Kamis, 22 Agustus 2019


Cermin  Reuni 212… Persatuan Tanpa Batas
Oleh : MihrimaH

Saat ragam saluran televisi dan media social membicarakan tentang topik yang hangat , tentu saja hal ini akan menyita perhatian banyak pihak. Terlebih ,bicara tentang persatuan, yang kini menjadi trend pembicaraan segala kalangan baik pelajar, mahasiswa, ataupun tokoh politik juga ulama maka kita berbicara tentang sesuatu yang identik dengan bersatunya umat manusia dalam satu ikatan atau satu wilayah.Bangsa Indonesia khususnya umat Islam mencatat sejarah baru pada Jum’at 12 Desember 2016. Untuk pertama kalinya, umat Islam melaksanakan shalat Jum’at terbesar yang dilaksanakan  di Tugu Monumen Nasional (Monas) dengan shaf yang tertib. Hari itu, umat Islam dari segala penjuru daerah berbondong-bondong datang ke jantung Ibu Kota untuk satu tujuan yakni membela al-Qur’an. Menurut rilis resmi  Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI), forum yang menyelenggarakan acara ini, jumlah umat yang hadir pada saat itu di Monas berkisar 6 – 7 juta orang. Angka yang cukup besar untuk sebuah perkumpulan.Hingga acara tersebut di kenal dengan sebuatan Aksi 212. Dan di tahun ini pun, aksi tersebut ketiga kalinya kembali dilakukan oleh kaum muslimin dengan sebutan  “Reuni 212’’. Sebuah fenomena yang menakjubkan. Tetapi yang lebih membahagiakan lagi, jamaah Aksi Reuni 212 sangat patuh pada ulama yang memimpin. Energi Reuni 212 melahirkan kepemimpinan baru ulama-ulama yang dapat menyatukan ummat dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya arti persatuan.Jika kita amati, dalam konteks persatuan, ternyata ikatan yang bisa mengikat manusia memanglah banyak. Ada ikatan Nasionalisme dan Patriotisme, ada ikatan kemaslahatan [kepentingan], ada ikatan spiritual tanpa sistem, dan ada ikatan ideologi. Nasioalisme dan Patriotisme adalah ikatan yang paling rapuh, karena terbentuk ketika ada ancaman. Ketika ancaman yang mengancamnya tidak ada, maka ikatan ini melemah, bahkan pudar. Kepentingan juga begitu, sangat mudah pudar, dan cenderung berubah. Begitu juga ikatan spiritual, tanpa sistem. Maka, satu-satunya yang kuat adalah ikatan ideologi.Dan Islam bukan hanya sekedar agama ritual, namun juga sebagai ideologi. Islam dibangun berdasarkan akidah Islam, dengan standar halal-haram. Terikat sepenuhnya pada hukum Islam adalah metodenya. Mencari ridha Allah SWT adalah nilai ideal hidupnya. Sebagai ideologi, Islam tidak hanya berisi ritual dan spiritual, tetapi juga sistem kehidupan. Mulai dari pemerintahan, ekonomi, sosial, pendidikan, politik dalam dan luar negeri.Ketika Islam diemban dan dijadikan sebagai kepemimpinan berpikir umat manusia, maka mereka bisa disatukan dengan ikatan ideologi Islam. Meski mereka tidak memeluk Islam. Uniknya, meski diikat dengan ikatan ideologi Islam, tetapi mereka tetap diberi kebebasan memeluk agama mereka, dan sedikit pun tidak akan diusik. Bahkan, meski mereka bukan Muslim, hak dasar mereka dengan Muslim pun sama. Sandang, papan, pangan, pendidikan, kesehatan dan keamanan, semuanya dijamin oleh negara Khilafah, tanpa melihat agama mereka. Inilah yang menjadi alasan, mengapa Islam telah berhasil mewujudkan persatuan di seluruh wilayah negara Khilafah, yang meliputi tiga benua; Asia, Afrika dan Eropa, meski suku, ras dan agamanya berbeda-beda. Spanyol adalah contohnya. Penganut Islam, Kristen dan Yahudi hidup berdampingan dalam ikatan ideologi Islam lebih dari 800 tahun.Karena itu, dijadikannya ideologi Islam sebagai ikatan dan kepemimpinan berpikir bagi umat manusia di sebuah wilayah, dan seluruh dunia, adalah jaminan terwujudnya persatuan yang hakiki, dan kuat di antara mereka. Meski agama, suku dan rasnya berbeda. Pada saat yang sama, perbedaan agama, suku dan ras ditolelir dan diberi ruang oleh Islam. Mari kita memetik pelajaran dari setiap peristiwa-peristiwa besar di negeri tercinta, Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta