlihat bingung dan
lama sekali menguncir rambutku. Alhamdulilah, jam 7 ayah mengantarku pergi ke sekolah . Sampai gerbang SMPN 2 Tanah Paser, ayah menggenggam erat tanganku,
aku melihat wajah tampannya. Walau kerutan di wajahnya bertambah banyak dari 6
tahun yang lalu ketika ia mengantarkanku di gerbang SD KARTIKA V-5, namun ketampanan ayah ku tak pernah pudar di
mataku. Kepribadiannya yang bertanggung jawab dan penyayang membuatku bangga
menatapnya. Aku terseyum.
Waktu berlalu terus tanpa berhenti walau sedetik serta tanpa
kembali mundur walau sedetik pula. Banyak hal yang terlalui dan di lalui namun
dari semua hal itu kebersamaan ku dan ayahlah yang tak terasa. Dan kini, ayah
sekarang hanya bisa berdiam diri dirumah karena terkena stroke ringan. Langkah
yang dahulu cepat berubah menjadi lambat bahkan sangat lambat, bicara yang
panjang lebar pun berubah menjadi anggukan atau gelengan kepala saja. Ooohh ayahku sayang, sabarlah.
Sakitnya ayah berdampak buruk bagi ekonomi keluargaku, dari
ekonomi pas-pasan sampai ekonomi yang sekarat. Biaya pengobatan dan biaya hidup
kadang tak terpenuhi.uhhhh. kakakku berhenti sekolah dan mencari pekerjaan. Ku
lihat wajahnya, sendu dan pasrah namun ia tetap tersenyum saat pulang bekerja.
Aku bersyukur Allah menghadirkan sosok seperti kakak ku dalam kehidupan
keluargaku. Kakak yang bertanggung jawab dan rela berkorban.
Suatu hari, ketika aku pulang dari sekolah dan menjemput ade ku,
aku mendapat kabar yang mengejutkan. Rumah sahabat terbaik ku mengalami
kebakaran. Inalilahi wa inailahi rajiun. Tanpa pikir panjang, aku dan adeku
melancong menuju tempat sabahatku. Setelah sampai, ku lihat ia. Aku memberikan
dukungan dan memeluk sahabat tersayangku ini. Aku ikut menangis dalam
tangisnya. Semuanya terbakar habis, kecuali motor dan baju yang ia kenakan. Sabarlah sahabatku
Aku cukup lama berada di tempat sahabatku. ketika pulang ke rumah,
aku tak melihat ayahku. Aku bingung kemana ayah pergi, biasanya ayah hanya berada
di sekitar rumah untuk berlatih otot-otot kaki. Ku cari-cari di sekitar rumah,
tak ada ku lihat. Aku sangat khawatir namun aku bingung mencari ayah kemana
lagi.
Pikiranku melayang kemana-mana. Mungkinkah ayah pergi dari rumah ?
mungkinkah ayah pulang ke kampung ? tapi kenapa ayah tak memberi tahu kami.
Atau mungkin ayah, pergi ke pasar menemani ibu ku berjualan, tapi tak mungkin.
Ayah kerap mengalami sakit kepala jika berada di tempat yang bising. Akhirnya,
dari pada pikiranku melayang entah
berpikir apa, sebaiknya aku menunggu ayah. Ya, aku menunggu ayah tepat di depan
pintu. Kawan, menunggu depan pintu ini sebenarnya adalah tindakan yang selalu
ayahku lakukan ketika menunggu ibu ku pulang dari pasar, menunggu kakak ku
pulang dari kerjaan, atau menunggu aku
dan ade ku pulang dari sekolah. Mungkin, ayah terlalu bosan jika lama
berada di dalam rumah. Lama aku dan ade ku menunggu di depan pintu, dari jauh
ku lihat ayah berjalan pelan turun dari ojek. Aku berlari menjemput ayah ku dan
ku lihat wajahnya yang sawo matang terlihat merah karena ke panasan, ku lihat juga
keringatnya yang mengalir dari dahi.
Aku sangat khawatir melihat kondisi ayahku seperti ini, sesampai
di rumah aku bertanya kepadanya.
“ayah, dari mana ?”
“ayah dari sekolahmu,mif”
“ayah,ngapain ke sekolah mifta ? mifta udah pulang jam 2 tadi”
“ayah, mencari kalian. Sampai jam 4 ayah tunggu. Mifta dan asya
belum pulang” kata ayah menjelaskan dengan wajah yang khawatir.
“maaf, yah….” Aku berkata pelan, aku merasa sangat bersalah karena
membuat ayah sangat khawatir, membuat ayah menunggu lama, dan membuat ayah
sampai berjalan mencari ku dan ade ku. ku hidupkan kipas angin agar ayahku
berhenti kepanasan, ku buatkan teh panas dan nasi goreng karena ku tahu pasti
ayah sangat lelah dan kehabisan tenaga. Setelah makan dan duduk sebentar, ayah
tertidur dengan pulas. Ku memandang ayah sekilas. Sungguh, aku merasa sangat
bersalah dan pada saat itu aku berjanji tak akan membuat ayahku khawatir lagi,
aku akan selalu memberitahu ayah dan meminta izin jika hendak pergi atau
terlambat pulang.
Begitulah ayahku, ia selalu berkata agar jangan terlambat pulang
dan memberi tahu jika terjadi sesuatu.
Kini, kata “jangan terlambat pulang” yang sering ayah ucapkan
padaku dan kepada saudaraku begitu segar di ingatan dan mengakhiri ingatan
memoriku tentang ayah. Air mataku masih
mengalir deras bak air terjun, ibu masih memeluk ku dengan erat.
“mari kita makam kan ayah” ajak ibu sambil mengelus kepalaku
Segala proses telah selesai, adzan ashar telah berkumandang. Para
keluarga, sahabat, dan kerabat ayah sudah melakukan sembahyang jenazah. Kini,
kami semua harus mengantarkan ayah ke pembaringan terakhirnya.
Perlahan tapi pasti tanah-tanah itu menutup wajah ayahku. Aku
menahan air mataku. Jantungku berdetak
kencang, hati ku terasa tak karuan,
otot-otot kaki ku terasa lemah. Tatapanku hanya tertuju pada badan ayah yang
mulai tak terlihat. Allah……..
Kini ayah telah pulang. Pulang
yang berarti kembali. setelah perjalanan panjang, ayah kembali kepada
pemilik jiwa. ALLAH.
Ayahku…..
November 2013
Terkadang
engkau mencintaiku dengan cara yang membuatku takut
Terkadang
engkau menjagaku dengan cara membuatku terkurung
Tetapi…. Kini
aku rindu dengan semua caramu
Ayah,rindu ini
hanya ALLAH yang tahu
Betapa rapuhnya aku kadang kala menghadapi badai
hidup yang silih berganti tanpa jeda
Betapa lemahnya
aku dalam mengambil sikap untuk menjadi tegas, setegas dirimu.
Ayah,kini ku
lihat engkau semakin lemah
Betapa
hancurnya aku melihat keadaan ini,aku ingin kesembuhanmu
Betapa takutnya
aku jika aku menjadi seorang anak yatim.
februari 2014
Ketakutan itu
kini sudah ku alami, sejak 3 Januari 2014 aku adalah seorang yatim…
Allah swt lebih
menyayangi ayah dari pada aku dan kelurgaku.
Ayah… semoga
engkau selalu dalam buaian rahmat sang Pencipta
Ayah… semoga
engkau bersama dengan rasullulah yang
mulia
Ayah…semoga
engkau berada di tempat terindah
Rabbigfirli
waliwalidayah warhamhuma kamma rabbayanisyagiro.aamiin
Anakmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar