Fokuslah pada tujuan Akhirat, dunia akan mendekat......
"Barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai obsesinya, maka Allah
melancarkan semua urusannya, hatinya kaya, dan dunia datang kepadanya
dalam keadaan tunduk. Dan, barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai
obsesinya, maka Allah mengacaukan semua urusannya, menjadikannya miskin,
dan dunia datang kepadanya sebatas yang ditakdirkan untuknya." (HR.
Ibnu Majah).
Membicarakan akhirat tidak sama dengan beramal untuk
akhirat, meski merupakan salah satu asas utamanya. Mari kita "update
& upgrade status" dari membicarakan menjadi beramal. QS. 17: 19 "Dan
barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu
dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah
orang-orang yang usahanya dibalas"
Membagi amal Ust. Abu Umar Basyir yang menulis dengan "sangat jujur" seperti berikut ini :
Sebelum
membahas tentang berbagai realitas di medan dakwah yang terkait dengan
soal-soal dunia, terlebih dahulu kita menyematkan sebuah sudut pandang
yang benar terhadap kehidupan dunia dengan segala kegemerlapannya.
Tujuannya, agar kita betul-betul dapat membayangkan apa jadinya bila
medan-medan dakwah yang suci ini sudah demikian identik dengan soal-soal
dunia. Dan bagaimana jadinya jika para juru dakwah lebih banyak
membicarakan dunia dengan sangat sungguh-sungguh, dengan semangat yang
demikian menggebu-gebu, namun memperbincangkan akhirat dengan sangat
bermain-main, dengan sisa energinya saja, dengan keyakinan yang
sama-sama melekat dalam jiwa juru dakwah itu dan juga di lubuk yang
paling dalam dari para pendengar dan penyimak dakwah mereka : Kita
sama-sama enggak pernah ngamalin kayak gitu. Kita, yang satu di hadapan
yang lain, cuma beda kebetulan saja. Yang satu kebetulan sedang
berceramah, dan yang lain kebetulan sedang mendengarkan. Di luar itu,
kita sama-sama bukan orang yang mengejar akhirat. Cuma sekedar ngomongin
akhirat.
Al-Quran bertabur ayat-ayat yang memperbincangkan soal
akhirat. Sebagian di antaranya memuat kecaman terhadap dunia. Mengingat
kita bukan hendak mengulas tentang dunia, penulis hanya akan memaparkan
sebagian di antaranya saja.
Untuk menjelaskan ciri khas kaum beriman, simbol kaum bertaqwa, Allah menjelaskan (yang maknanya):
"Dan
mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan
kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu[17], serta
mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat[18]." Al-Baqarah[2]:4.
[17]
Kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelum Muhammad s.a.w. ialah
kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur,
Injil dan Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al Quran yang diturunkan
kepada para rasul. Allah menurunkan Kitab kepada Rasul ialah dengan
memberikan wahyu kepada Jibril a.s., lalu Jibril menyampaikannya kepada
rasul.
[18] Yakin ialah kepercayaan yang Kuat dengan tidak dicampuri
keraguan sedikitpun. akhirat lawan dunia. kehidupan akhirat ialah
kehidupan sesudah dunia berakhir. yakin akan adanya kehidupan akhirat
ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir.
Memang
tidak disangkal, bahwa bagaimana pun dan siapa pun, pasti memiliki
kecenderungan atau bisa disebut rasa suka terhadap hal-hal duniawi.
Allah berfirman (yang maknanya) :
"Dijadikan
indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini,
yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,
perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang.
Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali
yang baik (surga)." Aali 'Imraan [3]:14.
[186] yang dimaksud
dengan binatang ternak di sini ialah binatang-binatang yang termasuk
jenis unta, lembu, kambing dan biri-biri.
Namun kemudian, Allah
menegaskan bahwa semua kenikmatan itu tak ada apa-apanya dibandingkan
dengan kenikmatan di sisi-Nya, yakni kenikmatan yang kekal abadi. Bukan
kenikmatan yang tak ubahnya fatamorgana, seperti dunia ini.
Allah berfirman (yang maknanya) :
Aali
'Imraan [3]:15. Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang
lebih baik dari yang demikian itu?". untuk orang-orang yang bertakwa
(kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir
dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka
dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan
Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.
Aali 'Imraan [3]:185.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan sesungguhnya pada hari
kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka
dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung.
kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.
Ghaafir
[40]:39. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah
kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang
kekal.
Kenikmatan dunia yang beragam, semuanya mengandung nilai
godaan dengan kapasitas sendiri-sendiri. Harta dan anak, menempati
posisi unggulan sebagai bagian duniawi yang begitu menggoda. Allah 'Azza
wa Jalla telah memperingatkan tentang godaan harta dunia dan anak-anak.
Dia berfirman (yang maknanya) :
Al-Anfaal [8]:28. Dan
Ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan
dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.
Jadi,
seperti yang sudah kita fahami bersama, dunia ini begitu murahnya dan
begitu tidak ada artinya di sisi Allah Yang Maha Pencipta. Dan
demikianlah seharusnya manusia memandangnya. Rasulullah shallalLaahu
'alayhi wa sallam bersabda, "Seandainya dunia ini di sisi Allah hanya
senilai sayap nyamuk sekalipun, Allah tidak akan memberi minum orang
kafir seteguk air pun". (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya Hasan).
Itulah
sebabnya, Allah melarang kita memandang kehidupan "manusia-manusia
dunia" sedemikian takjub. Karena batas hidup mereka adalah kematian.
Sementara bagi "orang-orang akhirat", kematian adalah awal dari
kehidupan, sesuai firman Allah (yang maknanya) :
Thaa-Haa[20]:131.
Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang Telah kami
berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan
dunia untuk kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah
lebih baik dan lebih kekal.
Dari catatan : Ust. Abuyahya (Narasumber)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar