Kamis, 17 Maret 2016



              Psikologi Agama
Yoga Achmad Ramadhan, M,P.Si

Seikat bunga
 Dari
 taman pengajian

Hasil gambar untuk gambar bunga

Martinah (14.11.21.00835)

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
IBNU RUSYD
TANAH GROGOT


Seikat bunga dari taman pengajian

“ bermimpilah, maka ALLAH akan memeluk mu juga mimpi-mimpimu. Allah Maha Mendengar”
Seuntai kata, kutipan dari sebuah novel yang pernah ku baca,
Aku bukan seorang anak yang terlahir dari keluarga yang bergelut dalam dunia pendidikan, aku juga bukan seorang anak yang terlahir dari keluarga yang bergelut dalam dunia perusahaan. Aku hanya seorang anak yang terlahir dari keluarga sederhana. Kesederhanaan yang mengajariku untuk berbagi dan mengasihi. Aku dan saudara-saudara, sangat akrab. Kami kerap berbagi cerita sampai kerap berbagi jajan. Thanks to Allah, for my family.
Tak hanya berbagi cerita kepada orang rumah, akupun kerap berbagi cerita pada sahabat-sahabatku disekolah. Aku bersyukur, selalu memiliki sekumpulan sahabat. Sahabat ketika Sekolah Dasar, sahabat ketika Sekolah Menengah Pertama, dan sahabat ketika Sekolah Menengah Kejuruan. Aku tak ingin berpisah dari mereka, aku sudah nyaman dengan mereka. Sungguh, mereka orang yang baik. Thanks to Allah, for my best friends.
Namun, sudah menjadi hukum dunia, saat ada pertemuan juga pasti akan ada perpisahan. Menjelang kelulusan SMK, kami semua terpisah. Jarangnya waktu bertemu dan setumpuk kesibukkan merenggangkan kebersamaan kami, kami saling mendoakan namun kami seolah jalan masing-masing. Berjalan di perjalananan.
Dijalan ku yang sendiri ini, aku menemukan setangkai bunga. Bunga yang cerah juga bunga yang indah. Seorang ustadzah. Ustadzah Aisyah.
Atas izin Allah, kami bertemu. Pertemuan kami berawal dari sebuah pengajian muslimah. Pengajian yang lahir atas perintah seorang guru matematika ku, di SMK. Kawan, walau aku ingin menolak perintah datang ke pengajian tetapi mulutku akan berkata “ iya,bu…”. Itulah aku. Aku tipe orang yang sulit menolak, apalagi perintah itu berasal dari guru ku, guru yang ku hormati. Rasanya menolak tak enak. Akhirnya pun aku datang dan setiap ada undangan aku pun datang.
Kedatanganku dalam pengajian, membuatku perlahan akrab dengan ustadzah Aisyah. Aku banyak belajar  darinya. Darinya aku mengetahui, bahwa islam adalah agama yang sempurna, Agama yang mengatur seluruh perbuatan. Baik itu perasaan juga pemikiran. Agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan, dari kehidupan pribadi hingga kehidupan social. Dari aturan bangun tidur sampai aturan bangun Negara. Itulah islam dengan rahmatnya untuk seluruh alam. Subhanallah.
Aku tercengang, sungguh betapa anehnya aku. Aku yang mengaku beragama islam namun mengapa aku yang tak tahu aturan islam ? Astagfirullah. Terutama aturan islam dalam berbusana. Kadang aku sangat malu, dengan kelalaian ku yang polos,aku datang menemui uastadzah aisyah, tanpa memperhatikan busana, mengunakan celana levis pun jadi, tanpa kaos kaki pun jadi. Astgfirullah. Padahal dalam islam, wanita yang telah baliq, wajib hukumnya mengenakan jilbab ( baju terusan yang longgar, tidak menerawang dan  tidak membentuk ) dan wajib hukumnya mengenakan kerudung ( penutup kepala), karena apa yang ada pada seorang perempuan adalah aurat kecuali telapak tangannya dan wajahnya.
Teguran sering sekali terlontar dari mulut ustadzah aisyah, aku tak mampu menangkis tegurannya karena apa yang ia sampaikan adalah sebuah kebenaran dan juga untuk kebaikan. Tak hanya itu, keluhan pun juga sering ku lontarkan. Memakai hijab ini panas, gak bebas. Tetapi dengan penuh kasih sayang karena Allah, ustadzah aisyah terus menguatkan bahwa ini adalah sebuah proses untuk menggapai ketaatan. Bahwa ini adalah perjuangan untuk menggapi mimpi yang indah bagi seorang hamba. Ridho Allah. Bersabar dalam perbaikan akhlak, bersabar dalam tiap perintah, dan bertahan dari setiap godaan larangan. Seorang manusia harus yakin, bahwa seberat apapun itu, ia pasti bisa melewatinya. Karena Allah, tak akan membebankan, apa-apa yang tak mampu kita lakukan. “Harus sabar, tina…… ”.
Walau kadang kita merasa tak punya waktu, walau kadang kita merasa lelah untuk melangkah, walau kadang kita di hadapkan dengan berbagai macam kesibukan tetapi masyaallah, ternyata tak pernah ada rugi nya saat kita, mendatangi majelis-majelis ilmu. Kita akan selalu mendapatkan hal-hal yang baru, kita akan selalu mendapatkan semangat-semangat baru, kita akan selalu mendapatkan kawan-kawan baru, dan kita akan mencoba selalu untuk menjadi manusia yang lebih baik, bukan lebih baik dari orang lain tetapi lebih baik dari diri sendiri, dari waktu ke waktu. Manusia yang bertakwa.
Aku menemukan setangkai bunga dari seikat bunga di taman pengajian dan aku berharap akan selalu ada bunga yang tumbuh untuk dirangkai.
Ya rabb, we raise our hands, forever we thankyou, Alhamdulilah…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta