Kamis, 22 Agustus 2019


Kemana Mereka Memihak ?
Umat Islam Butuh Khilafah Sebagai Penjaga
Oleh : MihrimaH
Menurut salah satu sumber saat ini  di akhir tahun 2018 di perkirakan jumlah penduduk dunia  sekitar 7,8 Miliar dengan total kaum muslim sekitar 1,5 Miliar, posisi bermukim di berbagai Negara. Negara menurut Wikipedia adalah sekumpulan orang yang menempati wilayah tertentu dan diorganisasi oleh pemerintah negara yang sah. Saat berbicara tentang Negara, maka kita akan berbicara tentang sebuah ikatan yang muncul karena sebab tinggal di wilayah yang sama yakni ikatan Nasionalisme. Ikatan yang menyatukan beberapa manusia di bawah wilayah yang sama dan juga membuat beberapa manusia terpecah-pecah karena perbedaan wilayah. Secara tidak langsung, nasionalisme membuat sekat karena wilayah.
Hans Kohn, seorang pemikir mentakrifkan nasionalisme sebagai suatu keadaan pada individu ketika dia merasa bahwa pengabdian yang paling tinggi adalah untuk bangsa dan tanah air (sumber: http://ms.wikipedia. org/wiki/Sejarah_Singapura). Dengan kata lain, nasionalisme adalah fahaman yang mengunggulkan dan mengutamakan rasa dan sifat “kebangsaan” melebihi dari yang lain. Bagi seorang  nasionalis, bangsa dan tanah air adalah segala-galanya. Tidak ada yang lebih penting dalam hidupnya kecuali berjuang untuk membela dan memartabatkan bangsa dan tanah airnya.
Sejak berkurun lamanya, nasionalisme telah menghilangkan keprihatinan umat terhadap satu sama lain sehingga kaum Muslimin menjadi lemah. Padahal umat Islam di mana pun mereka berada, pada hakikatnya adalah saudara seakidah yang wajib di ambil peduli dan dibela nasib mereka. Sebut saja tentang Muslim Uighur yang kini mengalami penyiksaan di kamp konsentrasi.
Namun, menyoroti kabar dari salah satu situs media online bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Muhammad bin Salman mendukung pembangunan kamp konsentrasi untuk Muslim Uighur. Dia mengatakan bahwa tindakan Cina itu dapat dibenarkan. “Cina memiliki hak untuk melakukan pekerjaan anti-terorisme dan ekstremisme untuk keamanan nasionalnya,” kata Bin Salman, yang telah berada di China menandatangani banyak kesepakatan dagang pada Jumat (22/02/2019).
Tercacat hingga kini, bahwa Cina telah menahan sekitar satu juta Muslim Uighur di kamp konsentrasi, tempat mereka menjalani program pendidikan ulang yang diklaim sebagai perang melawan ekstremisme. Padahal,Uighur adalah kelompok etnis Turki yang mempraktikkan Islam dan tinggal di Cina Barat dan sebagian Asia Tengah. Beijing menuduh minoritas di wilayah Xinjiang Barat itu mendukung terorisme tanpa ada bukti yang jelas. Kelompok-kelompok Uighur telah meminta pangeran muda Saudi yang kuat untuk mengangkat perjuangan mereka, karena kerajaan ultrakonservatif secara tradisional menjadi pembela hak-hak Muslim di seluruh dunia. Namun para pemimpin Muslim sejauh ini tidak membahas krisis Uighur dengan Cina dan lebih bersikap cuek dan tidak menanggapi. Karena dalam beberapa tahun terakhir ini, Cina menjadi mitra dagang penting bagi Timur Tengah. Ada empat sektor utama investasi Cina di Arab Saudi pada tahun 2016. Sektor pertama yakni pada bahan kimia. Total investasi Cina mencapai 120 juta dolar AS. Kemudian, Cina juga berinvestasi di sektor transportasi. Jumlah investasinya mencapai 180 juta dolar AS. Jumlah yang cukup fantastis dan menggiurkan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta