Senin, 21 Januari 2019


Nasib guru ku di abad 21
    Oleh : MihrimaH


25 November merupakan momentum bagi kita dalam menyelami dan memfaktai kembali dunia pendidikan khususnya pemeran didalamnya yaitu guru. Setiap guru memiliki arti penting tersendiri bagi para siswa nya baik yang sedang ataupun yang telah selesai dalam masa sekolahnya. Di beberapa negara lain, peringatan hari guru dijadikan hari libur nasional, sedangkan di Indonesia, dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah. Guru dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, mereka mendidik kita dari yang tidak tahu menjadi tahu, yang bisa menjadi ahli, dan masih banyak jasa lain yang diberikan oleh seorang guru.
Pada tahun ini HGN mengangkat tema "Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad 21". Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Muhadjir Effendy menyampaikan Kemendikbud akan menggelar puncak peringatan hari guru nasional pada 1 Desember 2018 mendatang di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Jawa Barat dan rencananya akan dihadiri langsung Presiden RI Joko Widodo. Mendikbud Muhadjir juga telah mengeluarkan pidato tertulis dalam menyambut Hari Guru Nasional.
Mendikbud menyampaikan, meski teknologi informasi berkembang sangat cepat dan sumber informasi sangat mudah ditemukan, peran guru tidak akan tergantikan kemajuan teknologi. Tugas guru sebagai pendidik dalam menanamkan nilai dan karakter yang terkait dengan integritas dan kepribadian adalah hal yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
            Di tengah bertaburnya pujian dan kata-kata sanjungan untuk para guru di Indonesia namun tetap saja realitanya berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan oleh para guru. Tercatat di hari selasa 30 Oktober 2018 aksi para guru honorer K2 unjuk rasa sampai menginap di jalanan seberang Istana namun, lagi-lagi berakhir sia-sia. Presiden Joko Widodo cuek dan enggan menanggapi aksi demonstrasi yang diklaim diikuti 70.000 guru honorer itu. Sementara, pihak istana juga tidak memberikan solusi yang bisa memenuhi tuntutan para guru.
Ketua Forum Honorer K2 Indonesia (FHK2I) Titi Purwaningsih mengatakan, aksi unjuk rasa itu sudah dilakukan di seberang Istana sejak Selasa . Namun karena tak ada tanggapan Jokowi atau pihak Istana, akhirnya massa pun bermalam di sana dengan beralaskan aspal dan beratapkan langit. "Kami rela tidur di depan Istana, bayar sewa bus jadi lebih mahal hanya karena ingin mendapat jawaban dari Jokowi," kata Titi kepada salah satu media local yang meliput.
Guru didalam ajaran islam merupakan seseorang yang sangat di hormati dan memiliki kedudukan mulia, terlebih mengetahui peran mereka sebagai pendidik generasi guna kemajuan bangsa. Selain itu guru tidak hanya bertugas mendidik muridnya agar cerdas secara akademik, tetapi juga guru mendidik muridnya agar cerdas secara spritual yakni memiliki kepribdadian Islam.

Sejarah telah mencatat bahwa guru dalam naungan Khilafah mendapatkan penghargaan yang tinggi dari negara termaksud pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Di riwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madimah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000).

Sungguh luar biasa, dalam naungan Khilafah para guru akan terjamin kesejahteraannya dan dapat memberi perhatian penuh dalam mendidik anak-anak muridnya tanpa harus dipusingkan lagi untuk membagi waktu dan tenaga untuk mencari tambahan pendapatan.Tidak hanya itu, negara dalam naungah Khilafah juga menyediakan semua sarana dan prasarana secara cuma-cuma dalam menunjang profesionalitas guru menjalankan tugas mulianya. Mari kita perjuangkan bersama hak para guru di belahan dunia manapun khusus nya di negeri tercinta Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta