Kamis, 22 Agustus 2019


Ramadhan di bumi Gaza tanpa Khilafah
Oleh : MihrimaH

Ramadhan yang selalu di nanti kaum muslimin sedunia akhirnya datang kembali. Semua umat muslim menyambut dengan suka cita tak kecuali di bumi Gaza. Namun yang terjadi, justru jauh berbeda dengan Indonesia atau Negara mayoritas muslim lain yang menyambutnya dengan keadaan damai sentosa. Di Gaza yang terlihat hanya ada kerusaman, rumah-rumah runtuh, dan jasad yang tergeletak.
Tepat di tanggal 6 mei kemarin, muslim Gaza memulai puasa mereka di tengah ancaman tembakan roket dan bom yang siap menghadang mereka dimana dan kapan pun.
Tercatat dari sebuah sumber media bahwa di lingkungan Sheikh Zayed, Gaza Utara, setidaknya enam orang meninggal akibat serangan udara yang ditembakkan Israel. Empat apartemen hancur berkeping-keping dan setidaknya 6000 unit rumah rusak parah.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan tiga dari enam korban tewas itu adalah bayi Palestina berusia 14 bulan dan ibunya yang sedang mengandung.
“saya belum pernah melihat gambar yang mengerikan dalam hidup saya daripada yang saya lihat kemarin. Saya melihat tubuh yang tak utuh, tubuh yang terbakar,” kata Ziyad Hammash berusia 60 tahun.
Konflik lintas perbatasan ini bermula dan mulai menghantarkan duka di bumi Gaza, setelah Hamas --organisasi Islam Palestina menembakkan lebih dari 250 roket ke kota-kota dan desa Israel pada Sabtu (4/5), lalu Israel melancarkan serangan balasan dengan tembakan dari tank dan serangan udara yang menewaskan empat warga Palestina.Seketika Gaza porak-poranda. Warga yang saat itu tengah disibukkan dengan aktivitas membeli bahan makanan untuk menyambut Ramadhan pecah oleh serangan dan ledakan.
Hal seperti ini merupakan pemandangan yang kerap di bumi Gaza, penderitaan muslim gaza yang berlangsung di depan mata lewat dunia maya namun tidak ada yg mampu menolong, termasuk para penguasa muslim dengan alasan sekat Negara. Padahal didalam ajaran agama islam semua kaum muslim itu bersaudara.
Dengan adanya kasus seperti ini, tidak sekali dua kali, namun berkali-kali, harusnya menjadi bahan pemikiran penguasa muslim, bahwa ide Nasionalisme dengan sekat Negara merupakan ide yang rusak. Sebuah ide yang tidak berpihak bahkan melanggarkan syariat islam.
Dalam ide nasionalisme , rakyat  mengidentifikasi diri mereka sebagai sebuah bangsa dengan komunitas manusia yang menganggap dirinya satu kesatuan karena kesamaan etnis,sejarah,bahasa,budaya, atau factor pemersatu lain. Ide ini merupakan racun bagi umat islam, membuat umat islam mengalami disorientasi dan lahirnya cikal bakal disintegrasi dan perpecahan umat.
Untuk itu kita butuh pemersatu umat yang akan membela kaum muslimin dimanapun berada tanpa memandang sekat wilayah tertentu dan hal tersebut dapat terwujud didalam naungan Daulah Islam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

twitter

https://twitter.com/tina_mareta