Sekilas Pelangi
MihrimaH
Ia tak
secerah mentari pagi yang dapat menghangatkan dinginnya sikapku
Ia juga tak
seindah bintang-bintang yang bertabur digelap gulitanya malam-malamku yang sepi
dan senyap
Ia hanya
wanita biasa yang ku lihat bisa menangis tetapi ia berbeda,ia punya banyak
warna bak pelangi yang menghias monotonnya warna biru putih langit. entahlah…
Ia menangis
dalam ketegaran bukan dalam kelemahan dan
itu membuatku tak ingin berbalik
Aku terus
melihatnya, tak berani mendekatinya, dan hanya melihatnya.
“Fariz,
hujan ini dingin” ucapnya tanpa
melihatku
Aku diam,
mataku tertuju pada payung yang di bawanya.
“kau siapa
? kenapa tadi ku lihat kau menangis dan kenapa sekarang kau membawa payung ?
ini hanya mendung ” kataku dalam hati, ahh aku tak bisa berucap dan ini aneh.
Aku baru kali ini mendengar suaranya, bukan baru kali ini ia menyapaku, bukan bukan bahkan baru
kali ini aku melihatnya.
“DHOAWR” suara petir yang terdengar tiba-tiba.
Sungguh,aku terkejut bukan main dan terasa lemes kaki ini namun yang lebih
membuat lemes wanita ini mulai buram dan sedikit menghilang eehh tidak ia mulai
buram. Bukan buram ternyata namun lebih
tepatnya perlahan wanita ini mulai tergantikan dari pandanganku, tergantikan
dengan sebuah jam bulat putih yang menempel di dinding. Jam dinding. Dan jam
dinding ini tepat menunjukan pukul 03.00
sore.
Ku
kedip-kedipkan mataku, ku lihat sekilas sekitarku, dan cukup lama aku baru sadar, ternyata tadi hanya mimpi di siang
bolong.
***
Bersambung ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar