Nasib guru ku di abad 21
Oleh : MihrimaH
Oleh : MihrimaH
25 November merupakan
momentum bagi kita dalam menyelami dan memfaktai kembali dunia pendidikan
khususnya pemeran didalamnya yaitu guru. Setiap guru memiliki arti penting
tersendiri bagi para siswa nya baik yang sedang ataupun yang telah selesai
dalam masa sekolahnya. Di beberapa negara
lain, peringatan hari guru dijadikan hari libur nasional, sedangkan di
Indonesia, dirayakan dalam bentuk upacara peringatan di sekolah-sekolah. Guru
dianggap sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, mereka mendidik kita dari yang
tidak tahu menjadi tahu, yang bisa menjadi ahli, dan masih banyak jasa lain
yang diberikan oleh seorang guru.
Pada tahun ini HGN
mengangkat tema "Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad
21". Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Muhadjir Effendy
menyampaikan Kemendikbud akan menggelar puncak peringatan hari guru nasional
pada 1 Desember 2018 mendatang di Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor, Jawa
Barat dan rencananya akan dihadiri langsung Presiden RI Joko Widodo. Mendikbud
Muhadjir juga telah mengeluarkan pidato tertulis dalam menyambut Hari Guru
Nasional.
Mendikbud menyampaikan, meski teknologi
informasi berkembang sangat cepat dan sumber informasi sangat mudah ditemukan,
peran guru tidak akan tergantikan kemajuan teknologi. Tugas guru sebagai
pendidik dalam menanamkan nilai dan karakter yang terkait dengan integritas dan
kepribadian adalah hal yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
Di
tengah bertaburnya pujian dan kata-kata sanjungan untuk para guru di Indonesia
namun tetap saja realitanya berbanding terbalik dengan apa yang diharapkan oleh
para guru. Tercatat di hari selasa 30 Oktober 2018 aksi para guru honorer K2
unjuk rasa sampai menginap di jalanan seberang Istana namun, lagi-lagi berakhir
sia-sia. Presiden Joko Widodo cuek dan enggan menanggapi aksi demonstrasi yang
diklaim diikuti 70.000 guru honorer itu. Sementara, pihak istana juga tidak
memberikan solusi yang bisa memenuhi tuntutan para guru.
Ketua Forum Honorer
K2 Indonesia (FHK2I) Titi Purwaningsih mengatakan, aksi unjuk rasa itu sudah
dilakukan di seberang Istana sejak Selasa . Namun karena tak ada tanggapan
Jokowi atau pihak Istana, akhirnya massa pun bermalam di sana dengan beralaskan
aspal dan beratapkan langit. "Kami rela tidur di depan Istana, bayar sewa
bus jadi lebih mahal hanya karena ingin mendapat jawaban dari Jokowi,"
kata Titi kepada salah satu media local yang meliput.
Guru didalam ajaran
islam merupakan seseorang yang sangat di hormati dan memiliki kedudukan mulia, terlebih
mengetahui peran mereka sebagai pendidik generasi guna kemajuan bangsa.
Selain
itu guru tidak hanya bertugas mendidik muridnya agar cerdas secara akademik,
tetapi juga guru mendidik muridnya agar cerdas secara spritual yakni memiliki
kepribdadian Islam.
Sejarah telah
mencatat bahwa guru dalam naungan Khilafah mendapatkan penghargaan yang tinggi
dari negara termaksud pemberian gaji yang melampaui kebutuhannya. Di riwayatkan
dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha,
bahwasanya ada tiga orang guru di Madimah yang mengajar anak-anak dan Khalifah
Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15
dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji
guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000).
Sungguh luar biasa, dalam naungan Khilafah para
guru akan terjamin kesejahteraannya dan dapat memberi perhatian penuh dalam
mendidik anak-anak muridnya tanpa harus dipusingkan lagi untuk membagi waktu
dan tenaga untuk mencari tambahan pendapatan.Tidak hanya itu, negara dalam
naungah Khilafah juga menyediakan semua sarana dan prasarana secara cuma-cuma
dalam menunjang profesionalitas guru menjalankan tugas mulianya. Mari kita
perjuangkan bersama hak para guru di belahan dunia manapun khusus nya di negeri
tercinta Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar