Kemana Mereka Memihak ?
Umat Islam Butuh Khilafah Sebagai Penjaga
Oleh : MihrimaH
Oleh : MihrimaH
Menurut salah satu sumber saat ini
di akhir tahun 2018 di perkirakan jumlah penduduk dunia sekitar 7,8 Miliar dengan total kaum muslim
sekitar 1,5 Miliar, posisi bermukim di berbagai Negara. Negara menurut
Wikipedia adalah sekumpulan orang yang menempati wilayah tertentu dan
diorganisasi oleh pemerintah negara yang sah. Saat berbicara tentang Negara,
maka kita akan berbicara tentang sebuah ikatan yang muncul karena sebab tinggal
di wilayah yang sama yakni ikatan Nasionalisme. Ikatan yang menyatukan beberapa
manusia di bawah wilayah yang sama dan juga membuat beberapa manusia
terpecah-pecah karena perbedaan wilayah. Secara tidak langsung, nasionalisme
membuat sekat karena wilayah.
Hans Kohn, seorang pemikir mentakrifkan nasionalisme sebagai suatu
keadaan pada individu ketika dia merasa bahwa pengabdian yang paling tinggi
adalah untuk bangsa dan tanah air (sumber: http://ms.wikipedia.
org/wiki/Sejarah_Singapura). Dengan kata lain, nasionalisme adalah fahaman yang
mengunggulkan dan mengutamakan rasa dan sifat “kebangsaan” melebihi dari yang
lain. Bagi seorang nasionalis, bangsa
dan tanah air adalah segala-galanya. Tidak ada yang lebih penting dalam hidupnya
kecuali berjuang untuk membela dan memartabatkan bangsa dan tanah airnya.
Sejak berkurun lamanya, nasionalisme telah menghilangkan keprihatinan
umat terhadap satu sama lain sehingga kaum Muslimin menjadi lemah. Padahal umat
Islam di mana pun mereka berada, pada hakikatnya adalah saudara seakidah yang
wajib di ambil peduli dan dibela nasib mereka. Sebut saja tentang Muslim Uighur
yang kini mengalami penyiksaan di kamp konsentrasi.
Namun, menyoroti kabar dari salah satu situs media online bahwa Putra
Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman mendukung pembangunan kamp konsentrasi
untuk Muslim Uighur. Dia mengatakan bahwa tindakan Cina itu dapat dibenarkan.
“Cina memiliki hak untuk melakukan pekerjaan anti-terorisme dan ekstremisme
untuk keamanan nasionalnya,” kata Bin Salman, yang telah berada di China
menandatangani banyak kesepakatan dagang pada Jumat (22/02/2019).
Tercacat hingga kini, bahwa Cina telah menahan sekitar satu juta Muslim
Uighur di kamp konsentrasi, tempat mereka menjalani program pendidikan ulang
yang diklaim sebagai perang melawan ekstremisme. Padahal,Uighur adalah kelompok
etnis Turki yang mempraktikkan Islam dan tinggal di Cina Barat dan sebagian
Asia Tengah. Beijing menuduh minoritas di wilayah Xinjiang Barat itu mendukung
terorisme tanpa ada bukti yang jelas. Kelompok-kelompok Uighur telah meminta
pangeran muda Saudi yang kuat untuk mengangkat perjuangan mereka, karena
kerajaan ultrakonservatif secara tradisional menjadi pembela hak-hak Muslim di
seluruh dunia. Namun para pemimpin Muslim sejauh ini tidak membahas krisis Uighur
dengan Cina dan lebih bersikap cuek dan tidak menanggapi. Karena dalam beberapa
tahun terakhir ini, Cina menjadi mitra dagang penting bagi Timur Tengah. Ada
empat sektor utama investasi Cina di Arab Saudi pada tahun 2016. Sektor pertama
yakni pada bahan kimia. Total investasi Cina mencapai 120 juta dolar AS.
Kemudian, Cina juga berinvestasi di sektor transportasi. Jumlah investasinya
mencapai 180 juta dolar AS. Jumlah yang cukup fantastis dan menggiurkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar