Kamis, 19 September 2019


Catatan September “Kabut Asap Paser Adalah Duka Masyarakat Paser”
MihrimaH

Tepat dihari minggu, 15 September 2019 yang lalu, kabut asap menyerang sebuah wilayah di bagian deretan ujung kalimantan timur, Tanah Grogot, Kabupaten Paser. Hingga pukul 08.45 Wita kabut masih tetap bertahan disertai bau asap yang pekat. Tak ayal sampai disitu ternyata kabut asap menyerang celah-celah tiap wilayah di Indonesia. Masyarakat Indonesia kini di uji dengan kondisi musim kemarau beserta efek hasil dari perbuatan manusia yang memanfaatkan moment untuk kepentingan diri sendiri.

Hingga hari ini pun Rabu, 18 September 2019 suara sirene pemadam kebakaran terus bergema, menandakan kejadian kebakaran dimana-mana. Sejalan dengan fakta yang ada, tercatat dari awal September ini di Paser ada 52 kasus Karhutla. Dengan total ada 93 hektare yang terkena dan yang paling banyak ialan 20 hektare pada kejadian 4 September lalu. Lalu ada juga tercatat rumah penduduk yang terbakar.

Melalui salah satu sumber dikatakan titik hotspot di Kabupaten Paser yang harus di waspadai sejak Januari hingga September ini mencapai 273 titik. Periode September merupakan yang tertinggi munculnya titik yakni 153. Sejak 17 Juli 2019 pun ditetapkan  status siaga darurat oleh Bupati Paser Yusriansyah Syarkawi.

Kabut asap dan kebakaran yang melanda di  Tana Paser tentu merupakan duka kita bersama, sebagai masyarakat yang terkenal dengan Moto “olo manin aso buen siolondo”, tentulah kejadian ini menjadi pembelajaran kita bersama untuk hari esok.  Selain itu, anggota pemadam kebakaran Paser dan beberapa anggota GAPKI telah melakukan upaya terbaik untuk membantu pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi kebakaran lahan, kata Tofan yang juga Ketua Bidang Komunikasi GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) kepada KONTAN, Senin (16/9).

Jika beberapa upaya bahkan penanggulangan telah dilaksanakan dengan baik maka perlu kita mengetahui penyebab di balik hadirnya kabut asap di Tana Paser tercinta lalu berbicara tentang penyebab maka Ini mengarah pada praktik 'land clearing' dengan cara mudah dan murah memanfaatkan musim kemarau," ujar Tito terkait dugaan kuat kebakaran akibat ulah manusia dalam siaran pers BNPB lalu.

Dalam islam penegakan hukum terkait ini harus keras dan tegas. Hal ini diharapkan bisa membuat efek jera kepada pihak korporasi mau pun perorangan yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Namun disisi lain pemerintah juga untuk memberikan pelatihan serta bantuan yang nyata kepada masyarakat terkait bagaimana cara membuka lahan tanpa harus membakar.Inilah kesalahan kerucut sistem kapitalisme yang hanya berstandarkan kepada manfaat belaka.
Kembali kesistem islam adalah solusi tuntas dari perkara hal yang ada, termasuk masalah Asap dan kemarau yang melanda. Semoga Hujan segera Allah turunkan untuk Indonesia tercinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta