Menemani si kecil melewati masa pubertas
MihrimaH
MihrimaH
Masa
pubertas biasanya di anggap sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke
masa dewasa. Pada masa ini anak sudah mulai meninggalkan karakter anak-anak dan
sedang berproses menuju gerbang kedewasaan. Pubertas permulaan dari masa
kedewasaan. Pada masa ini, proses pertumbuhan dan kematangan berlangsung lebih
intensif. Selain terjadi kematangan seksual dan pertumbuhan fisik, dalam ini
juga terjadi perkembangan social, emosional, kognitif dan kepribadian yang berlangsung
terus sampai sempurna masuk ke jenjang dewasa.
Dalam
terminologi fikih islam, masa pubertas dikenal dengan fase baliq dan kerap
disandingkan dengan akil, hingga di sebut juga akil baliq. Seseorang dikatakan
akil baliq saat akalnya sudah berfungsi dengan sempurna untuk membedakan dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Baliq adalah
syarat seseorang dibebani taklif/ beban hukum.
Batas awal
baliq itu relative, tidak bisa disamakan. Umunya terjadi pada usia 9-16 tahun
bagi lelaki dan perempuan. imam syafi’I menetapkan 15 taahun usia baliq. Namun
sekali lagi usia baliq itu relative.Baliq bukan hanya menyebabkan perubahan
fisik atau psikis tetapi juga berpengaruh pada kewajiban dia memenuhi seruan
Allah SWT. Dia berkewajiban terikat dengan hukum syariah. Semua yang dilakukan
akan dipertanggungjawabkan sendiri.
Peran
orangtua
Mengahantarkan
mereka memasuki masa balig tidaklah instan. Upaya ini merupakan proses panjang
yang menyatu dan berbarengan dengan tumbuh-kembang anak sehingga harus dimulai
sejak fase awal perkembangan. Peran orang tua sangat dibutuhkan pada fase ini
dan fase-fase selanjutnya.
Pertama,
memberikan pemahaman tentang hakikat penciptaan manusia. Orangtua berkewajiban
untuk membantu anak mengenali dirinya.
Dia adalah makhluk Allah, yang sebelumnya tidak ada. Dia mengemban misi
kehidupan untuk beribadah kepada penciptanya
seperti yang tertuang dalam Surah
Adz Dzariyat ayat 56. Orangtua juga harus menjeaskan bahwa dunia ini tidak
kekal. Semua manusia memiliki batas akhir kehidupannya dan akan kembali kepada
Allah SWT.
Kedua,
membangun pola komunikasi dan hubungan yang harmonis antara orangtua dan anak.
Komunikasi yang baik harus dilandasi rasa cinta kasih dan merupakan wujud
tanggung jawab orangtua atas amanah yang telah Allah berikan kepada mereka.
Komunikasi demikian akan melahirkan sikap sayang,percaya,hormat,dan taat pada
diri anak kepada orangtuanya.
Ketiga,
melakukan pengawalan dan pendampingan perkembangan naluri anak. Idelanya,
tatkala anak baliq, dia sudah mampu
mengemban taklif untuk melaksanakan keterikatan pada hukum syariah. Apalagi
diera kehidupan sekarang, banyak faktor yang mempercepat kematangan biologis
seperti tayangan film, lagu-lagu, bahkan pergaulan bebas yang langsung
disaksikan anak-anak hingga menyebabkan anak terlalu dini “ dewasa biologis”.
Disisi lain, sistem pendidikan sekular tidak memberikan bekal yang cukup kepada
anak untuk memasuki masa dewasanya hingga mereka masih ditoleransi melakukan
pengabaian hukum syariah gara-gara masih dipandang sebagai anak yang harus
dimaklumi.
Keempat,
manusia adalah makhluk social yang tak bisa hidup sendirian. Dia harus
berinteraksi dengan orang lain. Hingga demikian juga para remaja, mereka
memiliki lingkungan yang turut mempengaruhi proses perkembangannya, baik teman-temannya,sekolah,
maupun keluarganya. Orangtua harus melakukan kerja sama dengan pihak-pihak
tersebut supaya perlakuan yang telah diberikan
orangtua sejalan dengan yang
dialami anak di lingkungannya.
Kelima,
memberikan contoh yang baik. Masa remaja kadang disebut sebagai masa mereka
mencari identitas diri dan masa yang
sarat dengan pengidolaan. Remaja saat ini banyak meniru gaya artis dan
bercita-cita seperti mereka. Ini karena informasi tentang kehidupan para artis
ini gencar mereka lihat dan mereka dengar. Oleh karena itu orang tua harus
memberikan informasi tentang kehidupan para nabi, ulama, dan pahlawan-pahlawan
islam dengan gaya menarik.
Semangat
berjuang yaa para ayah dan bunda untuk menemani mereka si kecil dalam melewati
masa pubertas karena baik dan buruknya masa depan anak dipengaruhi oleh
pendidikan yang diberikan orangtua. Rasulullah saw, bersabda “tidaklah
seseorang yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Orangtuanyalah yang
menjadikan dia yahudi,nasrani,dan majusi” HR.Muslim
We love you
coz Allah yaa abi wa umi J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar