Selasa, 31 Oktober 2017



Karena aku menyukai ini...
ku harap, nanti, aku akan membacanya lagi


Eunoia Editing
Oleh Kinanti Ummi Syilmi

“Setiap kata yang menasihatimu atau mengajak kepada perbuatan mulia atau mencegah dari perbuatan buruk, maka itulah hikmah” (Ibnu Zaid)


Alhamdulillah wa syukurillah, 1 purnama digodok di kelas basic Revowriter . Akhirnya naik kelas. Lanjut ke kelas editing. Kelas kali ini beda. Kelas kali ini penuh rasa.


Belajar Menulis di Revowriter , bagi kami seperti mengumpulkan kerikil yang terserak. Banyak kami temukan pengalaman baru. Di dalamnya kami diajak untuk menyusuri jalan -jalan yang tak pernah kami lewati sebelumnya. Setiap kali tangan kami terjulur untuk mengambil sebuah kerikil, pada saat itu pula ada pesan yang terselip yang ikut terambil. Setiap kali kami menemukan kerikil berbeda di sudut lainnya. Pada saat itu pula ada pancaran hikmah yang menyertainya. 



Cikgu Asri Supatmiati sang Sujana semalam memperlihatkan rona mata yang indah , penuh kedewasaan, ramah kala menyapa, indah saat bertutur. Menanamkan renjana pada pejuang aksara agar tak terpasung pada problem klasik yang mengusik. 



Ya semalam 4 desember 2018, kami tak boleh lagi terpasung kalimat yang panjang, kata yang boros dan diksi yg standar.

Cikgu berkata, dalam setiap tulisan harus rapi. Buatlah kalimat dengan singkat. Diksi yang memikat. Buat kalimat berderap berirama bak nada. 


Entah harus berkata apa, tatkala cikgu memberi contoh kalimat yang semula 73 kata diringkas menjadi 43 kata tanpa mengurangi makna. Hati ini makin terpikat oleh pesonanya. Semakin tinggi kami gantung impian dan asa ingin menjadi seperti sujana. Dirinya begitu penuh Eunoia. 



Cikgu kau adalah sujana orang yang berbudi, bijaksana dan pandai. Kau memiliki eunoia pemikiran yang indah, baik dan luas seluas samudera.



Kau tanamkan kepada pejuang aksara, renjana. Keinginan kuat untuk menulis lebih ideologis dan sistematis.



Berazzam diri ini sepanjang apapun jalan yang harus ku tempuh, berjuta rintangan akan kuhadapi. Sebanyak apapun kelas menulis akan ku ikuti. Agar bisa berkontribusi dalam mengisi khazanah pemikiran di negeri ini.



Salam Revowriter !

Bandung, 5 Desember 2018

K inanti Ummi Syilmi

Sabtu, 29 Juli 2017


Awalnya aku mendengar...
Akhhirnya aku pun menangis


Semula dahulu,Masjid Nabawi di kota Madinah itu dibangun dengan sederhana.Langit-langit atapnya hanya terdiridari sambungan pelepah yang telah diikat,dan dibawahnya terdapat batangan pohon kurma tertata rapi yang tegak terpancang menopang kuat,sedangkan lantainya hanyalah hamparan tanah pasir yang cukup bersih terawat.


Di hari jum’at,setiap kali berkhutbah,Baginda Nabi saw.biasa berdiri sambil berpegangan pada sebatang pohon kurma yang berada di dekatnya.Tangan Baginda yang mulia telah berulang kali menyentuhnya,untuk sekedar memegang atau bersandar.Rupanya hal itu–dengan kehendak Alloh Swt.– telah memberikan kesan yang teramat spesial bagi sebatang pohon tersebut.Kemuliaan Baginda,keagungan pribadinya dan kasih sayangnya yang luas,semua itu telah membuat sebatang pohon kurma tadi turut pula merasakan suatu kebahagiaan yang tiada tara,merasakan kebanggaan yang tak tertandingi oleh setiap pepohonan,setiap
benda-benda,bahkan oleh manusia sekalipun yang tak pernah bersentuhan tubuh dengan tubuh sang kekasih tercinta.

Suatu hari,seorang sahabat datang berkata kepada Baginda Nabi saw.”Wahai Rasulullah,bagaimana jika kami membuatkan sebuah mimbar untukmu?”.”Jika memang kalian menghendaki,silahkan!” Jawab Baginda.Maka para sahabat pun segera mencarikan rancangan,hingga dibuatlah sebuah mimbar.Kemudian lembaran sejarah mencatatnya sebagai mimbar pertama dalam Islam.
Dengan diliputi rasa penasaran bercampur bahagia,para sahabat pun menunggu kesempatan itu tiba,kesempatan untuk menyaksikan peristiwa saat pertama kali Baginda Nabi saw berdiri menyampaikan khutbahnya di atas mimbar.Tatkala Nabi tengah berkhutbah tiba- tiba terdengar suara tangis memilukan.Entah,siapa dan dari mana suara itu berasal?.Khalayak pun ramai,saling memandang,mencari tahu. Dari atas mimbar, Baginda Nabi saw. beranjak turun menuju sebatang pohon kurma, pilar masjid yang tadinya beliau gunakan sebagai tempat untuk bersandar atau berpegangan.Baginda mendekat,menyentuh,kemudian mendekapnya, hingga suara ratapan tadi hilang lengang,seakan memberi isyarat bahwa si pemiliknya telah tenang.Orang-orang yang hadir masih menatap Baginda penuh tanya,seolah menanti penjelasan yang masih tersisa.
“Pohon ini meratap karena rindu kepada dzikir yang dahulu biasa didengarnya!”Sabda Nabi saw.menjelaskan kepada para sahabatnya yang setia,bahkan rasanya penjelasan itu tertuju pula untuk kita semua,sebagai ummatnya.Kemudian Nabi memberinya pilihan,apakah hendak dikembalikan fungsinya sebagai tempat bersandar atau berpegangan,ataukah dikubur dan menjadi pohon yang buahnya dimakan oleh para nabi serta orang-orang saleh di taman surgawi? Maka ia pun memilih yang terakhir.
hanya sebatang pohon kurma! Namun ia telah bersentuhan tubuh dengan tubuh sang kekasih,Sebatang pohon kurma itu menangis karena menahan rindu akan sentuhan lembut tangan manusia pilihan,manusia paripurna yang telah dicipta Alloh swt,sang insân kâmil.
Jika sebatang pohon kurma saja bisa merasakan kasih sayang seorang nabi yang memiliki sifat bi al- mu’minîna roûf al- rohîm,amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min.hingga ia pun merasa rindu dan cinta kepadanya,lalu bagaimana dengan kita sebagai ummatnya yang beriman?
Baginda Nabi saw adalah pilihan terbaik,bahkan terbaik di antara semua yang terbaik dari seluruh anak manusia yang dilahirkan di dunia,baginda adalah gen terbaik yang pernah ada,beliaulah pribadi agung yang pernah tercipta,lisan terfasih yang pernah bersabda,imannya paling sempurna,Pengingkaran terhadap hakikat wujudnya bukanlah sekedar pengingkaran terhadap salah satu rukun iman,namun lebih dari itu,pengingkaran tersebut merupakan penolakan keras terhadap hakikat wujud alam semesta yang tercipta dari Nur Muhammad saw.menentang naluri hati nurani,dan itu berarti pula menentang Alloh Sang Maha Pencipta.
Baginda adalah Al- Qur’an,akhlaknya Al- Qur’an,jiwanya Al- Qur’an.Sedangkan Al- Qur’an itu kitab Allah dan kalimat-Nya yang sempurna.Jika demikan adanya,jelaslah bahwa Rasulullah saw.adalah manusia paling sempurna pribadinya,dan dialah makhluk Alloh yang paling berhak dicinta.Dialah syarat utama untuk mengaku cinta kepada Alloh swt.

‪‎Allohumma‬ Sholli Wa Sallim Ala Muhammad.


Sumber:http://infokhazanah.blogspot.co.id/2015/05/kisah-kesedihan-pohon-terhadap-nabi.html
Sumber:Berbagai Sumber

Rabu, 26 Juli 2017

Ini yang sering ku rasa.
Memeluknya, akan membuatmu lebih tenang...

Hasil gambar untuk bayi islam
Aku ingin bicarakan,seorang insan, yang Allah karuniakan kelucuan dalam setiap gerak geriknya. Senyum yang spontan merekah kala lihat tawanya dan kau juga harus punya seribu cara buatnya tertawa, kadang bukan karena hal konyol tapi hanya karena tindak yang tak terfikir jauh jauh sebelumnya. Tangan lembutnya yang coba sentuh pipimu dan ratapannya yang minta kau bawa. Seorang bayi....
MasyaAllah, dari dulu akulah pengagum berat insan yang satu ini. Buah karya dari sang Pencipta yang buat luluh banyak hati, entah itu hati yang keras atau pun yang lemah, entah itu hati yang beku atau hati yang telah mencair. Inilah keunikannya...
Akhir-akhir ini aku merubah segala nama di dunia maya, nama yang kupilih dekat erat dengan sosoknya. Bayi. Latar belakang ini, buatku ingin mencari-cari segala tentangnya.
Dan inilah yang ku setujui dari sebuah pencarian :
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Infant Behavior & Development mengungkapkan bayi yang menggemaskan belum tentu tumbuh menjadi pribadi yang atraktif saat dewasa. Hal ini terbukti dari riset yang melibatkan 253 mahasiswa. Mereka diminta memberi ranking pada foto seseorang saat masih bayi dan saat dewasa. Hasilnya, meski seseorang saat bayi selalu menarik perhatian, hal tersebut tak selalu terjadi saat ia dewasa.hihiih, ini buatku ketawa. Pokoknya kalau sudah lewat dari 2 tahun, siap siap sudah mencari ilmu mengatasinya. Ini pengalaman menjadi guru TK, anak- anak dan bayi itu dua insan yang berbeda. Dan anak-anak itu, luar biasa. heheh
Next, Mungkin Anda kerap memerhatikan balita sering berteriak, "Ini punyaku!". Seberapa pun seringnya mereka mengatakan itu, sebenarnya bayi mulai bisa berbagi saat berusia 15 bulan.
Wow…. Patut di contoh oleh orang dewasa nih.
Next, Lagi-lagi studi menemukan hal menarik dari bayi. Studi terkini dari University od Missouri menemukan bahwa umumnya bayi berusia 10 bulan mulai mengikuti jalan pikiran orang lain.Para orang tua selalu mengajarkan agar kita harus memandang setiap orang itu setara tanpa membeda-bedakan. Biasanya ajaran ini diberikan kepada anak-anak saat beranjak besar. Padahal, pemahaman ini semestinya diberikan sejak anak masih bayi..
Next,Janet werker dari University of Columbia meneliti cara bayi memahami bahasa. Ia menemukan bahwa jika ibunya berbicara dua bahasa, bayi bisa membedakan perbedaan keduanya. Hehhe,, pakai Bahasa apa aku yaaa ??? Bahasa banjar   ^_^





twitter

https://twitter.com/tina_mareta