Kamis, 06 Desember 2018


Dandelion di Petang Senja
Oleh : MihrimaH

"Tidak mudah mengumpulkan apa yg telah terurai, karena goresan itu menciptakan retak. Jika kau bisa perbaiki, cobalah..."
        Ia terlihat biasa saja, baju terusan merah tua dengan hiasan dua tali yang di ikat, warna polos, ia juga gunakan kerudung segi empat hitam dengan bros kecil,Panda hitam. Ia bentangkan sebelah tangannya, ia coba nikmati perjalanan kali ini. Rasanya jalan ini seperti sebuah hadiah, buat ia tak terlihat lari. Mudah mudahan ini sebagai pembuka. 

"Semoga, jalan pembuka " bisiknya pelan penuh harap. 

"Jalan pembuka? "Suara disamping mengagetkan. 
"Kakak, dengar? " tanya ku sambil menoleh dan kulihat ia sambil fokus menyetir, beberapa menit yang lalu ia ngedumel karena medan jalan ini, katanya dia pasti muntah kalau gak nyetir, pun sekarang dia udah mulai merasa mual. Ia lirik aku sekilas, menunggu jawaban. Aku diam sebentar, memilih antara jujur atau sejujur jujurnya atau memilih diam saja atau alihkan saja atau pura pura tak dengar , yang penting, jangan pilih bohong. Karena itu dosa. Ku biarkan tanpa jawaban dan ku tatap jalanan panjang itu….
        Tahun yang lalu, April 2015 di belakang plaza. 
Betul betul tak sengaja, semua seakan statis tanpa sebuah perintah. Pemilik dua bola mata tajam yang mengagumkan, baju biru malam kaos berkerah dan wajah yang putih kemerah merahan, tak ada senyuman kemudian waktu kembali cepat seperti semula kecuali satu, ia yang terekam tanpa sengaja. Ia. 
       Hati hati terhadap sebuah rutinitas tanpa kesadaran, seperti sebuah robot yang bergerak tapi tak paham. Kau manusia. Jika bosan dan jenuh menjadi alasan, sebaiknya berhenti saja atau berhenti sejenak dulu hingga bosan dan jenuh itu lari, lalu kau kembali. Bergelut dalam aktivitas yang sama namun penuh makna.

“Lakukan itu.. Lakukan itu... Maryam” kataku pada diri sendiri sambil memegang kepala dan ku lirik sekilas, ternyata kakak ku hanya tersenyum melihat kelakuan ku.
“menyemangati diri nih ceritanya “ olok dia, ka Ari, kakak ke dua ku.
“ iya… ka… mumet aku “
“semua…akan baik-baik saja !” kata ka Ari lalu di berjalan kembali ke kamarnya, maklumlah tadi aku sedang menghambur-hamburkan jawaban PTS genap anak-anak SD Kartika di ruang tamu.
       Perkenalkan, namaku Maryam . Maryam saja. Aku adalah guru kelas V dan seorang mahasiswa di sebuah kabupaten kecil bernama Paser daerah Kalimantan Timur. Usiaku saat ini 21 Tahun. Kata beberapa orang yang mereka berputar disetiap hari ku, aku adalah tipe wanita yang pendiam dan susah di tebak. Entahlah , jarang aku mau ambil pusing atas dugaan-dugaan mereka, siapa kita ? tak ada yg tahu kecuali Allah SWT, bahkan diri ini pun masih terus perlu mencari-cari diri, adalah hal yang cukup aneh saat kita mencoba menduga-duga diri orang lain, yaaah walaupun mungkin ada benarnya, tapi aits.. itu pasti hanya di moment-moment tertentu, jadi… tidak menyamaratakan. Karena usia yaaa hanya sekumpulan pengalaman atas dasar pemahaman bukan ?
“yaa Allah, kenalkan aku pada diri ku “ sebuah doa yg pernah ku kutip dari sumber bacaan dulu di masa SMK. Dan aku… lakukan hal itu. Terus mencari tentang diri.
     Kembali lagi, Itulah yg ku fikirkan, hasil dari berfikir keras, aku jelas jelas tak mau seperti robot tapi dengan wajah yang lemas lalu ku ingat ingat dan ku akui sering bergerak tanpa makna. Kuliah-kerja-agenda-kerja-agenda-tugas yang selalu menumpuk- dan seterusnya,Seperti itu adanya bergulir membuatku luntang lanting. Kadang ku tatap sinis diri ini, apa mau mu maryam? Ku tanya lalu aku pun diam.
1...2...3... Tak ada jawaban, Zonk. 


       Banyak yg harus aku persiapkan untuk esok, kembali mengawas dan mengoreksi tentunya, karena ini adalah pekan PTS. Sebelum aktivitas mengawas dan mengoreksi, aku telah tempur dengan aktifitas membahas dan membuat soal. Yaa lah kawan, menjadi guru adalah hal yang menantang, karena kita berhadapan langsung dengan makhluk Allah yang hidup bernama anak-anak. Mereka bisa melihat, bisa mendengar, bisa merasa, bisa berfikir, bisa menangis, bisa tersenyum,dan tentu…bisa berkomentar. Heheh. Hal seperti ini bukan seperti berjualan, berjualan adalah salah satu aktivitas rutinitas ku juga, toko orang tua soalnya. Dan juga bukan seperti seorang admint di sebuah Distributor dulu, yang pernah aku alami, ada kertas empat warna putih-pink-kuning-hijau yang terus kulihat dengan cerah serta seolah olah memanggil untuk di pasang d printer putih kekuningan yg panjang, printer dengan tinta pita yang harus di ganti, dua bulan sekali sebenarnya juga terkait banyaknya penggunaannya sih, jika faktur penjualan dan faktur return menumpuk, paling satu bulan udah ganti pita. Dan menggantinya, susah susah gampang, banyak susahnya dan aku yang paling kerap mengganti itu pita tinta. Karena posisi duduk ku, tepat di samping itu printer. Di dalam satu ruangan kami berjumlah tiga, mba putri, mba dina, dan aku. Tiga admint yang menciptakan suasana sunyi senyap saat kerjaan menumpuk. Kami adalah karakter yang memilih diam saat bergelut dengan aktivitas yg membutuhkan konstrasi. Hening.

       Aku menargetkan pukul 23.00 wita sudah harus selesai ini koreksian, aku tak hobi dan tak mau begadang. Titik. Itu adalah prinsip ku, aku sangat memperhatikan jam tidur, karena menurut info yang ku dapat, tidur di atas pukul 24.00 akan membuat sel darah putih tak berjalan baik, sebuah sel yg perlu di rawat karena salah satu fungsinya ialah menutup luka. Dan saat ini, ku lirik jam tangan hitam berbentuk bundar dengan tali kain hitam merk Mirage , jarum jam pendek menunjukkan pukul 22 dan jarum jam panjang pukul 1. 
"Okelah waktu, melambatlah" kata ku memohon pelan lalu ku iringi dengan senyum simpul nan kecut, sebuah permohonan yg tak berlaku di dunia, bayangkan , waktu, kok minta di perlambat. Setelah itu, aku pun mulai.. Mulai untuk bertempur dengan lembar jawaban, okey… lembar jawaban. I can do it. Bismillah

      Selayaknya sebuah dansa, kerjasama antara music dan gerakan haruslah seimbang,dan kini… music itu adalah suara bolak-balik kertas yang sedang ku koreksi dan gerakan itu adalah gerakan tanagnku. Jarum panjang jam terus berjalan bersamaan dengan konstrasi mata nan jeli melihat pilihan jawaban dari soal ganda anak-anak kelas V SD Kartika. Satu lembar lagi selesai, Alhamdulillah. Lekas ku rebahkan tubuh ini, aku betul-betul merasa pinggang ini menyatu lembut setelah beberapa jam yang lalu berdiri tegang tuk berkonsentrasi. Duuh … Maryam, jangan tidur dulu, belum cuci muka dan wudhu, pikirku disela-sela saat mata mulai mengantup bak tumbuhan putri malu yang telah tersentuh. Mengantup.
“ ya Rabbi…. Ngantuknya “ kataku sambil berjalan gontai menuju toilet
Cuci muka dan wudhu sebelum tidur adalah hal yang wajib ku lakukan, jika tidak, lihat saja imbasnya, jerawat akan tumbuh dengan senang hati di pipi ini, hal ini wajar dan sudah konsekuensi yang ku dapat, selama beraktivitas, aku tak menggunakan sunblock atau pun cream, asli… hanya pembersih dan bedak. Kadang sedikit terfikir, apa harus pakai ini dan itu, aiihh saat kujalani, ribet. Wudhu sebelum tidur juga adalah hal penting bagi ku, karena apa ?  beberapa tahun lalu aku telah di diagnosa Vertigo, sebuah penyakit yang menyerang system keseimbangan tubuh. Hingga semua, terasa berputar-putar , sangat menghambat gerak, sangat. Ini pun dapat terjadi dikala seseorang tertidur. Hmm… aku hanya takut, tak terselamatkan dalam tidur,sedang dalam keadaan yang tak bersuci. Lagian, dari beberapa buku juga artikel yang pernah ku bawa, wudhu banyak sekali memiliki manfaat bahkan di anjurkan oleh nabi besar kita, Nabi Muhammad SAW. Dari Hadist Riwayat Muslim no. 244 berteks  “Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu’ kemudian mencuci wajahnya, maka akan keluar dari wajahnya tersebut setiap dosa pandangan yang dilakukan kedua matanya bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua tangannya, maka akan keluar setiap dosa yang dilakukan kedua tangannya tersebut bersama air wudhu’ atau bersama akhir tetesan air wudhu’. Apabila ia mencuci kedua kaki, maka akan keluar setiap dosa yang disebabkan langkah kedua kakinya bersama air wudhu’ atau bersama tetesan akhir air wudhu’, hingga ia selesai dari wudhu’nya dalam keadaan suci dan bersih dari dosa-dosa.” MasyaaAllah, Wajib nih di jadikan kebiasaa. Wajib yaa Maryam dan setelahnya semua terasa hening, aku pun mulai terbang dengan kepakan sayap menuju dunia mimpi. Sleep.
            Merekap nilai, sulit sulit mudah terlebih di masa kini, seorang guru harus bisa beradaptasi dan turut menggunkana tekhnologi. System penilaian yang di upload online, pendaftaran yang berbasis system, dItambah pula RPP dan silabus yang terus berubah disetiap tahunnya, semua diawal dengan perubahan kurikulum di ranah dunia pendidikan. Hmm, guru masa kini. Teringat lagi…’ Didiklah anak mu,sesuai zaman nya”.
Jaka sambung bawa gitar, gak nyambung pintar, jika kita masih menggunakan tata cara mengajar sama seperti cara dulu kita belajar. Banyak perbedaan, misal… dulu kita, hanya berintraksi dengan dunia yang nyata, orang tua ataupun guru bisa melihat langsung, dengan siapa si anak bergaul, bermain,dan berinteraksi… tapi kita, saat kita kaku bahkan cenderung memusuhi tekhnologi, maka kita tak akan tahu dengan siapa si anak berinterkasi lagi, sedangkan realitanya… si anak… memegang smart phone. Aku pribadi berfikir, boleh asal penuh control. Tak semua, di HP pintar mampu membuat pintar, masih penuh filter.
“Jlebb”… laptop ku mati tiba-tiba.
“Ya Rabbi…..” kataku lirih, asli, situasi seperti ini, seperti saat kau berada dalam kegelapan lalu datanglah hujan dan petir. Cocok banget daah. Disaat sangat dibutuhkan cahaya mentari terang namun justru yg hadir petir dan hujan.
Disaat-saat seperti ini, mengeluh Cuma boleh sebentar,gak lama dan sisanya harus berusaha, deadline telah menunggu, Cuma diberi waktu 4 hari, jum’at data di print dan sabtu nilai sudah harus di tangan para wali murid. Inilah asam manis menjadi guru, ujian di akhir bagi siswa selebihnya pun jua ujian di akhir bagi guru, kita fair nak ya , hmm.
“Ustdzah.. Nana, afwan, saya izin keluar untuk memperbaiki laptop”
“enggih,ustdzah Maryam, silahkan…”
 Setelah mendapat izin keluar dari sekolah saat tak ada jam mengajar, aku pun meluncur, keplza lantai 3, Anugerah Service. Tempat memperbaiki laptop. Mudahan bisa…mudahan, aamiin.
‘Assalamualaikum, permisi’
‘Walaikumsalam, silahkan, ada yg bisa dibantu ?’
Jlebb. Kali ini bukan laptopku saja yang mati tiba-tiba, tetapi aku juuga. Ini adalah ia, seseorang yang ada di ingatan ku.
‘ maaf, ada apa, ada apa yaa ?’ kata dia, kedua kali. Aku rasa, dia mulai berfikir, aku adalah orang yang agak aneh. Dan entahlah… sepertinya seperti itu, sesuatu yang ada difikiran ku lalu tiba-tiba hadir dalam bentuk nyata di dunia nyata, itu agak membingungkan ku, aku butuh sekian detik dulu untuk menormalkan kebingungan ini, hehehe… ini lah diri, memang selalu terus dan perlu untuk di perbaiki.
‘Astagfirullah’
‘ha ?’
‘maksud saya, laptop saya , tiba-tiba mati sendiri’
‘saya cek dulu… kita lihat kondisi dan nanti kita cari solusinya’
‘okey’ kataku mengakhiri pembicaraan karena dia sudah mulai menelusuri kesalahan kesalahan yang terjadi pada laptop ku, mulai mengutak-atik, pandangan mata yang focus, sesekali tak sengaja ku lihat dia mengerutkan keningnya lalu kemudian ia tersenyum…
‘senyum ?’ fikirku aneh, bisa jadi nih orang kelamaan depan layar makanya agak-agak hang.
‘ kayanya kamu panikan deh, atau terlalu focus, sampaik gak sadar. ‘
‘ maksudnya ?’ enak benar dia, main nebak diri ini gak sadar. Betul betul aneh.
‘ bawa Charger laptop ini ? ‘ tanpa komentar, ku serahkanlah ces laptop .
‘ini… mba Maryam, ces nya saja yang rusak, bukan laptop nya’
Gleek… asli, fatal banget saat aku gak cek terlebih dahulu, karena ku pikir…. Setelah ku ces pun tak mau hidup, sedang aku lupa sekali telah menghidupkannya 5 jam tanpa memberi ia charger. Dduuuh Maryam, kesalahan yang konyol, kali ini, aku lah yang menampilkan senyum kecut. Bias dari kekonyolan. Ternyata yang rusak adalah Charger laptopnya. Dduuh.
‘tinggal aja dulu yaa Maryam, entar malam bisa di ambil ‘
“okey, saya tinggal, makasih sebelumnya”
“iya mba Maryam” katanya simple dan tersenyum manis. Senyum yang buatku justru mengerut kening. Kenapa ? kadang, saat salah tingkah, bukan hanya perilaku ku yang salah, raut wajah pun aku juga bisa salah. Yang normalnya aku juga harusnya balik tersenyum, namun justru malah mengerut kening, disisi lain aku masih sedikit legah, syukur saja aku tidak cemberut atau malah justru pingsan.hohoho. Love sick. Sebuah hasil dari pemikiran seseorang yang ku baca dari salah satu blog. Perasaan jantung yang berdetak kencang, keringat panas dingin, menggigil dengan getaran dan guncangan tubuh cukup hebat sampai kepada sesak nafas karena organ tubuh yang tiba-tiba langsung error. Love sick tingkat parah akan berujung pada kematian dikarenakan jantung yang memompa terlalu cepat. Tuuuh Maryam… hati-hati dengan love sick. Love sick atau penyakit cinta. Hmm… apakah ini cinta ? Jika iya, ada apan dengan cinta ? upss, judul film di era 2000 an. Sebuah kisah yang bercerita tentang Rangga dan Cinta dengan latar hiasan kata-kata puitis sang pujangga, dimana mading dan novel masih hal yang terlaris di zaman nya. AKU.
Bukan maksudku membagi nasib. Tapi nasib adalah senyum masing-masing
Lupakan tentang siapa , kenapa, dan ada apa denga cinta, karena Raport hasil PTS lebih penting diatas ada apa dengan cinta…ya.. setidaknya di saat ini. Dan tibalah aku dipertengahan jalan ada sesuatu yang menghambat. Rem mendadak.
“eh, dia kan tadi sebut nama ku “
“iyaa…ah, katanya tadi ,Maryam, aku yakin ,aku dengar” meyakinkan diri sendiri.
Alhasil, intinya aku sudah berspekulasi bahwa ia tahu namaku ,daaann itu membuatku senyam senyum sepanjang jalan seperti rasanya aku melintasi taman bunga-bunga nan indah, kumpulan mawar sedunia. Bahkan terik matahari disiang ini kurasa seperti mendung nan di temani pelangi, membuat diri ini bahagia. Sesampai di sekolahpun, anak-anak yang ramai dengan segudang masalah dan aduan juga celotehan, kini kurasa bak nyanyian burung-burung yang berterbangan di laut pondong sana. Merdu. Ya.. Rahman, benar saja cinta akan bisa merubahmu, bisa lebih baik atau kah lebih buruk. Tergantung, apa yang kau pilih !
            Malam ini, hanya untuk mengambil Charger laptop, aku harus tiga kali ganti baju. Pertama, jilbab hitam kerudung bunga-bunga. Aiiyys. Kaya mba-mba banget, terlalu formal.
Kedua, jilbab hijau motif kecil plus kerudung hijau tua. Hmm… terlalu biasa.
Ketiga, jilbab hitam bunga-bunga plus kerudung pink. Cocok menurutku. Jujur,ini adalah style pertama kali ku, tak pernah aku mencocok kan warna ini.agak cerah, mungkin secerah hatiku. Ternyata malam tak segelap yang terlihat.hihih. Walau kelak… aku meyesali style ini. Terlalu aneh. Hahaha.
Saatnya pun tiba, aku datang, ini bukan ngedate ya. Cuma ketemu dan itu disebuah toko service. Dalam rangka mengambil Changer. Walau aku tahu, ada niatan yang tak benar terselip dalam hati kecil ini. Bukan tentang changer lagi namun juga tentang dia. Entahlah, aku mulai berperang dengan hati ku. Jangan temui dan akhiri saja, Maryam. Dan pertemuan kali ini tetap ku lanjutkan. Selangkah demi selangkah walau melawan hati kecil ini, aku tetap lanjut hingga ku lihat ia di sudut sana.
‘’ini yaa Changernya, saya buat nota, kamu duduk aja” tak lupa lagi, ia tersenyum. Pipi kemerahanya ia, terlihat jelas. Dan aku ? seperti kucing yang jinak, aku menurut saja dengan lugu nya, padahal buat nota kan perkara yang mudah dan sebentar. Ia mengambil posisi tepat duduk di depan ku.
“ kerja dimana mba ? “
“ SD Kartika “
“hmm… seorang guru, pasti menyenangkan”
“iya” kata ku simple dan aku betul betul merasa tak nyaman membicarakan hal yang tak jelas seperti ini, disisi lain, jantung ini benar benar bekerja dengan cepat. Ingat love sick Maryam. Jangan biarkan engkau mati dalam keadaan hati yang lalai.
“ ini no HP saya, tolong hubungi saya” kata dia sembari meyerahkan nota dan plus kertas berisi no HP dan nama.  Kami terdiam sejenak, saling memandang. Mata ku benar-benar panas dan aku rasa mulai memerah, mungkin ini bagian dari love sick. I don’t know. Beberapa detik kemudian kami sadar. Terdiam lagi dan aku memilih pergi. Aku pergi dengan raut wajah datar. Tak karuan, antara bahagia dan ragu. Istigfar terus terucap, karena aku tahu… ini adalah dosa. Ya Rabbi… jangan biarkan dosa ini terasa indah dipandangan mata. Memegang tas laptop LENOVO hitam beserta changer baru dan hal yang buat ku terkejut, nota dan nama ia. Aku pergi.
Beberapa minggu telah berlalu, dikesibukan mengejar deadline dan ia, yang terikut dalam arus pemikiran ini. Sebuah identitas nama dan nomor yang dapat dihubungi. Belum ada ku ambil sikap, tetap sama, tersimpan dalam tas hitam bergaya klasik, lebih tepatnya bergaya tua, tas laptop yg asli dari sananya. Saat ini pemikiran tentangnya menyerang, ku tarik nafas lagi, beristigfar dan kembali tenggelam dalam kesibukan agenda, kuliah, dan mengajar. Benar kata orang kebanyakan.
kadang dibalik kesibukan yang menumpuk, ada sesuatu yang ingin dilupakan.
Beberapa kali aku merasa K.O menghadapi hal ini, tersungkur dalam sujud. Merintih dalam doa.Harap-harap bertemu didalam sebuah jalan. Jalan yang menghubungkan sebuah pertemuan. Jalan-jalan yang Rabb ridhoi, tak ada pilihan lain selain bersabar dan berserah padaNYA. Walau terasa seperti mengkonsumsi obat yang pahit dengan dosis tinggi sekaligus banyak, 5xsehari  pertiap kalinya 3 kapsul. Itulah rasa ketidakpastian bercampur kekhawatiran bagiku.
‘’ Faighting Maryam… Hamasah!”  kata ku mencoba tegarkan diri.
Selepas hasil pembagian nilai PTS, semua kembali seperti biasa, mengajar dengan penuh hingga pukul 14.30 Wita dilanjut kuliah hingga pukul 17.30 Wita, kembali menjaga toko dan agenda hingga pukul  22.00 Wita. Kembali bangun di pukul 04.00 subuh… mengerjakan tugas kuliah dan agenda yang tak menentu, belum lagi mempersiapkan bahan ajar untuk mengajar di pagi harinya.  Tak Cuma itu, tenaga, harus kudu terjaga.
Hey  dunia, kau, buat ku Lelah !
gerutu hati, karena tak ada pilihan lain selain bergerak, diam tentu bukan solusi dan diam juga bukan hal yg ku suka, tapi bergerak buat ku lelah. Serba salah.
“oke Maryam, kau sedang galau” simpul pikiran. Pas. Tepat diwaktunya, aku menerima WA dari seorang teman.
“ makan yok, ku tunggu di Roket jam 04.10, break kuliah kalo ?”
“oke, aku kesana besok “ ku jawab singkat, ku tarik selimut, berharap mata segera terpenjam, dan justru senyum nya yang terlihat. Huuussstt… kembali duduk lagi, tanpa ku pikir Panjang, kali ini ku bulatkan tekad yakni ku cari identitas itu. Aku mencoba mencerna.
Rasya, 0822xxxxxxxx.
“Hmm namanya Rasya. Namanya bagus” tak sadar aku tersenyum, lebih tersenyum lagi saat aku sadar, aku telah mengomentari namanya. Ku pikirkan dalam-dalam, sebuah keputusan harus ku buat. Membiarkan ia menari-nari dipikiran, lalu hanya terdiam melihat identitas yang beku. Dan itu bagiku, bukanlah keputusan yang terhormat. Menggantung. Aku benci akan kondisi yang menggantung.
Ketahuilah kawan, untuk seseorang yang memiliki peta atau rancangan-rancangan dalam hidupnya, sesuatu yang menggantung itu…. Menghambat. Iya,Menghambat. Dan aku, biar aku Muslimah, tapi aku adalah seseorang yang berani mengambil sikap apa. Ku baca buku tentang Fiqih wanita dalam bab Nikah. Tak ada yang salah saat seorang Muslimah jika berdahulu memulai,seperti apa yang dilakukan wanita mulia sang pendamping sejati Rasulullah SAW yakni Khadijah Ra. Asal tentunya, berhati-hati dalam memilih. Dan ini salah satu hal yang bisa ku pegang saat memilih, Seseorang bertanya kepada Hasan bin Ali : ‘’ aku mempunyai anak gadis. Menurutmu, kepada siapa aku harus menikahkannya ? Hasan menjawab ; Nikahkanlah ia dengan lelaki yang bertakwa kepada Allah. Jika laki-laki itu mencintainya,maka ia akan menghormatinya dan jika ia marah kepadanya, makai a tidak akan menzhaliminya”. Indah bukan islam ?
            Jangan lupa, besok jam 04.10 goes to Roket, ada janji dengan Dina. Dina adalah sahabat masa kecilku dan terakhir kami satu sekolah saat SMK, Dina anak yang hmmm ibaratnya kecil-kecil cabe rawit.  Cantik iya, imut iya, dan kelebihan yang dia punya paling menonjol adalah jago dalam berhitung. Jarang sekali aku bisa mengalahkan nilai matematikanya, kalau pun bisa itu karena di picu Dina yang terburu-buru. Dia adalah bagian sahabat terbaik yang aku punya.
‘’ Maryam….., sini “ teriak Dina di kursi tiga sebelah kanan, mungkin ia terpaksa bersuara keras karena dari tadi aku benar-benar celigukan mencari nya. Dengan senyum ku mencoba menghampirinya, dipikiran ini, banyak hal yang ingin ku kisahkan kepadanya. Tentang matematika sepertinya atau juga tentang tantangan hidup, Dina adalah teman yang baik dalam berbicara tentang motivasi juga tantangan. Sikap nya yang mandiri namun feminin adalah dua karekter yang unik saat berpadu, parasnya, MasyaAllah… imut lah.
Tak jauh dari sana, sebelum aku menghampiri Dina, aku melihat sesuatu yang sangat tak asing bagi ku. Rasya. Rasya yang berputar bak bintang di atas kepalaku dan mengganggu pikiranku selama berbulan-bulan ini.
Kali ini… saat melihatku, ia tak tersenyum, justru terkejut. Dan ku lihat disekitarnya… ada seorang wanita. Suasana ku rasa hening walau nyatanya banyak sekali orang yang lalu Lalang di tambah alunan nada bergenre jazz , nada yang berubah menjadi suara pilu di telingaku saat ini. Aku masih terdiam dengan tatapan tertuju pada lokasi duduk Rasya. Tak lama, seperdetik, Rasya pun ikut berdiri dan menghampiriku. Aku hanya diam melihatnya. Kami berhadapan, saling diam. Lalu dia berusaha mengatakan sesuatu… ku rasa, ia agak kesulitan dalam berbicara, sedang aku ? merasa kesulitan dalam berdiri. Ku genggam tangan ku dengan kencang, saat ini, aku butuh menjadi pribadi yang tegar.
“Maryam …aku ingin mengatakan, bisakah kau menemani ku ?” kata Rasya membuka pembicaraan dengan bentuk pertanyaan dalam kondisi sekaku ini. Jujur, ini adalah kondisi dimana aku merasa hal ini lebih menegangkan dari pada sebuah pengumuman peringkat bertahan antara peringkat 1 dan 2.
“siapa dia ?” kataku balik bertanya. Bukan jawaban, tapi aku memilih bertanya lagi.
“ maukah kau menjadi pacarku ?” Bukan jawaban pula,justru Rasya bertanya lagi.
“pacar ?” kata ku mengerut kening
Aku tak habis pikir dengan lelaki ini, tak kah ia melihat kondisi ku ? apakah ia pernah mempertimbangkan arti pacarana dalam pikiran ku ? aku menelan ludah dan coba menelaah.
Kita semua memiliki sudut pandang, entah tentang hidup atau kah tentang perasaan yang biasa disebut cinta.Dari beberapa buku yg ku baca, cinta selalu punya definisi yg indah, begitu kata kata yg melukiskan, tapi tidak dengan realita. Maybe? 
Sebuah film dari negara Thailand berjudul "my first love" yg bercerita seorang wanita kucel yg menyukai lelaki tampan, wanita itu mencoba merubah dirinya dan memperbaiki dirinya, lalu wanita itu berada dalam kondisi yg tak menguntungkan. Lelaki itu telah memiliki kekasih. Hingga alur waktu film melompat. Di akhir... Ia bertemu kembali dengan lelaki tampan itu, dan final, lelaki itu pun telah jatuh, jauh sebelum wanita itu memperbaiki diri. 

Karena film itu, aku mengartikan cinta sebagai sebuah perbaikan. Sebagai sebuah rasa yang membuat kita jauh lebih maju dalam mengejar mimpi. Cinta memiliki hubungan erat dengan mimpi. Cinta membuatmu lebih baik dan lebih baik lagi. Begitulah kira kira yg ku pikir. Berujung tentang perbaikan. 
Jadi, aku tak pernah setuju tentang kosa kata "pacaran". Aku tak pernah sekali pun pacaran dan pacaran menurut ku adalah suatu aktivitas yang mutlak tak punya tujuan juga sangat membuang waktu serta merugikan, tak lebih hanya sekedar bersenang senang dengan ketidak jelasan. Pacaran bukan wujud dari pengertian cinta.

Belum cukup sampai disitu, definisi cinta berkembang mengikuti sebuah pemahaman. Pemahaman yg didapat dari apa di baca, di dengar, dan di tulis. Sampai hingga akhirnya pemahaman pemahaman islam masuk di dalam setiap setiap catatanku, untuk itu... Aku sangat bersyukur. Pemahaman itu bak air jernih nan bening juga segar di tengah tandus nan panas akan sebuah sistem yang terpisah dari agama yang haq. Begitulah, islam masuk dengan indah di sanubari ku. Mengembalikan bintang bintang ku yg dulu ku rasa tenggelam. Berakhir dengan sebuah pemahaman bahwa cinta yg tertinggi adalah cinta kepada NYA dan karena NYA.
“Pacar ?” kataku kedua kali dan mengerut kening pun yang kedua kali
“ jangan marah atau bingung, wanita yang ada itu  hanya teman dekat ku saja, aku benar-benar menyukaimu dan aku menungu pesan atau telpon dari mu “ kata Rasya menjelaskan semua dengan raut wajah penjelas. Semua terasa aneh bagi ku, aku ingin berkata panjang lebar tapi disini dan waktu ini adalah tempat dan situasi yang salah. Dikeramaian. Ada Dina, ada wanita itu, dan ada banyak orang disini, belum lagi… aku, aku adalah seorang Muslimah yang telah belajar sistem pergaulan dalam islam. Tidak, tidak, bukan ini yang ada dalam teori.
Belum sempat aku merespons apa yang telah Rasya utarakan, wanita itu menuju kami dan memeluk pergelangan tangan Rasya secara spontan, wanita itu tersenyum kepada ku, aku pun begitu. Senyum simpul. Sementara Rasya kembali membeku dan bingung, pun juga aku, kembali membeku akhirnya. Dalam hati, aku ngedumel dan ngomel, tontonan macam apa ini ? ingin ku segera berlalu, lalu…
“ ada urusan apa dengan pacar saya, mba ?” kata wanita itu
Sebuah pertanyaan yang benar-benar seperti suara petir dicerahnya hari ku.Menggelegar dan buat ku terkejut sangat. Perlahan tapi pasti dalam hati aku membuat ejaan dan juga runtutan pertanyaan, pa-car ?? berarti Rasya dusta ?? segitunya kah ??
Perlahan tapi pasti lagi aku akan akhiri pembicaraan kami. Antara aku, dia, dan kekasihnya. Aku akan mengakhirnya. Selesai.
“gak ada, I’m sorry !” kataku simple dan tak lupa, ku berikan senyum terbaik ku kepada kekasihnya, Rasya.  Mungkin, senyum terbaik disini adalah salah satu efek salah tingkah ku lagi. Lekas ku menghampiri Dina, tak sengaja ku lihat sekilas mereka… mereka berdua telah pergi. Ku tatap Dina dengan sedikit kemampuan, aku rasa semua tenaga ku tadi sudah terkuras habis.
“ ayo makan, aku sudah pesan dari tadi  Maryam “ kata Dina
“ iya Din, aku butuh makan” sembari aku mulai menguyah makanan, bulir-bulir air mata ini jatuh, sekuat apapun aku menahan, sebuah rasa tetap saja tak bisa berdusta,ada rasa kecewa. Dan rasa ini, membuat sesuatu yang bening itu retak. 
“ kenapa nangis ?”

“ Makanannya pedas…..” lagi, aku tersenyum sambil menagis. Seratus persen, aku yakin, Dina pasti mengetahui, ada sesuatu yang terjadi pada ku. Ia terlihat iba melihatku, lalu membelikan ku sebuah pudding cokelat.
“makan ini dan berdiri lagi, jalan ini masih Panjang “ kata Dina tersenyum kepadaku. Aku pun memilih pulang tanpa banyak bicara seperti biasa. Pulang di petang kali ini, agak berbeda dengan petang sebelumnya. Ternyata rasa mampu merubah banyak hal, termasuk suasana petang yang terikut alunan hati.
Ku ambil buku diary dan ku mulai menulis tentang ini, dandelion di petang senja.

Hey senja, ku ingin bercerita tentang dia, yang mula-mula selalu ku sebut dalam doa pun dia akan selalu bagian dari doa. Ini lah bagian kisahku, jangan tanya akhir, karena ku benar-benar tak tahu tentang akhir ini…
Pernahkah kau bertanya, mengapa berjumpa?
Lalu kau marah, kenapa begini ?
Kemudian kau kecewa, inikah yang terjadi ?
Aku tiap hari berpapasan dengannya di sebuah jalan pulang dan jalan menuju sekolah dan kajian. Jalan yang mempertemukan kami, selalu seperti orang asing. Aku selalu menahan rasa ini, tak akan ku ungkapkan jika belum waktunya walau ku punya kunci untuk berbicara padanya. Aku memilih melihat jalan dan biarkan dia berlalu, tapi bukan berlalu seperti ini yang ku mau. Salahkah aku dengan prinsip ku ? aku hanya yakin, bahwa aku adalah Muslimah. Jangan bilang aku tak berusaha, aku telah berusaha. Melawan rindu dan menahan rasa.Pernah kah kau bertanya, sekuat apa aku melawan angin rindu yang kian tinggi menyapa di tiap waktunya ? Bisakah kau tahu jika aku selalu membisikkan tentangmu ? Aku menyebut namamu di hadapanNYA, memintamu bagian dari takdirku, memintamu bagian dari yang melihat kisahku. Aku telah memperbaiki diri dan aku telah maju selangkah demi selangkah, hingga ku tahu kau memilih mundur dan pergi. Berlalu dengan apa yang kau mau.
Aku mungkin tak seindah mawar yang kau mau, tak seanggun anggrek yang kau pinta, atau seabadi edelweiss yang kau harapkan. Tak memiliki mahkota yang buatku seolah bertahta. Hanya seperti dandelion, biasa dan tersembunyi dibalik ilalang-ilalang nan tinggi dan tajam. Menyelip-nyelip meminta cahaya matahari dengan tangkai yang kecil bahkan kadang serpihan-serpihan kecil serbu ku terbang terbawa angin, entah kemana, mencari tempat untuk tumbuh menjadi kehidupan baru lagi. Bisakah kau lihat sekuat apa dan sepolos apa usahaku ?
Tak apa, jika kau memilih pergi. Yang pergi hanya kau. Masih ada mimpi ku dan masih ada bintang-bintang ku. Aku bukanlah sosok yang rapuh, walau aku terjatuh kali ini tapi aku kan berdiri lagi kemudian berlari, mengejar apa yang ku mau dengan prinsip ku, dengan cara yang telah di tentukan oleh pemilik ragaku bahkan ragamu juga. Aku akan terbang, membawa tiap-tiap warna putih yang ku punya, biarlah ia seperti butiran-butiran salju yang terbawa, indah bukan ? untukmu, silahkan pergi…

Setipis kertas bening kah sebuah pertemuan dan perpisahan dimuka bumi ini ? entahlah, ini juga bagian dari babak peristiwa yang dapat kau ambil hikmahnya. Hati yang sakit, senyum hilang, hidup yang patah, dan dunia yang seolah hancur tanpa peringatan. Dan tak peduli, seberapa hancurnya dirimu sekarang, kesempatan selalu ada selama kau mau mengembalikan diri menjadi lebih baik lagi. Lagi dan lagi, belajarlah dan berjalanlah memetik tiap bait hikmah di ranah drama. Percayalah pada aturan islam dan serahkan semua scenario padaNYA. Kali ini tentang dandelion di petang senja.

‘’allaziina aamanuu wa tathma’innu quluubuhum bizikrillaah, alaa bizikrillaahi tathma’innul quluub’’
‘’yaitu, orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram’’

End



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta