Rangkuman akhir Matahari
“Setiap kata yang menasihatimu atau mengajak
kepada perbuatan mulia atau mencegah dari perbuatan buruk, maka itulah hikmah”
(Ibnu Zaid)
Kata. Tulisan ini adalah
bagian dari susunan kata, yang ku harap bagian dari pengingat, untuk diri yang
lalai termakan waktu ini.
365 hari telah berlalu Nah…
telah habis dimakan setiap peristiwa. Peristiwa yang selalu Allah titip
pembelajaran di dalamnya. Agar kau memahami dan agar kau mengerti, hingga tak
ada celah setitik jarum pun untuk diri mu pergi dariNYA dan juga agar kau
selalu percaya pada ketentuanNYA.
Percaya. Sebaik dan seburuk apapun itu dalam
pandangan wajah peristiwa.
Di tahun ini, ada hal yang membuatku patah,
seolah tanpa peringatan, menghancurkan mimpi yang ku sulam dalam bait doa. Tapi
apalah daya ? sebaik –baik kau berlogika dalam ranah rencana, sebuah ketetapan
adalah ketetapan yang pasti terjadi. Seperti rumus air yang selalu mengalir
dari tempat yang tinggi. Tak bisa di elak kan.
Di tahun ini pula, ada hal yang membuat ku tercengang tanpa kata, menarik
ku tuk libatkan masa lalu, yang dulu ku pikir ‘ Takdir tak pernah mau adil’
bahkan seolah meninggalkan tanpa rela menoleh lagi walau sekilas.
Di tahun ini pula, ada hal yang membuatku
tersenyum dengan warna senja, meminta ku menyampaikan rasa ke tempat tertinggi,
lalu ku bisik kan pelan di telinga bumi “ Segala puji hanya untuk MU’’
Alhamdulillah. Wama indallahi khair. Apa
yang ada disisi ALLAH itu lebih baik.
Telah seperlima abad pena ini tertoreh,
menceritakan kisah yang sebenarnya telah tercatat, memainkan peran dengan
pilihan tanpa lepas dari latar yang telah di janjikan.
Inilah bagian hidup bagi ku, bagian dari
penghantar tuk kembali. Karena ingat akan kembali, adalah hal yang masuk akal
saat memikirkan apa yang akan kita bawa saat kembali. Kau pasti akan kembali
bukan ? apakah ingin abadi disini ? melihat mereka yg kembali lalu hanya kau yang
bertahan sendiri ditempat yang nanti akan sepi ? itu menyedihkan kawan… “Kullu
maa huwa aatin qoribun, segala sesuatu yang pasti itu dekat”
Selayaknya seperti pembelajaran,beberapa
materi akan selalu berkaitan dengan pertanyaan besar. Dari mana ? untuk apa ?
dan kemana ?
Dari mana awal hidup mu ?
Untuk apa hidup mu ?
Kemana akhir hidup mu ?
Tolong… jangan jawab, dari rakyat untuk rakyat
dan pada rakyat tuh tuu slogan demokrasi bangets.
Tiga pertanyaan yang akan banyak merubah
segala tingkah laku. Dan bahayanya, ada beberapa versi jawaban yang kudu harus
kita seleksi, salah jawab akan berakhir tamat.
Jika versi sudut pandang Sosialis-Komunis
menganggap kehidupan ini kebetulan dengan puluhan teori nan nyelenih ala om
Darwin atau om Karl Mark lalu di lanjut dunia adalah wadah kesenangan pun mati
juga sebuah masa yang habis sepeti itu adanya. Lalu dimana sensani nya hidup ?
dimana keadilan hidup ? cukup menggelikan saat berkata kebetulan. Pemahaman
yang menyeret sebuah muara atheis, tak ada Tuhan. That’s Wrong.
Sedang, jika versi sudut pandang Kapitalis-Sekuler
lebih telihat seperti madu yang berisi racun dengan pemahaman bahwa kehidupan
dunia ini mutlak urusan dunia yang berperan adalah manusia namun tetap dan
tetap meyakini ada Tuhan yang mencipkan lalu pasti akan kembali pada Tuhan
pula. Terlihat aman bukan ? namun efek dari dunia adalah urusan dunia akan
menyebabkan kerancuan. Kita semua meyakini bahwa Allah adalah sang pencipta
lalu kenapa kenapa versi kapital-sekuler tak percaya… bahwa Allah juga mempu
mengatur ? Memisahkan agama dari kehidupan ? hay, manusia, kalian semua tak
cukup pintar untum membuat aturan dari hasil berfikir. Kita harus kembali pada
Alquran dan Sunnah kan ?. So, pemisah adalah versi salah.
Lalu lahirlah sudut pandang Islam. Yaapz,
agama ini juga pandangan hidup. Mampu masuk ke segala penjuru line kehidupan
bahkan sampai mengurusi arena kematian. Sebuah keyakinan kita semua datang dan
akan kembali pada NYA, lalu dalam dunia yang diciptakanNYA, kita pun turut
patuh didalam nya. ‘ tidak ku ciptakan jin dan manusia kecuali untuh beribadah
kepadaKU’. Beribadah adalah target utama dalam kehidupan ini, disini bukan
berarti shalat sepanjang hari… puasa setiap waktu, itu maah ibadah mahdoh saja,
sedang ibadah…buanyak. Bekerja,belajar,berumah tangga, dan beribu aktivitas
lainnya juga bagian dari ibadah asal mengikuti aturan main nya. Sempurna bukan
kesempurnaan islam ? MaasyaAllah…
Hingga rasanya sangat perlu menjaga nyala
lampu pemahaman islam dimana dan di situasi apapun dalam hidup ini, mencoba
perlahan menjawab tentang kenapa pada akhirnya kita menjadi bagian dari
kehidupan ini. Dan tanpa Islam, bagai butiran debu elemen detik ini…
31 Desember 2018
Berharap Ridho MU
Martinah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar