Psikologi
Agama
Yoga Achmad Ramadhan, M,P.Si
Seikat bunga
Dari
taman pengajian
Martinah (14.11.21.00835)
SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
IBNU RUSYD
TANAH GROGOT
Seikat bunga dari taman pengajian
“ bermimpilah, maka ALLAH akan memeluk mu juga
mimpi-mimpimu. Allah Maha Mendengar”
Seuntai kata, kutipan dari sebuah novel yang pernah ku
baca,
Aku bukan seorang anak yang terlahir dari keluarga
yang bergelut dalam dunia pendidikan, aku juga bukan seorang anak yang terlahir
dari keluarga yang bergelut dalam dunia perusahaan. Aku hanya seorang anak yang
terlahir dari keluarga sederhana. Kesederhanaan yang mengajariku untuk berbagi
dan mengasihi. Aku dan saudara-saudara, sangat akrab. Kami kerap berbagi cerita
sampai kerap berbagi jajan. Thanks to Allah, for my family.
Tak hanya berbagi cerita kepada orang rumah, akupun
kerap berbagi cerita pada sahabat-sahabatku disekolah. Aku bersyukur, selalu
memiliki sekumpulan sahabat. Sahabat ketika Sekolah Dasar, sahabat ketika
Sekolah Menengah Pertama, dan sahabat ketika Sekolah Menengah Kejuruan. Aku tak
ingin berpisah dari mereka, aku sudah nyaman dengan mereka. Sungguh, mereka
orang yang baik. Thanks to Allah, for my best friends.
Namun, sudah menjadi hukum dunia, saat ada pertemuan
juga pasti akan ada perpisahan. Menjelang kelulusan SMK, kami semua terpisah.
Jarangnya waktu bertemu dan setumpuk kesibukkan merenggangkan kebersamaan kami,
kami saling mendoakan namun kami seolah jalan masing-masing. Berjalan di
perjalananan.
Dijalan ku yang sendiri ini, aku menemukan setangkai
bunga. Bunga yang cerah juga bunga yang indah. Seorang ustadzah. Ustadzah
Aisyah.
Atas izin Allah, kami bertemu. Pertemuan kami berawal
dari sebuah pengajian muslimah. Pengajian yang lahir atas perintah seorang guru
matematika ku, di SMK. Kawan, walau aku ingin menolak perintah datang ke pengajian
tetapi mulutku akan berkata “ iya,bu…”. Itulah aku. Aku tipe orang yang sulit
menolak, apalagi perintah itu berasal dari guru ku, guru yang ku hormati.
Rasanya menolak tak enak. Akhirnya pun aku datang dan setiap ada undangan aku
pun datang.
Kedatanganku dalam pengajian, membuatku perlahan akrab
dengan ustadzah Aisyah. Aku banyak belajar
darinya. Darinya aku mengetahui, bahwa islam adalah agama yang sempurna,
Agama yang mengatur seluruh perbuatan. Baik itu perasaan juga pemikiran. Agama
yang mengatur seluruh aspek kehidupan, dari kehidupan pribadi hingga kehidupan
social. Dari aturan bangun tidur sampai aturan bangun Negara. Itulah islam
dengan rahmatnya untuk seluruh alam. Subhanallah.
Aku tercengang, sungguh betapa anehnya aku. Aku yang
mengaku beragama islam namun mengapa aku yang tak tahu aturan islam ? Astagfirullah.
Terutama aturan islam dalam berbusana. Kadang aku sangat malu, dengan kelalaian
ku yang polos,aku datang menemui uastadzah aisyah, tanpa memperhatikan busana,
mengunakan celana levis pun jadi, tanpa kaos kaki pun jadi. Astgfirullah.
Padahal dalam islam, wanita yang telah baliq, wajib hukumnya mengenakan jilbab
( baju terusan yang longgar, tidak menerawang dan tidak membentuk ) dan wajib hukumnya
mengenakan kerudung ( penutup kepala), karena apa yang ada pada seorang
perempuan adalah aurat kecuali telapak tangannya dan wajahnya.
Teguran sering sekali terlontar dari mulut ustadzah
aisyah, aku tak mampu menangkis tegurannya karena apa yang ia sampaikan adalah
sebuah kebenaran dan juga untuk kebaikan. Tak hanya itu, keluhan pun juga
sering ku lontarkan. Memakai hijab ini
panas, gak bebas. Tetapi dengan penuh kasih sayang karena Allah, ustadzah
aisyah terus menguatkan bahwa ini adalah sebuah proses untuk menggapai
ketaatan. Bahwa ini adalah perjuangan untuk menggapi mimpi yang indah bagi
seorang hamba. Ridho Allah. Bersabar dalam perbaikan akhlak, bersabar dalam
tiap perintah, dan bertahan dari setiap godaan larangan. Seorang manusia harus
yakin, bahwa seberat apapun itu, ia pasti bisa melewatinya. Karena Allah, tak
akan membebankan, apa-apa yang tak mampu kita lakukan. “Harus sabar, tina…… ”.
Walau kadang kita merasa tak punya waktu, walau kadang
kita merasa lelah untuk melangkah, walau kadang kita di hadapkan dengan
berbagai macam kesibukan tetapi masyaallah, ternyata tak pernah ada rugi nya
saat kita, mendatangi majelis-majelis ilmu. Kita akan selalu mendapatkan
hal-hal yang baru, kita akan selalu mendapatkan semangat-semangat baru, kita
akan selalu mendapatkan kawan-kawan baru, dan kita akan mencoba selalu untuk
menjadi manusia yang lebih baik, bukan lebih baik dari orang lain tetapi lebih
baik dari diri sendiri, dari waktu ke waktu. Manusia yang bertakwa.
Aku menemukan setangkai bunga dari seikat bunga di taman
pengajian dan aku berharap akan selalu ada bunga yang tumbuh untuk dirangkai.
Ya rabb, we raise our hands, forever we thankyou,
Alhamdulilah…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar