silent
Ini yang pertama,kerudung merah dan
wajah yang sendu.aku melihatnya dalam diam dan sunyi,hanya rintikan hujan yang
deras yang kudengar. Terdiam sejenak tanpa sadar hujan membasahi baju ku, aku
hendak berlari mencari tempat berteduh tapi kaki ku terasa berat
meninggalkannya yang hanya menatap kosong jalanan, entah apa yang ia tunggu
entah apa yang ia cari tapi yang ku lihat sekarang ia kehujanan dan hanya diam.
Aissss aku harus berlari cepat
untuk berteduh jika tidak maka akan di pastikan aku basah kuyub,aku ingin
menyadarkannya bahwa hujan akan mengguyur dirinya namun ku hentikan niatku
karena aku merasa tak enak dan aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Ku lihat
jam tanganku masih menunjukan pukul 8.25 sedangkan 8.30 aku memiliki janji
dengan seorang teman untuk membahas masalah penjualan produk yang akan di
luncurkan satu bulan lagi. Aku bekerja di sebuah perusahaan yang memproduksi
berbagai jenis detergen. Aku bekerja sebagai supervisor bagian marketing, orang
yang memantau pekerjaan para salesman,tingkat penjualan,dan peredaran barang di
pasar. Lokasi kerja ku di Balikpapan namanya PT.EWANGGA, setelah lulus sekolah
aku langsung mencari pekerjaan,sebagian temanku ada yang melanjutkan kuliah,aku
pun sebenarnya ingin kuliah namun karena faktor ekonomi aku harus rela menunda
keinginan ku ini dan mendapatkan
pekerjaan ini pun ku akui sangat sulit aku harus mengikuti training selama 3
bulan dan akhirnya segala puji bagi Allah aku pun mendapat jabatan sebagai
salesman namun seiring berjalannya waktu alhamdulilah lagi aku naik jabatan
sebagai seorang supervisor marketing. Sungguh,Allah maha pemberi rejeki
hambanya yang berusaha dengan keras.
Sesampai di KFC Rapak aku langsung
menyapa 2 orang yang tengah asyik mengobrol, mereka adalah Andi dan Hery.
Mereka juga seorang supervisor marketing tetapi di kota Banjarmasin dan
samarinda. Keberuntunganku kali ini karena mereka berdua yang ingin repot ke
Balikpapan.
Waduh pak Rasyid anda sudah
terlambat 5 menit !
Maaf pak, tadi hujan “ kataku tak
enak, karena aku tahu betul sikap ke dua rekan ku ini,mereka sangat menghargai
waktu dan sangat displin. Entahlah apa yang ada dibenak para rekan kerja yang
dicabang sana ketika menghadapi para supervisor seperti ini tapi sepengalamanku
sebagian para salesman akan sangat mengeluh dan sebagian para salesman lain
akan sangat menaati peraturan. Aku kan dulu pernah menjadi seorang salesman
jadi aku tahu sangat bahwa sikap seorang supervisor itu akan sedikit menentukan
kinerja kerja para karyawan lain.
Itu alasan klise pak,silahkan duduk
Terimakasih pak “ kataku pelan dan
kamipun mulai membahas perencanaan pemasaran produk di pasaran.sekitar 2 jam
lebih sudah kami membahasnya. Agak melelahkan dan cukup memeras isi kepala
karena aku harus menjelaskan situasi dan kondisi kota Balikpapan yang agak berbeda dengan kondisi Banjarmasin
dan Samarinda namun alhamdulilah kami mendapatkan solusinya.
Oke pak rasyid,sampai jumpa lagi “
kata pak andi dan pak heri di iringi jabat tangan dan mereka pun melangkah
pergi”
Ia pak,hati-hati di jalan dan salam
buat keluarga
Assalamualaikum…
Walaikumsalam “ akhirnya selesai
juga pertemuan kali ini, aku pun memesan sebuah ricebox,pudding, ayam crispy,
ku lahap dengan pelan karena aku sedang memikirkan seseorang yang tadi pagi ku
temui di dalam rintikan hujan yang lebat, sebenarnya aku tak ingin
memikirkannya namun entah kenapa ia muncul begitu saja di kepalaku tanpa
permisi. Aku mencoba mengalihkannya dengan berdzikir dalam hati dan ini sangat
bekerja. Ia pergi dari pikiranku.
Ahhhh hujan lagi pagi ini “kataku
bete karena hari ini aku harus survey kinerja para salesman bagian Balikpapan
baru.cukup jauh dan hujan betul-betul akan membuat kerja ku hari ini di pending
beberapa jam. Aku tak ingin survey
lapangan hujan-hujan. Aku berniat menukar planning kerja survey lapangan esok
saja”
Hujan reda pukul 09.00 dan aku pun
berangkat dengan buru-buru mengejar angkot
Brakkkk…..”aku menabrak seorang
wanita yang berkerudung pink,ia langsung membereskan kertas-kertasnya yang
berserakan dan hanya menunduk”
Aku minta maaf “ kataku sambil
membantunya membereskan kertas-kertas yang berserakan,tanpa sengaja aku membaca
judul lembaran itu ISLAM YANG INDAH,oohh ternyata wanita ini seorang penulis
pikirku sendiri atau seseorang yang hobi membaca pikirku lagi, apapun yang ku
pikirkan namun judul lembaran ini membuatku tersenyum karena maraknya
pemberitaan yang mengatakan islam adalah agama garis keras yang di penuhi
dengan pembrontakan dan terorisme begitu di tolak oleh pemikiran wanita
ini,walaupun aku tak tahu pasti apa yang ia pikirkan tentang islam tetapi apa
yang ia baca menggambarkan sedikit bnyak tentang apa yang ia pikirkan”
Judul lembaran yang bagus
Dia hanya diam
Orang-orang yang berfikir islam
garis keras pasti belum mengenal islam secara dekat
Dia hanya diam
Islam yang indah,aku setuju
Kali ini dia tetap diam dan
melihatku kemudian tersenyum
Deg-deg-deg “ jantungku berdetak
agak cepat melihatnya tersenyum,ia wanita yang kutemui 7 bulan yang lalu,wanita
yang terdiam di tengah hujan,wanita yang menatap kosong jalanan dengan wajah
yang teduh. Belum sempat aku ingin menanyakan namanya ia sudah pergi membawa
tumpukan kertas”
Wanita yang mengagumkan “ kataku
pelan, aku berfikir begitu karena melihat apa yang ia bawa,melihat
penampilannya, memakai baju terusan yang longgar,tak memperlihatkan lekuk
tubuh,tidak transparan, jenis pakaian seperti ini dinamakan jilbab,walau para
masyarakat biasanya menyebut jubah atau gamis syar’i. kerudung yang menutup
kepala dengan sempurna dan riasan wajah yang sangat natural menurutku”.
Hari ini aku pulang kantor jam
08.30 malam karena ada beberapa data yang harus segera di laporkan. Aku memilih
melaksanakan shalat isya di rumah saja,karena kondisi tubuhku yang gerah dan
baju yang agak kotor tidak memungkinkan aku shalat dikantor jika belum berganti
pakaian atau mandi. Aku pulang menggunakan angkot,namun aku berhenti di sebuah
simpangan kebun sayur, disana ada sebuah penjual martabak yang sangat enak. Aku
kerap sekali beli disana dan kali ini aku ingin sangat ingin membeli martabak.
Mas,martabaknya spesialnya 2 yang
biasa 1 di bungkus
Oke, mas bro
Tiba-tiba ada seorang wanita yang
mengetok rombong pale martabak ini,wanita ini menunjukan jari telunjuk dan jari
tengah kepada mas penjual martabak ini
Sip,mba yu. Seperti biasa kan ?
Wanita ini diam dan senyum
Aku terpana,karena wanita ini yang
ku tabrak tadi pagi. Wanita pemilik wajah sendu. Aku terus melihatnya dengan
berbagai pemikiran di kepalaku dan ia agaknya mulai merasa diperhatikan olehku,
ia menoleh spontan dan membuat ekspresi wajah bertanya kepada ku dengan
mengangkat keningnya.
Anda wanita yang saya tabrak tadi
pagi kan ? kataku agak pelan dan sedikit grogi
Wanita ini hanya tersenyum dan
mengangguk
Nama anda siapa ?
Raina mas “ kata mas penjual
martabak ini nyeletuk menjawab pertanyaanku”
Kali ini aku yang tersenyum karena
siapa yang di tanya,siapa yang menjawab
Hmm,nama anda raina. Anda kerja
atau kuliah ?
Kuliah mas “ jawab mas penjual
martabak lagi”
Kuliah dimana ?
Ituuu mas di daerah gunung sari
“jawab penjual martabak lagi”
Ehem “aku berdehem untuk menahan
keinginan ku untuk tertawa lepas karena tingkah mas martabak ini yang sok kenal
dengan wanita yg katanya bernama raina”
Raina, ini lembaranmu yang
tertinggal “ kataku menggambil lembaran itu yang ada didalam tas dan
mnyerahkannya.
*flashback*
Ketika raina sudah melangkah pergi,
ada satu lembaran yang tertinggal di bawah kakiku, aku mengejarnya namun ia
sudah masuk angkot dan apesnya angkotnya dengan cepat jalan sehingga aku
kewalahan mengejarnya sambil berteriak “ kerudung pink…. Mba…. Lembaran anda
tertinggal”
Aku tak bisa mengejar angkot itu
dan akhirnya lembaran itu pun aku bawa ke kantor.aku membaca lembaran itu,
lembaran yang di tulis tangan yang berisi kata-kata yang sangat menyentuh
perasaan ku.
Lembaran ini berisi sebuah puisi
dengan inisial sebuah huruf “R” di bawah kanan lembar kertas
Cinta ini ya allah…..
kenapa
ia begitu indah dimataku
kenapa ia begitu special dihidupku
ia datang dengan segala keindahan, yang
membuat aku kagum
ia terkadang muncul dalam fikiranku
menggoyahkan pemahamanku
ia terkadang menyapaku dalam mimpi,membawaku
terbang jauh
rabbi,, apakah ini cinta ???
butakah cinta ini ???
jika ini cinta, ia akan mendekatkan ku
dengan-MU….
Jika ini cinta, ia akan mengajaku menelusuri
jalan-MU…
Jika ini cinta, ia akan menikahiku karena-MU….
Rabbi,perasaan apa ini ???
Aku menginginkannya menjadi imamku kelak
Aku ingin melahirkan bidadari-bidadari kecil
dan ksatria kecil darinya
Aku ingin melangkah dijalanmu bersamanya
Ya ALLAH,ya rabbi….
Jagalah ia,lindungilah ia,dan tuntunlah
langkahnya hanya dijalan-Mu
*flashback
end*
Raina menyambut lembaran yang ku
beri dan tersenyum
Ternyata R berarti Raina….
Raina hanya mengangguk
Aku rasyid “ kataku memperkenalkan
diri”
Mas, ini martabaknya “ kata mas
penjual martabak yang menyelah
perbincanganku karena martabak yang ku pesan telah selesai”
Ketika aku hendak melangkah
pergi,ku lirik raina yang hanya diam memandang martabak. Sungguh wanita yang
mengagumkan ini membuat ku penasaran. Kenapa ia hanya selalu diam tanpa bicara.
Menurutku orang-orang yang puitis memang agak pendiam,mereka lebih suka
mengutarakan pemikiran mereka melalui tulisan.namun,apakah harus selalu diam
???
Sebulan telah berlalu, entah kenapa
sejak pertemuanku dengan raina 7 bulan yang lalu di dalam rintikan hujan yag
lebat dan pertemuan terakhir kami di rombong martabak itu aku selalu berharap
ingin bertemu dengannya, aku ingin
melihatnya, aku ingin medengar suaranya,dan aku ingin berkenalan dengannya.
Apakah aku jatuh cinta ? sepertinya iya.berbagai cara telah ku lakukan untuk
bisa bertemunya kembali,namun hasilnya belum bertemu.
Dremmmm dremmm … suara getar
ponselku yg menandakan ada orang yg menelphon
Assalamualaikum, kenapa ma ?
Iya,segera aku akan pulang ma tapi
nanti sekitar 3 bulan lagi
Ma,aku lagi gak ingin membahas soal
pernikahan. Aku belum siap
Hmmm,ada seseorang ma tapi aku
hanya tau namanya
Iya,ma. Mama dan ade juga
hati-hati, jaga kesehatan. Walaikumsalam.
“kataku menghela nafas panjang karena mama selalu menuntutku memberikan
seorang menantu,maklum umurku sudah 27 tahun”
Aku lapar dan ingin martabak,yaaa
martabak. Aku seperti mendapat ide, martabak simpang kebun sayur. Bukankah mas
penjual martabak itu mengenal raina, ia pasti tahu banyak tentang raina tanpa
basa basi aku menuju lokasi,dipersimpangan jalan aku melihat seorang wanita
yang mengumpulkan kertas yang tercecer tanpa berpikir panjang aku membantunya
dan masyaallah kaget bercampur deg-deg kan sekali aku dibuat kaget oleh sosok
wanita ini. Ia raina.
Raina… “ kataku pelan yang membuat
ia menoleh jua terkejut”
Lama sekali aku baru
melihatmu,ternyata kamu terlalu suka menjatuhkan lembaran-lembaran kertas “ kataku
bercanda untuk mencairkan suasana”
Lagi-lagi dan lagi-lagi ia hanya
tersenyum
Kenapa tak bicara ? apa aku pernah
melakukan kesalahan ?
Raina hanya menampakkan wajah datar
dan ini semakin membuatku sedikit kecewa, aku betul-betul heran kenapa raina
tak pernah berkata kepadaku walau hanya satu huruf sedangkan dengan yang lain
ia begitu mudah berbagi informasi contohnya mas penjual martabak yang begitu
tahu tentangnya.
Saya bukan orang jahat “kataku
pelan dan pasrah,aku ingin melangkah pergi menuju tempat tujuanku walau
sebenarnya tujuan utamaku memanglah ingin bertemu raina namun aku ingin
mengembalikan tujuan awalku ialah membeli martabak”
Tiba-tiba saja ada raina berjalan
mendahului ku dan menghadapku, aku bukan main gugupnya hanya bisa diam
membeku,apalagi ketika ia menyerahkan sebuah kertas dengan kaku aku
menyambutnya dan membacanya pelan
Saya tahu anda bukan orang jahat,
saya berterimakasih karena anda beberapa kali menolong saya tapi bisakah anda
tidak selalu mengajak saya berbicara,saya tak bisa menjawab….
Kertas yang berisi kata-kata ini
membuatku terkejut,apa salahnya berbicara ? bukankah Allah memberikan mulut
untuk menyampaikan isi pemikiran atau perasaan hingga manusia lain mengerti dan
memahami.aku mengerut kening,ingin protes,namun tak sempat aku protes raina
telah melangkah pergi.aku merasa ada yang salah dalam dirinya. Aku berjalan
focus untuk membeli martabak walau selera untuk makan martabak telah lenyap
namun aku tetap ingin membelinya, tanpa basa-basi ku pesan 2 martabak special dan ingin ku bertanya
tentang raina namun ku urungkan niatku untuk mengenal wanita itu.
Mas sama mba raina itu satu kampus
kah ? “tanya mas penjual martabak itu yang malah bertanya kepadaku,walaupun aku
mengurungkan niat untuk mengenal raina namun aku coba tahu tak ada salahnya
juga”
Gak, saya hanya beberapa kali
bertemu dengannya
Oalahh,pantes.
Pantes kenapa mas ?
Pantes,situ terus nyosor pertanyaan
ke mba raina ternyata situ tak tahu ya ?
Tak tahu apa ? kataku mulai
penasaran
Mba raina itu wanita yang sangat
baik,anggun,pinter,tapi sayang mas ia bisu.
Kata-kata mas penjual martabak ini
bagaikan suara Guntur di tengah hujan. Wajar namun entahlah. Aku betul-betul
sangat merasa bersalah telah menyimpulkan bahwa ia berpikir aku orang yang
jahat hanya karena ia tak mau berbicara padaku”
Ini mas martabaknya…
Iya,terimakasih kalau boleh tahu
dimana ya alamatnya mba raina itu ?
Dari sini terus saja nanti belok
kanan jika ada rumah warna biru no.24 itu sudah mas
Iya terimakasih mas
Aku melangkah agak gontai masih
sedikit tak menyangka bahwa ia seorang tunawicara namun aku entahlah aku mengaguminya namun entahlah aku
mulai bimbang dan bingung
2 minggu telah berlalu,raina dengan
kekurangan serta kelebihannya masih menghinggapi pemikiranku,aku ingin sekali
menemuinya,aku ingin melamarnya. Aku merasa telah jatuh cinta kepadanya, kenapa
aku begitu yakin ini cinta karena sejak pertemuan kami di bawah rintik hujan
yang deras aku sudah mulai tertarik padanya,sejak membaca puisinya aku sudah mulai
mengaguminya,dan saat bertemu dengannya aku jatuh cinta pada penampilan dan
tingkahnya yang cuek,sangat membatasi diri,mengerti cara bergaul antar lawan
jenis dalam islam. Banyak kelebihan yang ia miliki hingga kekurangannya hanya
terlihat selintas. Ku bulatkan tekad aku akan kerumahnya besok malam untuk
memberitahunya bahwa aku akan melamarnya,jika ia setuju aku akan membicarakan
hal ini kepada keluargaku dan juga keluarganya. Semoga di beri kelancaran dan
insha allah aku yakin akan ada kemudahan.aamiinn.
16 November telah tiba dengan Bismillah aku melangkah
menuju rumahnya, persiapan telah ku lakukan jauh-jauh hari dari penampilan,gaya
bicara,dan belajar sedikit cara bertingkah laku di depan calon mertua.aku
sangat sangat gugup hingga berulang kali aku membaca surah al-fatihah dan
dzikir.
Assalamualaikum….
Walaikumsalam
Apa betul ini rumahnya raina ? saya
rasyid pak “ kataku tegang sambil
mengulurkan tangan untuk menjabat tanyan seorang bapak-bapak yang berusia
sekitar 47 tahun ini.
Iya betul,tapi rainanya……
Ehem,maaf pak. Saya sebenarnya
ingin bermaksud menyatakan cinta pada raina jika ia setuju saya akan melamarnya
“kataku to the point,karena aku semakin gelisah bahkan gugup setengah mau
pingsan rasanya. Dengan to the poin aku percaya, semua akan terasa mudah”
Raina pasti senang mendengar ada
seorang pria yang begitu berani melamarnya tanpa memintanya berpacaran,namun
saya ingin katakan nak bahwa anak saya itu seorang tunawicara….
Tak apa pak,saya sudah tahu. Saya
merasa kelebihan yang ia punya tak akan membuatnya memiliki kekurangan,ia
memiliki kpribadian yg baik ….
Terimakasih nak atas pujian mu
terhadap anak saya namun….
Ayah raina hanya diam dan sedikit
menitikan air mata dipipinya, dari raut wajahnya ia sepertinya menyimpan luka
dan kepedihan,bukan kebahagiaan layaknya seseorang yang ingin mendapat menantu.
Tingkahnya yang diam dan menangis ini membuatku sangat bingung,karena aku
sebagai lelaki hanya akan menangis jika luka yg ku rasa begitu dalam,entah apa
yang terjadi aku merasa ingin menangis jua
Raina telah kembali menemui
rabb-nya sekitar 1 minggu yang lalu
Maaf pak, apa saya tak salah dengar
atau apa ini ? kataku bingung tak percaya bahkan aku seperti bermimpi buruk
namun aku tak mampu kembali bangun,air mata ku mengalir di depan ayah raina ia
mencoba menepuk pundakku walaupun aku tahu ia juga begitu sedih. Aku terdiam
mencoba berfikir, ber dzikir,dan berdoa ini hanya mimpi namun sayang ini bukan
mimpi,ini nyata.luka ini nyata.kenangan pertemuan ku dengan raina berputar di
memori kepala,satu demi satu kenangan membuatku kalut. Dalam diam pertanyaanku
terjawab,dalam diam ia berlalu dan dalam diam semua terekam.
End
Tidak ada komentar:
Posting Komentar