Selasa, 27 Agustus 2019


Sekilas Pelangi
 MihrimaH

Ia tak secerah mentari pagi yang dapat menghangatkan dinginnya sikapku
Ia juga tak seindah bintang-bintang yang bertabur digelap gulitanya malam-malamku yang sepi dan senyap
Ia hanya wanita biasa yang ku lihat bisa menangis tetapi ia berbeda,ia punya banyak warna bak pelangi yang menghias monotonnya warna biru putih langit. entahlah…
Ia menangis dalam ketegaran bukan dalam kelemahan dan  itu membuatku tak ingin berbalik
Aku terus melihatnya, tak berani mendekatinya, dan hanya melihatnya.
“Fariz, hujan ini dingin”  ucapnya tanpa melihatku
Aku diam, mataku tertuju pada payung yang di bawanya.
“kau siapa ? kenapa tadi ku lihat kau menangis dan kenapa sekarang kau membawa payung ? ini hanya mendung ” kataku dalam hati, ahh aku tak bisa berucap dan ini aneh. Aku baru kali ini mendengar suaranya, bukan baru kali  ini ia menyapaku, bukan bukan bahkan baru kali ini aku melihatnya.
“DHOAWR”  suara petir yang terdengar tiba-tiba. Sungguh,aku terkejut bukan main dan terasa lemes kaki ini namun yang lebih membuat lemes wanita ini mulai buram dan sedikit menghilang eehh tidak ia mulai buram. Bukan buram ternyata namun  lebih tepatnya perlahan wanita ini mulai tergantikan dari pandanganku, tergantikan dengan sebuah jam bulat putih yang menempel di dinding. Jam dinding. Dan jam dinding ini tepat menunjukan  pukul 03.00 sore.
Ku kedip-kedipkan mataku, ku lihat sekilas sekitarku,  dan cukup lama aku baru  sadar, ternyata tadi hanya mimpi di siang bolong.

*** Bersambung ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta