Selasa, 27 Agustus 2019


 Menemani si kecil melewati masa pubertas
MihrimaH

Masa pubertas biasanya di anggap sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Pada masa ini anak sudah mulai meninggalkan karakter anak-anak dan sedang berproses menuju gerbang kedewasaan. Pubertas permulaan dari masa kedewasaan. Pada masa ini, proses pertumbuhan dan kematangan berlangsung lebih intensif. Selain terjadi kematangan seksual dan pertumbuhan fisik, dalam ini juga terjadi perkembangan social, emosional, kognitif dan kepribadian yang berlangsung terus sampai sempurna masuk ke jenjang dewasa.
Dalam terminologi fikih islam, masa pubertas dikenal dengan fase baliq dan kerap disandingkan dengan akil, hingga di sebut juga akil baliq. Seseorang dikatakan akil baliq saat akalnya sudah berfungsi dengan sempurna untuk membedakan  dan memilih mana  yang baik dan mana yang buruk. Baliq adalah syarat seseorang dibebani taklif/ beban hukum.
Batas awal baliq itu relative, tidak bisa disamakan. Umunya terjadi pada usia 9-16 tahun bagi lelaki dan perempuan. imam syafi’I menetapkan 15 taahun usia baliq. Namun sekali lagi usia baliq itu relative.Baliq bukan hanya menyebabkan perubahan fisik atau psikis tetapi juga berpengaruh pada kewajiban dia memenuhi seruan Allah SWT. Dia berkewajiban terikat dengan hukum syariah. Semua yang dilakukan akan dipertanggungjawabkan sendiri.
Peran orangtua
Mengahantarkan mereka memasuki masa balig tidaklah instan. Upaya ini merupakan proses panjang yang menyatu dan berbarengan dengan tumbuh-kembang anak sehingga harus dimulai sejak fase awal perkembangan. Peran orang tua sangat dibutuhkan pada fase ini dan fase-fase selanjutnya.
Pertama, memberikan pemahaman tentang hakikat penciptaan manusia. Orangtua berkewajiban untuk membantu anak mengenali dirinya.  Dia adalah makhluk Allah, yang sebelumnya tidak ada. Dia mengemban misi kehidupan untuk beribadah kepada penciptanya  seperti yang tertuang dalam  Surah Adz Dzariyat ayat 56. Orangtua juga harus menjeaskan bahwa dunia ini tidak kekal. Semua manusia memiliki batas akhir kehidupannya dan akan kembali kepada Allah SWT.
Kedua, membangun pola komunikasi dan hubungan yang harmonis antara orangtua dan anak. Komunikasi yang baik harus dilandasi rasa cinta kasih dan merupakan wujud tanggung jawab orangtua atas amanah yang telah Allah berikan kepada mereka. Komunikasi demikian akan melahirkan sikap sayang,percaya,hormat,dan taat pada diri anak kepada orangtuanya.
Ketiga, melakukan pengawalan dan pendampingan perkembangan naluri anak. Idelanya, tatkala anak baliq, dia sudah  mampu mengemban taklif untuk melaksanakan keterikatan pada hukum syariah. Apalagi diera kehidupan sekarang, banyak faktor yang mempercepat kematangan biologis seperti tayangan film, lagu-lagu, bahkan pergaulan bebas yang langsung disaksikan anak-anak hingga menyebabkan anak terlalu dini “ dewasa biologis”. Disisi lain, sistem pendidikan sekular tidak memberikan bekal yang cukup kepada anak untuk memasuki masa dewasanya hingga mereka masih ditoleransi melakukan pengabaian hukum syariah gara-gara masih dipandang sebagai anak yang harus dimaklumi.
Keempat, manusia adalah makhluk social yang tak bisa hidup sendirian. Dia harus berinteraksi dengan orang lain. Hingga demikian juga para remaja, mereka memiliki lingkungan yang turut mempengaruhi proses perkembangannya, baik teman-temannya,sekolah, maupun keluarganya. Orangtua harus melakukan kerja sama dengan pihak-pihak tersebut supaya perlakuan yang telah diberikan  orangtua  sejalan dengan yang dialami anak di lingkungannya.
Kelima, memberikan contoh yang baik. Masa remaja kadang disebut sebagai masa mereka mencari  identitas diri dan masa yang sarat dengan pengidolaan. Remaja saat ini banyak meniru gaya artis dan bercita-cita seperti mereka. Ini karena informasi tentang kehidupan para artis ini gencar mereka lihat dan mereka dengar. Oleh karena itu orang tua harus memberikan informasi tentang kehidupan para nabi, ulama, dan pahlawan-pahlawan islam dengan gaya menarik.
Semangat berjuang yaa para ayah dan bunda untuk menemani mereka si kecil dalam melewati masa pubertas karena baik dan buruknya masa depan anak dipengaruhi oleh pendidikan yang diberikan orangtua. Rasulullah saw, bersabda “tidaklah seseorang yang dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Orangtuanyalah yang menjadikan dia yahudi,nasrani,dan majusi” HR.Muslim
We love you coz Allah yaa abi wa umi J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta