Rabu, 26 Juli 2017

Ini yang sering ku rasa.
Memeluknya, akan membuatmu lebih tenang...

Hasil gambar untuk bayi islam
Aku ingin bicarakan,seorang insan, yang Allah karuniakan kelucuan dalam setiap gerak geriknya. Senyum yang spontan merekah kala lihat tawanya dan kau juga harus punya seribu cara buatnya tertawa, kadang bukan karena hal konyol tapi hanya karena tindak yang tak terfikir jauh jauh sebelumnya. Tangan lembutnya yang coba sentuh pipimu dan ratapannya yang minta kau bawa. Seorang bayi....
MasyaAllah, dari dulu akulah pengagum berat insan yang satu ini. Buah karya dari sang Pencipta yang buat luluh banyak hati, entah itu hati yang keras atau pun yang lemah, entah itu hati yang beku atau hati yang telah mencair. Inilah keunikannya...
Akhir-akhir ini aku merubah segala nama di dunia maya, nama yang kupilih dekat erat dengan sosoknya. Bayi. Latar belakang ini, buatku ingin mencari-cari segala tentangnya.
Dan inilah yang ku setujui dari sebuah pencarian :
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Infant Behavior & Development mengungkapkan bayi yang menggemaskan belum tentu tumbuh menjadi pribadi yang atraktif saat dewasa. Hal ini terbukti dari riset yang melibatkan 253 mahasiswa. Mereka diminta memberi ranking pada foto seseorang saat masih bayi dan saat dewasa. Hasilnya, meski seseorang saat bayi selalu menarik perhatian, hal tersebut tak selalu terjadi saat ia dewasa.hihiih, ini buatku ketawa. Pokoknya kalau sudah lewat dari 2 tahun, siap siap sudah mencari ilmu mengatasinya. Ini pengalaman menjadi guru TK, anak- anak dan bayi itu dua insan yang berbeda. Dan anak-anak itu, luar biasa. heheh
Next, Mungkin Anda kerap memerhatikan balita sering berteriak, "Ini punyaku!". Seberapa pun seringnya mereka mengatakan itu, sebenarnya bayi mulai bisa berbagi saat berusia 15 bulan.
Wow…. Patut di contoh oleh orang dewasa nih.
Next, Lagi-lagi studi menemukan hal menarik dari bayi. Studi terkini dari University od Missouri menemukan bahwa umumnya bayi berusia 10 bulan mulai mengikuti jalan pikiran orang lain.Para orang tua selalu mengajarkan agar kita harus memandang setiap orang itu setara tanpa membeda-bedakan. Biasanya ajaran ini diberikan kepada anak-anak saat beranjak besar. Padahal, pemahaman ini semestinya diberikan sejak anak masih bayi..
Next,Janet werker dari University of Columbia meneliti cara bayi memahami bahasa. Ia menemukan bahwa jika ibunya berbicara dua bahasa, bayi bisa membedakan perbedaan keduanya. Hehhe,, pakai Bahasa apa aku yaaa ??? Bahasa banjar   ^_^





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta