Ramadhan di bumi Gaza tanpa Khilafah
Oleh : MihrimaH
Oleh : MihrimaH
Ramadhan yang selalu di nanti kaum
muslimin sedunia akhirnya datang kembali. Semua umat muslim menyambut dengan suka
cita tak kecuali di bumi Gaza. Namun yang terjadi, justru jauh berbeda dengan
Indonesia atau Negara mayoritas muslim lain yang menyambutnya dengan keadaan
damai sentosa. Di Gaza yang terlihat hanya ada kerusaman, rumah-rumah runtuh,
dan jasad yang tergeletak.
Tepat di tanggal 6 mei kemarin,
muslim Gaza memulai puasa mereka di tengah ancaman tembakan roket dan bom yang
siap menghadang mereka dimana dan kapan pun.
Tercatat dari sebuah sumber media
bahwa di lingkungan Sheikh Zayed, Gaza Utara, setidaknya enam orang meninggal
akibat serangan udara yang ditembakkan Israel. Empat apartemen hancur
berkeping-keping dan setidaknya 6000 unit rumah rusak parah.
Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan tiga
dari enam korban tewas itu adalah bayi Palestina berusia 14 bulan dan ibunya
yang sedang mengandung.
“saya belum pernah melihat gambar
yang mengerikan dalam hidup saya daripada yang saya lihat kemarin. Saya melihat
tubuh yang tak utuh, tubuh yang terbakar,” kata Ziyad Hammash berusia 60 tahun.
Konflik lintas perbatasan ini bermula dan
mulai menghantarkan duka di bumi Gaza, setelah Hamas --organisasi Islam
Palestina menembakkan lebih dari 250 roket ke kota-kota dan desa Israel pada
Sabtu (4/5), lalu Israel melancarkan serangan balasan dengan tembakan dari tank
dan serangan udara yang menewaskan empat warga Palestina.Seketika Gaza
porak-poranda. Warga yang saat itu tengah disibukkan dengan aktivitas membeli
bahan makanan untuk menyambut Ramadhan pecah oleh serangan dan ledakan.
Hal seperti ini merupakan pemandangan yang
kerap di bumi Gaza, penderitaan muslim gaza yang berlangsung di depan mata
lewat dunia maya namun tidak ada yg mampu menolong, termasuk para penguasa
muslim dengan alasan sekat Negara. Padahal didalam ajaran agama islam semua
kaum muslim itu bersaudara.
Dengan adanya kasus seperti ini, tidak
sekali dua kali, namun berkali-kali, harusnya menjadi bahan pemikiran penguasa
muslim, bahwa ide Nasionalisme dengan sekat Negara merupakan ide yang rusak.
Sebuah ide yang tidak berpihak bahkan melanggarkan syariat islam.
Dalam ide nasionalisme , rakyat mengidentifikasi diri mereka sebagai sebuah
bangsa dengan komunitas manusia yang menganggap dirinya satu kesatuan karena
kesamaan etnis,sejarah,bahasa,budaya, atau factor pemersatu lain. Ide ini
merupakan racun bagi umat islam, membuat umat islam mengalami disorientasi dan
lahirnya cikal bakal disintegrasi dan perpecahan umat.
Untuk itu kita butuh pemersatu umat yang
akan membela kaum muslimin dimanapun berada tanpa memandang sekat wilayah
tertentu dan hal tersebut dapat terwujud didalam naungan Daulah Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar